Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

BRIN Dorong Pemanfaatan Biomaterial untuk Industri Pertahanan

Kompas.com, 21 Juli 2026, 22:01 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong pemanfaatan biomaterial berbasis keanekaragaman hayati sebagai bahan baku industri pertahanan dan kedirgantaraan.

Pendekatan tersebut dinilai dapat memperkuat kemandirian industri nasional sekaligus mendukung pengembangan ekonomi sirkular.

Kepala BRIN Arif Satria mengatakan Indonesia memiliki kekayaan hayati yang dapat dikembangkan menjadi berbagai biomaterial bernilai tinggi, mulai dari material penyerap gelombang radar hingga komponen perlengkapan pertahanan.

Baca juga: Limbah Tandan Kosong Sawit Berpotensi Jadi Bahan Plafon yang Lebih Kuat dan Murah

Salah satu contohnya ialah biopolimer kitosan yang diekstrak dari limbah cangkang udang untuk material penyerap gelombang radar (radar absorbing material) pada pelapis pesawat tempur.

Contoh lainnya ialah pemanfaatan limbah kelapa sawit sebagai bahan baku perlengkapan keselamatan, seperti helm.

"Ke depan banyak kebutuhan industri pertahanan yang dapat dipenuhi melalui biomaterial. Keanekaragaman hayati Indonesia berpotensi mendukung industri pertahanan, industri kedirgantaraan, dan berbagai sektor lainnya," ujar Arif di Kementerian PPN/Bappenas, Selasa (21/7/2026).

Menurut Arif, biomaterial memiliki keunggulan karena berasal dari sumber daya yang dapat diperbarui (renewable), sehingga lebih berkelanjutan dibandingkan material berbasis sumber daya tak terbarukan.

Untuk mendukung pengembangan biomaterial, BRIN terus memperkuat infrastruktur riset, termasuk melalui fasilitas Cryo-Electron Microscopy (Cryo-EM) yang digunakan untuk penelitian biologi struktural dan molekuler.

Terbuka bagi peneliti

Arif mengatakan fasilitas tersebut terbuka bagi peneliti dan perguruan tinggi yang ingin mengembangkan riset berbasis keanekaragaman hayati.

"Kami mempersilakan mahasiswa maupun peneliti dari berbagai perguruan tinggi memanfaatkan fasilitas riset di BRIN untuk mengembangkan penelitian tentang keanekaragaman hayati Indonesia," ujarnya.

Salah satu contoh pemanfaatan biomaterial untuk industri pertahanan saat ini tengah dikembangkan PT Pindad melalui produksi propelan berbahan baku limbah tandan kosong kelapa sawit.

Direktur Teknologi dan Pengembangan PT Pindad Prima Kharisma mengatakan penelitian yang dimulai sejak 2022 tersebut kini memasuki tahap proyek percontohan.

Baca juga: Pindad Kembangkan Amunisi dari Limbah Kelapa Sawit

Saat ini perusahaan mampu mengolah sekitar 50 ton tandan kosong kelapa sawit per tahun menjadi nitroselulosa sebagai bahan baku utama propelan atau bahan pendorong amunisi.

"Tahun depan harapan kami dapat meningkatkan kapasitas menjadi 1.000 ton per tahun," ujar Prima dalam Pekan Riset Sawit Indonesia 2026, Senin (20/7/2026).

Menurut Prima, pemanfaatan limbah sawit dipilih karena Indonesia masih menghadapi keterbatasan pasokan *cotton linter* atau serat kapas yang selama ini menjadi bahan baku utama industri propelan dunia.

Selain memperkuat kemandirian industri pertahanan, penggunaan limbah sawit juga diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan baku strategis.

Prima mengatakan pengembangan tersebut menjadi semakin penting karena pasokan propelan global masih sangat terbatas. Saat ini hanya terdapat sekitar lima hingga enam produsen besar di dunia yang memproduksi propelan.

Kondisi tersebut diperburuk oleh konflik geopolitik yang menyebabkan harga propelan melonjak dari sekitar 19–20 dollar AS per kilogram sebelum perang Rusia-Ukraina menjadi sekitar 100–140 dollar AS per kilogram setelah konflik di Timur Tengah memanas.

Selain harga yang meningkat tajam, waktu tunggu pengadaan propelan impor juga dapat mencapai empat hingga lima tahun sehingga berpotensi mengganggu ketahanan industri pertahanan nasional.

Meski demikian, PT Pindad masih menghadapi tantangan dalam menjaga konsistensi kualitas bahan baku karena karakteristik limbah tandan kosong kelapa sawit berbeda-beda di setiap pabrik kelapa sawit.

Prima berharap pabrik propelan pertama di Indonesia dapat mulai beroperasi pada semester kedua 2027. Jika target tersebut tercapai, Indonesia berpotensi menjadi negara pertama yang memproduksi propelan berbahan baku limbah tandan kosong kelapa sawit secara komersial.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
BRIN Dorong Pemanfaatan Biomaterial untuk Industri Pertahanan
BRIN Dorong Pemanfaatan Biomaterial untuk Industri Pertahanan
Pemerintah
Filosi Tanam 1.000 Pohon di NTT untuk Hijaukan Kali Liliba
Filosi Tanam 1.000 Pohon di NTT untuk Hijaukan Kali Liliba
Swasta
Menteri LH: Indonesia Masuki Fase Kedua Pembangunan, Bertumpu pada Kredit Karbon
Menteri LH: Indonesia Masuki Fase Kedua Pembangunan, Bertumpu pada Kredit Karbon
Pemerintah
Kereta Hidrogen Komersial Pertama Jepang Siap Meluncur 2027
Kereta Hidrogen Komersial Pertama Jepang Siap Meluncur 2027
Pemerintah
UNU Yogyakarta Buka Beasiswa Kuliah terkait Pembangunan Berkelanjutan
UNU Yogyakarta Buka Beasiswa Kuliah terkait Pembangunan Berkelanjutan
LSM/Figur
Penurunan Angka Kelahiran Bentuk Ulang Transisi Energi Global
Penurunan Angka Kelahiran Bentuk Ulang Transisi Energi Global
Pemerintah
Peneliti Khawatir Suhu Daun Tanaman Naik Lebih Cepat akibat Perubahan Iklim
Peneliti Khawatir Suhu Daun Tanaman Naik Lebih Cepat akibat Perubahan Iklim
LSM/Figur
Limbah Tandan Kosong Sawit Berpotensi Jadi Bahan Plafon yang Lebih Kuat dan Murah
Limbah Tandan Kosong Sawit Berpotensi Jadi Bahan Plafon yang Lebih Kuat dan Murah
LSM/Figur
Gelombang Panas Ancam Stadion, Ahli Dorong Renovasi untuk Hadapi Krisis Iklim
Gelombang Panas Ancam Stadion, Ahli Dorong Renovasi untuk Hadapi Krisis Iklim
Pemerintah
Pindad Kembangkan Amunisi dari Limbah Kelapa Sawit
Pindad Kembangkan Amunisi dari Limbah Kelapa Sawit
BUMN
 Primata Kunci Cegah Kepunahan Massal akibat Perubahan Iklim
Primata Kunci Cegah Kepunahan Massal akibat Perubahan Iklim
Pemerintah
IATA: Penerbangan Ramah Lingkungan Mahal dan Maskapai Tak Sanggup Tanggung Sendiri
IATA: Penerbangan Ramah Lingkungan Mahal dan Maskapai Tak Sanggup Tanggung Sendiri
Pemerintah
Peta Risiko Penyakit Menular Lewat Air Bergeser akibat Perubahan Iklim
Peta Risiko Penyakit Menular Lewat Air Bergeser akibat Perubahan Iklim
LSM/Figur
Pasar Hijau Tembus Rp179,77 Kuadriliun, Asia Makin Dominan
Pasar Hijau Tembus Rp179,77 Kuadriliun, Asia Makin Dominan
Pemerintah
Pertamina Usul Blending SAF 1 Persen Rute Jakarta-Bali, Jaga Keseimbangan Emisi dan Harga Tiket Pesawat
Pertamina Usul Blending SAF 1 Persen Rute Jakarta-Bali, Jaga Keseimbangan Emisi dan Harga Tiket Pesawat
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau