Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ini Upaya Pertamina Membangun Desa Mandiri Energi

Kompas.com, 24 Juli 2026, 14:48 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com – Ketika banjir dan longsor memutus akses menuju sejumlah wilayah di Sumatera pada akhir 2025, persoalan yang dihadapi masyarakat bukan hanya keterbatasan bahan pangan. Energi juga menjadi kebutuhan yang paling mendesak.

Bahan bakar dibutuhkan untuk kendaraan evakuasi, LPG diperlukan agar dapur umum tetap beroperasi, sementara pasokan listrik menjadi penopang berbagai layanan darurat.

Corporate Secretary PT Pertamina (Persero) Arya Dwi Paramita mengatakan pengalaman tersebut kembali menegaskan bahwa energi merupakan salah satu fondasi utama dalam proses pemulihan pascabencana.

Baca juga: Lestari Kompas Gramedia Beri Edukasi Keberlanjutan di Sekolah Binaan Pertamina

"Inti dari survival adalah energi," ujar Arya dalam Lestari Summit 2026, Rabu (22/7/2026).

Menurut dia, pengalaman menghadapi bencana hidrometeorologi itu juga menjadi alasan Pertamina memilih memperingati hari ulang tahunnya pada Desember lalu melalui operasi kemanusiaan, bukan kegiatan seremonial.

Dalam operasi tersebut, Pertamina bekerja sama dengan TNI dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk mendistribusikan LPG dan memastikan pasokan energi tetap tersedia di wilayah yang akses daratnya terputus.

Ratusan pekerja Pertamina bersama operator SPBU turut membantu menjaga distribusi energi di berbagai titik terdampak. Namun bagi Pertamina, penanganan darurat hanya menjadi langkah awal.

Arya mengatakan tantangan yang lebih besar adalah bagaimana masyarakat tetap memiliki akses terhadap energi ketika harus menghadapi situasi terisolasi akibat bencana.

Berangkat dari kebutuhan tersebut, Pertamina mengembangkan program "Desa Energi Berdikari", sebuah inisiatif yang mendorong masyarakat memanfaatkan sumber energi yang tersedia di lingkungan sekitar.

Hingga kini, program tersebut telah diterapkan di 262 desa di berbagai wilayah Indonesia.

Baca juga: Tak Pakai Tebu, Pertamina Akan Kembangkan Bioetanol dari Sorgum

Berbeda dengan bisnis utama perusahaan yang bergerak di sektor energi, dalam program ini masyarakat justru didorong untuk memanfaatkan energi nonfosil sesuai potensi daerah masing-masing, mulai dari biogas, tenaga surya, mikrohidro, hingga gas metana dari tempat pembuangan akhir.

"Kami tidak mengajarkan mereka menggunakan energi fosil. Yang kami lakukan adalah membantu masyarakat melihat potensi energi yang ada di sekitar mereka sehingga tetap memiliki sumber energi ketika menghadapi situasi darurat," kata Arya.

Mitigasi risiko

Menurut dia, pendekatan tersebut bertujuan membangun ketahanan masyarakat, terutama di daerah yang memiliki risiko tinggi terhadap bencana maupun keterisolasian.

Salah satu contoh penerapan program tersebut berada di Dusun Bondan, Cilacap, Jawa Tengah. Wilayah yang sebelumnya belum terjangkau jaringan listrik kini memanfaatkan panel surya sebagai sumber energi utama.

Ketersediaan listrik tidak hanya memenuhi kebutuhan rumah tangga, tetapi juga dimanfaatkan nelayan untuk mengoperasikan mesin pendingin hasil tangkapan sehingga kualitas ikan dapat dipertahankan lebih lama. Di wilayah yang sama, masyarakat juga mulai memanfaatkan sistem peringatan dini banjir rob berbasis Internet of Things (IoT).

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Suhu Gurun Makin Ekstrem, Unta Mulai Kesulitan Bertahan Hidup
Suhu Gurun Makin Ekstrem, Unta Mulai Kesulitan Bertahan Hidup
Pemerintah
Kemendagri Dorong Pembenahan Tata Kelola Desa untuk Percepat Pengentasan Kemiskinan
Kemendagri Dorong Pembenahan Tata Kelola Desa untuk Percepat Pengentasan Kemiskinan
Pemerintah
Suhu Laut Naik, Kemampuan Padang Lamun Menyimpan Karbon Alami Merosot
Suhu Laut Naik, Kemampuan Padang Lamun Menyimpan Karbon Alami Merosot
Pemerintah
Studi Ungkap 25 Persen Emisi Karbon Sektor Pelayaran Dunia dari Kapal di Sungai
Studi Ungkap 25 Persen Emisi Karbon Sektor Pelayaran Dunia dari Kapal di Sungai
Pemerintah
Dampak Karhutla Tak Cukup Dihitung dari Luas Lahan dan Emisi Karbon
Dampak Karhutla Tak Cukup Dihitung dari Luas Lahan dan Emisi Karbon
LSM/Figur
Emisi Gas Rumah Kaca dari Sawah Dunia Naik 2 Kali Lipat dalam 60 Tahun
Emisi Gas Rumah Kaca dari Sawah Dunia Naik 2 Kali Lipat dalam 60 Tahun
Pemerintah
Cara Mengenalkan Alam Tentukan Respons Anak Terhadap Lingkungan
Cara Mengenalkan Alam Tentukan Respons Anak Terhadap Lingkungan
Pemerintah
Konservasi Spesies Indonesia Tak Cukup Andalkan Data, Perlu Kolaborasi Lintas Pihak
Konservasi Spesies Indonesia Tak Cukup Andalkan Data, Perlu Kolaborasi Lintas Pihak
LSM/Figur
Harga Gandum Terancam Naik 3 Kali Lipat Akibat Perubahan Iklim
Harga Gandum Terancam Naik 3 Kali Lipat Akibat Perubahan Iklim
Pemerintah
Perempuan Timur Indonesia dalam Transisi Energi
Perempuan Timur Indonesia dalam Transisi Energi
Pemerintah
Pertemanan Perempuan di Kantor Berkontribusi pada Stabilitas Perusahaan
Pertemanan Perempuan di Kantor Berkontribusi pada Stabilitas Perusahaan
Pemerintah
Minyak Sawit dari Lahan Bekas Karhutla 2026 Berisiko Tak Bisa Masuk Pasar Eropa
Minyak Sawit dari Lahan Bekas Karhutla 2026 Berisiko Tak Bisa Masuk Pasar Eropa
LSM/Figur
Super El Nino Berpotensi Ubah Pola Cuaca Ekstrem di 12 Kota Besar Asia
Super El Nino Berpotensi Ubah Pola Cuaca Ekstrem di 12 Kota Besar Asia
Pemerintah
Sektor Agribisnis Terancam Rugi Rp112,9 Triliun Akibat Biaya Air Tersembunyi
Sektor Agribisnis Terancam Rugi Rp112,9 Triliun Akibat Biaya Air Tersembunyi
Pemerintah
Cetak Rekor, El Niño Saat Ini Resmi Jadi Yang Terkuat dalam Sejarah
Cetak Rekor, El Niño Saat Ini Resmi Jadi Yang Terkuat dalam Sejarah
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau