Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Gelombang Panas Bikin 57 Juta Hektar Hutan Tropis Kehilangan Kemampuan Fotosintesis

Kompas.com, 15 Juli 2026, 18:51 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Suhu bumi yang makin ekstrem membuat pohon-pohon di hutan tropis makin tertekan. Akibatnya, hutan kesulitan melakukan fotosintesis dan kehilangan kemampuan untuk menyerap gas karbon dioksida dari udara.

Fotosintesis sendiri merupakan proses tumbuhan memasak makanannya sendiri, melepas oksigen, dan menyerap karbon dari udara.

Melansir Down to Earth, Senin (13/7/2026) penelitian yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah Proceedings of the National Academy of Sciences ini mencatat bahwa tumbuhan sebenarnya punya batas aman suhu sekitar 15 derajat Celsius untuk bisa berfotosintesis dengan baik. Namun, cuaca ekstrem, kekeringan, dan pemanasan global membuat batas aman tersebut menyusut drastis.

Sama seperti tubuh manusia yang lemas dan tidak bisa bekerja dengan baik saat dilanda gelombang panas, pohon-pohon juga punya batas maksimal saat suhu udara sudah terlalu panas untuk mereka toleransi.

"Di atas suhu kritis tertentu, fotosintesis akan mulai menurun. Hal ini menghambat pertumbuhan tanaman dan meningkatkan risiko kematian pohon," kata para peneliti dalam pernyataannya.

Baca juga: Kabar Baik untuk Bumi, Hutan Mangrove Dunia Mulai Pulih Kembali

Mengukur kemampuan fotosintesis pohon

Dalam penelitian yang dilakukan Institut Teknologi Federal Swiss di Lausanne (EPFL) para peneliti membandingkan data suhu kritis dari 200 jenis pohon dengan data suhu dari satelit yang dikumpulkan di seluruh hutan tropis antara tahun 2001 dan 2020.

Selama dua dekade terakhir, luas hutan tropis yang suhu puncak pohonnya melewati batas aman meningkat dari 43 juta hektar menjadi 57 juta hektar.

Peneliti kemudian memperkirakan bahwa pada tahun 2050, luas hutan tropis yang kepanasan melewati batas kritis bisa melonjak hingga lebih dari 93 juta hektar. Sementara pada tahun 2100, angka ini bisa berlipat ganda menjadi 160 juta hektar.

Penelitian ini termasuk yang pertama kali menggabungkan data batas ketahanan panas dari setiap jenis pohon dengan hasil pantauan satelit skala besar untuk melihat tingkat stres akibat panas di seluruh hutan tropis.

Para penulis mengatakan bahwa meskipun penelitian ini fokus pada hutan tropis, gelombang panas baru-baru ini dilaporkan telah membuat beberapa pohon dan tanaman pertanian di Swiss ikut melewati batas ketahanan panas mereka. Ini menunjukkan bahwa masalah stres akibat panas tidak hanya terjadi di daerah tropis.

"Kita bisa mendeteksi wilayah-wilayah mana saja yang terancam bahaya dan bersiap menghadapi dekade-dekade mendatang," kata Charlotte Grossiord, asisten profesor di Laboratorium Penelitian Ekologi Tanaman yang memimpin penelitian ini.

Dampak stres akibat panas

Para penulis mengatakan bahwa stres akibat panas merusak reaksi kimia di dalam daun dengan cara yang mirip seperti saat panas ekstrem mengganggu fungsi tubuh manusia.

"Ketika daun menjadi terlalu panas, protein yang menggerakkan proses fotosintesis mulai rusak. Akibatnya, pohon menyerap lebih sedikit karbon dioksida dan pertumbuhannya menjadi tidak maksimal," kata Grossiord.

Suhu yang terus meningkat menyebabkan hilangnya beberapa jenis tumbuhan secara lebih drastis.

Peneliti menambahkan bahwa perubahan jenis tanaman di hutan dapat mengganggu keseimbangan ekosistem dan mengurangi keanekaragaman hewan secara keseluruhan. Hal ini bisa memperburuk kemampuan hutan untuk bertahan dari gelombang panas dan kekeringan di masa depan.

Baca juga: El Nino Perparah Degradasi Hutan dan Lahan,

"Hutan tropis adalah salah satu penyerap karbon paling penting di dunia. Ketika kemampuan mereka untuk menyerap karbon dioksida menurun, pemanasan global bisa terjadi lebih cepat. Di saat yang sama, hutan tropis juga akan lebih sedikit melepaskan uap air ke udara, sehingga meningkatkan risiko kekeringan dan cuaca ekstrem di seluruh dunia," para peneliti mengingatkan.

Namun, mereka mencatat bahwa meskipun perubahan iklim terjadi semakin cepat, masih ada ruang bagi beberapa jenis tumbuhan untuk menyesuaikan diri dengan kondisi yang berubah.

"Di dalam hutan yang sama, jenis pohon yang lebih tahan panas mungkin bisa beradaptasi dan akhirnya menggantikan jenis pohon lain yang punah," jelas Grossiord.

Meski begitu, sejauh ini masih belum diketahui seberapa cepat perubahan itu bisa terjadi, dan pada suhu berapa pohon-pohon tersebut benar-benar tidak bisa lagi bertahan hidup.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Pemerintah
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Pemerintah
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total 'Great Barrier Reef' Akibat El Nino
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total "Great Barrier Reef" Akibat El Nino
Pemerintah
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Swasta
PLTS Atap Dinilai Bisa Perkuat Keandalan Listrik, Kebijakan Kuota Diminta Direvisi
PLTS Atap Dinilai Bisa Perkuat Keandalan Listrik, Kebijakan Kuota Diminta Direvisi
LSM/Figur
Area Berisiko Banjir di Kota Semarang Diproyeksikan Bertambah 2.162 Hektare pada 2039
Area Berisiko Banjir di Kota Semarang Diproyeksikan Bertambah 2.162 Hektare pada 2039
LSM/Figur
ITS Kembangkan Teknologi PLTS Terintegrasi, Efisiensi Daya Bisa Naik 750 Persen
ITS Kembangkan Teknologi PLTS Terintegrasi, Efisiensi Daya Bisa Naik 750 Persen
LSM/Figur
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
LSM/Figur
Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir
Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir
LSM/Figur
Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Pemerintah
ICEL: Pengawasan Tambang Rentan Lumpuh Tanpa Transparansi Dokumen Lingkungan
ICEL: Pengawasan Tambang Rentan Lumpuh Tanpa Transparansi Dokumen Lingkungan
LSM/Figur
Demi Kepastian Investasi, ClientEarth dan CPI Dorong Reformasi Regulasi Energi Terbarukan
Demi Kepastian Investasi, ClientEarth dan CPI Dorong Reformasi Regulasi Energi Terbarukan
LSM/Figur
Bezos & DiCaprio Kucurkan Rp3,58 Triliun Selamatkan 100 Spesies Langka
Bezos & DiCaprio Kucurkan Rp3,58 Triliun Selamatkan 100 Spesies Langka
Pemerintah
Pertama di Dunia, Terminal LPG Tanjung Sekong Pertamina Kantongi Sertifikasi Green Terminal
Pertama di Dunia, Terminal LPG Tanjung Sekong Pertamina Kantongi Sertifikasi Green Terminal
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau