Sebelumnya, dosen Program Studi Teknik Geodesi dan Geomatika Institut Teknologi Bandung (ITB), Heri Andreas, menilai Kabupaten Demak kini menjadi wilayah yang paling mengkhawatirkan dari sisi penurunan muka tanah di pesisir utara Jawa.
Menurut Heri, kenaikan muka air laut akibat perubahan iklim memang terjadi secara global. Namun, dampaknya menjadi jauh lebih parah di wilayah yang juga mengalami penurunan muka tanah akibat eksploitasi air tanah.
Baca juga: Pantura Terancam Tenggelam, Nasib 27 Persen PDB Nasional Dipertaruhkan
Fenomena tersebut terjadi di sejumlah wilayah pesisir Jawa, mulai dari Serang, Jakarta, Semarang, Pekalongan, Demak hingga Probolinggo.
Ia menjelaskan, Jakarta yang sebelumnya mengalami penurunan muka tanah paling parah mulai menunjukkan perbaikan setelah pengambilan air tanah berhasil dikendalikan. Sebaliknya, titik-titik penurunan terbesar kini bergeser ke wilayah Jawa Tengah.
"Semarang dan Pekalongan sudah ada tanggul. Demak baru sedikit. Kalau saya lihat di lapangan, Demak ini yang paling mengkhawatirkan. Penurunan tanahnya rata-rata sekitar 10 sentimeter per tahun," ujar Heri, Sabtu (17/1/2026).
Menurut Heri, pembangunan tanggul laut tetap penting dilakukan. Namun, upaya tersebut harus berjalan beriringan dengan pengendalian penurunan muka tanah agar perlindungan kawasan pesisir dapat bertahan dalam jangka panjang.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya