JAKARTA, KOMPAS.com – Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat mengatakan perlindungan lingkungan tidak lagi hanya dipandang sebagai kewajiban atau biaya tambahan bagi dunia usaha.
Menurut dia, upaya menjaga ekosistem kini juga dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi melalui bisnis karbon dan biodiversitas.
"Paradigma membangun dengan merusak lingkungan pelan-pelan kita geser. Sekarang pertumbuhan ekonomi juga bisa dicapai melalui pelestarian lingkungan hidup. Salah satunya melalui bisnis karbon dan bisnis biodiversitas," ujar Jumhur dalam Biodiversity Business Forum, Kamis (23/7/2026).
Baca juga: Perdagangan Karbon Berpotensi Jadi Klaster Kejahatan Baru Sektor Kehutanan
Menurut Jumhur, perubahan tersebut menunjukkan bahwa pelestarian lingkungan dapat menciptakan nilai ekonomi sekaligus membuka peluang investasi baru.
Ia mencontohkan restorasi hutan mangrove sebagai salah satu peluang yang dapat menghasilkan manfaat ekonomi melalui perdagangan karbon.
Menurut dia, biaya penanaman dan pemeliharaan mangrove selama tiga tahun diperkirakan mencapai sekitar Rp 200 juta per hektare. Namun, apabila proyek tersebut menghasilkan kredit karbon yang dapat diperdagangkan, nilai ekonominya berpotensi meningkat.
"Begitu masuk dalam perdagangan karbon dan di-offset, nilainya bisa jauh lebih besar. Inilah yang kami maksud sebagai pertumbuhan ekonomi melalui perlindungan lingkungan hidup," kata Jumhur.
Selain memberikan potensi keuntungan bagi pelaku usaha, menurut dia, proyek karbon juga dapat menciptakan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar melalui penyediaan lapangan kerja selama proses restorasi dan pemeliharaan kawasan.
Jumhur juga menjelaskan bahwa skema perdagangan karbon memungkinkan pemegang izin kehutanan memperoleh insentif dari upaya menghindari emisi (*avoided emissions*).
Sebagai contoh, perusahaan yang memiliki hak untuk membuka kawasan hutan, tetapi memilih mempertahankan tutupan hutannya, berpotensi memperoleh kredit karbon dari emisi yang berhasil dihindari.
Baca juga: Ekspansi Pusat Data AI Bikin Emisi Karbon Microsoft Melonjak 25 Persen
"Menjaga hutan tetap berdiri juga memiliki nilai ekonomi melalui mekanisme *avoidance* dalam perdagangan karbon," ujarnya.
Menurut Jumhur, peluang serupa juga terdapat pada sektor pengelolaan sampah. Penutupan tempat pembuangan akhir (*open dumping*) dan pemanfaatan gas metana dapat menghasilkan pengurangan emisi yang kemudian dikonversi menjadi kredit karbon.
Karena itu, ia mendorong pelaku usaha mulai mempersiapkan kapasitas untuk memasuki bisnis berbasis lingkungan.
Jumhur menyarankan perusahaan, baik skala besar maupun kecil, membentuk tim atau divisi yang memahami isu perubahan iklim, perdagangan karbon, dan kredit biodiversitas agar mampu memanfaatkan peluang ekonomi yang berkembang seiring transisi menuju ekonomi rendah karbon.
"Saya ingin pelaku usaha Indonesia menjadi pemain utama dalam bisnis lingkungan ini. Potensinya besar dan kita jangan sampai tertinggal karena tidak memahami mekanismenya," kata Jumhur.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya