Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Susi Pudjiastuti: Pariwisata Pangandaran Tumbuh, tetapi Ekonomi Perikanan Justru Merosot

Kompas.com, 22 Juli 2026, 18:19 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com – Menteri Kelautan dan Perikanan periode 2014-2019 yang juga Presiden Direktur PT ASI Pudjiastuti Marine Product Susi Pudjiastuti menilai pertumbuhan sektor pariwisata di Kabupaten Pangandaran belum diimbangi dengan upaya menjaga keberlanjutan ekosistem laut yang selama ini menjadi penopang utama ekonomi masyarakat.

Menurut Susi, keberhasilan meningkatkan kunjungan wisatawan dan pendapatan asli daerah (PAD) seharusnya tidak mengabaikan kerugian ekonomi yang timbul akibat menurunnya produksi perikanan.

"Banyak yang bangga karena PAD dari sektor pariwisata mencapai lebih dari Rp 47 miliar. Tetapi, kita kehilangan potensi miliaran rupiah setiap hari dari sektor perikanan karena keberlanjutannya tidak dijaga," ujar Susi dalam Lestari Summit 2026, Rabu (22/7/2026).

Baca juga: Target Investasi Sektor Perikanan Rp 79 T, KKP Janji Permudah Izin

Ia menyebut Kabupaten Pangandaran mencatat sekitar 2,5 juta kunjungan wisatawan sepanjang 2025 sehingga PAD dari sektor pariwisata melampaui target, yakni dari Rp 42 miliar menjadi lebih dari Rp 47 miliar.

Namun, menurut dia, nilai tersebut masih jauh lebih kecil dibandingkan potensi ekonomi yang pernah dihasilkan sektor perikanan ketika kondisi ekosistem laut masih terjaga.

Pernah jadi sentra perikanan ekspor

Susi mengatakan pada periode 1983 hingga 2001 Pangandaran menjadi salah satu sentra perikanan yang mampu memasok sekitar 80 persen kebutuhan lobster untuk pasar Jepang.

Selain itu, hasil tangkapan ikan bawal putih disebut pernah mencapai sekitar 30 ton dalam satu malam, sedangkan produksi udang jerbung berkisar 10 hingga 20 ton per hari.

Menurut Susi, penurunan produksi perikanan dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari berkurangnya stok ikan hingga praktik penangkapan yang dinilai tidak berkelanjutan.

Ia menyoroti penggunaan bagan dengan lampu berintensitas tinggi yang menurutnya mengganggu pola migrasi dan reproduksi ikan sehingga banyak ikan berukuran kecil tertangkap sebelum mencapai usia produktif.

Susi juga mengkritik kebijakan yang kembali memperbolehkan penangkapan benih bening lobster (benur). Menurut dia, kebijakan tersebut berpotensi mengurangi populasi lobster dewasa sekaligus memengaruhi keseimbangan ekosistem laut.

Baca juga: 29 Izin untuk Budidaya Udang, Usaha Perikanan Terkendala Regulasi

Selain aktivitas penangkapan ikan, Susi menilai sejumlah pembangunan infrastruktur di kawasan pesisir juga perlu memperhatikan aspek ekologis.

Ia mencontohkan pembangunan trotoar dan tanggul di kawasan pantai yang, menurutnya, berpotensi mengganggu aliran air dan meningkatkan risiko banjir saat hujan deras.

Susi juga menyoroti keberadaan keramba jaring apung (KJA) di kawasan Pantai Timur Pangandaran yang dinilai dapat mengurangi kenyamanan wisatawan karena berada di area yang selama ini digunakan untuk aktivitas berenang.

Karena itu, ia mendorong pemerintah pusat, pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat menyusun kembali arah pembangunan berbasis alam (*nature-based development*) yang menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dengan pelestarian lingkungan.

Menurut dia, sektor perikanan merupakan sumber daya yang dapat diperbarui apabila dikelola secara berkelanjutan.

Melalui organisasi Pandu Laut, Susi mengatakan pihaknya juga tengah mencari dukungan pendanaan untuk membantu nelayan beralih dari alat tangkap yang dinilai kurang ramah lingkungan ke metode penangkapan yang lebih berkelanjutan.

"Pembangunan tidak harus identik dengan kerusakan lingkungan. Kita perlu mengembalikan kejayaan sektor perikanan agar ekonomi masyarakat tidak hanya bergantung pada sektor pariwisata," ujarnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Susi Pudjiastuti: Pariwisata Pangandaran Tumbuh, tetapi Ekonomi Perikanan Justru Merosot
Susi Pudjiastuti: Pariwisata Pangandaran Tumbuh, tetapi Ekonomi Perikanan Justru Merosot
LSM/Figur
Mari Elka: Indonesia Hadapi 'Perfect Storm', Keberlanjutan Kini Jadi Syarat Bertahan
Mari Elka: Indonesia Hadapi "Perfect Storm", Keberlanjutan Kini Jadi Syarat Bertahan
Pemerintah
AEI: Lebih dari 800 Emiten Sampaikan Laporan Keberlanjutan, Hasil Evaluasi Terbit Juli 2026
AEI: Lebih dari 800 Emiten Sampaikan Laporan Keberlanjutan, Hasil Evaluasi Terbit Juli 2026
Pemerintah
OJK Targetkan Aturan Baru Laporan Keberlanjutan Berstandar Global Terbit pada 2026
OJK Targetkan Aturan Baru Laporan Keberlanjutan Berstandar Global Terbit pada 2026
Pemerintah
Marine-Based Water Security: Saatnya Laut Jadi Sumber Air Bersih Masa Depan
Marine-Based Water Security: Saatnya Laut Jadi Sumber Air Bersih Masa Depan
Pemerintah
IPB University Kirim 125 Peserta Ekspedisi Patriot untuk Dampingi Transmigran
IPB University Kirim 125 Peserta Ekspedisi Patriot untuk Dampingi Transmigran
Pemerintah
Lestari Summit 2026: KG Media Serukan Kolaborasi Lintas Sektor lewat 'The Regenerative Pulse'
Lestari Summit 2026: KG Media Serukan Kolaborasi Lintas Sektor lewat "The Regenerative Pulse"
Swasta
WVI: Penanganan Stunting Tak Cukup dengan Gizi, Akses Air Bersih dan Sanitasi Jadi Kunci
WVI: Penanganan Stunting Tak Cukup dengan Gizi, Akses Air Bersih dan Sanitasi Jadi Kunci
LSM/Figur
Praktik Baik Rumah Maggot, dari Sampah Jadi Penggerak Ekonomi Sirkular
Praktik Baik Rumah Maggot, dari Sampah Jadi Penggerak Ekonomi Sirkular
Swasta
IBCSD: Minimnya Transparansi Risiko Lingkungan Hambat Investasi Berkelanjutan di Indonesia
IBCSD: Minimnya Transparansi Risiko Lingkungan Hambat Investasi Berkelanjutan di Indonesia
Swasta
PBB Soroti Ancaman Sampah Antariksa yang Makin Mengkhawatirkan
PBB Soroti Ancaman Sampah Antariksa yang Makin Mengkhawatirkan
Pemerintah
BRIN Dorong Pemanfaatan Biomaterial untuk Industri Pertahanan
BRIN Dorong Pemanfaatan Biomaterial untuk Industri Pertahanan
Pemerintah
Filosi Tanam 1.000 Pohon di NTT untuk Hijaukan Kali Liliba
Filosi Tanam 1.000 Pohon di NTT untuk Hijaukan Kali Liliba
Swasta
Menteri LH: Indonesia Masuki Fase Kedua Pembangunan, Bertumpu pada Kredit Karbon
Menteri LH: Indonesia Masuki Fase Kedua Pembangunan, Bertumpu pada Kredit Karbon
Pemerintah
Kereta Hidrogen Komersial Pertama Jepang Siap Meluncur 2027
Kereta Hidrogen Komersial Pertama Jepang Siap Meluncur 2027
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau