Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Peta Global Ungkap Beban Berat Hutan dan Biodiversitas Akibat Tambang

Kompas.com, 27 Juli 2026, 11:23 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Studi baru yang dipimpin oleh para peneliti Jepang dari Tohoku University dan National Institute for Environmental Studies (NIES) mengungkapkan bahwa beberapa jenis mineral penting untuk teknologi ramah lingkungan justru dapat merusak keanekaragaman hayati secara signifikan.

Dengan menganalisis sekitar 70.000 lokasi tambang dari 20 jenis komoditas, studi ini menemukan bahwa aktivitas penambangan telah melenyapkan 16.268 km² hutan antara tahun 2001 hingga 2022.

Sebagian besar kerusakan tersebut terjadi di hutan hujan tropis kawasan Amazon, Asia Tenggara, dan Cekungan Kongo.

Kini, dengan menggunakan citra satelit dan kecerdasan buatan, para ilmuwan berhasil membuat peta global tambang komoditas pertama yang paling lengkap.

Baca juga: Sebanyak 41,5 Juta Hektar Tutupan Hutan Berisiko Mengalami Deforestasi

Melansir Phys, Kamis (23/7/2026) berdasarkan gabungan peta ini dan data publik tentang kerusakan hutan serta risiko kepunahan spesies, mereka mengukur sejauh mana penambangan bahan-bahan tersebut mengubah wajah hutan dan merusak keanekaragaman hayati di seluruh dunia.

Rincian hasil penelitian ini telah diterbitkan dalam jurnal Nature Communications.

"Kemajuan teknologi satelit dan kecerdasan buatan memberi kita cara baru untuk menganalisis dampak tambang secara otomatis di tingkat dunia. Peralihan ke teknologi ramah lingkungan memang meningkatkan permintaan akan jenis mineral baru, tetapi data yang kita miliki saat ini masih belum cukup untuk memahami dampak lingkungannya secara utuh," jelas Keiichiro Kanemoto, profesor madya di Tohoku University sekaligus penulis studi tersebut.

Risiko biodiversitas beda dari kerusakan hutan

Meskipun studi ini menunjukkan bahwa bahan tambang seperti emas dan batu bara masih menjadi penyebab utama penggundulan hutan, gambaran berbeda muncul ketika kita melihat dampaknya pada keanekaragaman hayati.

Mineral energi hijau seperti litium ternyata membawa risiko kerusakan keanekaragaman hayati yang sangat tinggi, meskipun tidak banyak merusak atau menebang pohon di hutan.

Perbedaan ini menunjukkan perubahan yang penting yakni jika tambang tradisional merusak alam lewat penggundulan hutan skala besar, penambangan mineral untuk transisi energi justru merusak lingkungan dengan cara yang lebih halus namun dampaknya sama seramnya bagi ekosistem yang rentan.

Sebagai contoh, penambangan litium di area danau garam dan lahan basah dapat mengganggu ekosistem yang rapuh dan mengancam kepunahan spesies, meskipun secara kasat mata tidak ada hutan yang ditebang.

Menyeimbangkan kebutuhan mineral dan perlindungan alam

Mineral seperti litium, kobalt, dan nikel sangat dibutuhkan untuk baterai mobil listrik serta penyimpan energi terbarukan.

Namun, penambangannya dapat merusak lingkungan secara serius. Temuan ini menegaskan pentingnya menyeimbangkan target penurunan emisi dengan perlindungan keanekaragaman hayati, terutama karena permintaan bahan-bahan ini diprediksi akan terus melonjak dalam beberapa dekade ke depan.

Baca juga: Gelombang Panas Bikin 57 Juta Hektar Hutan Tropis Kehilangan Kemampuan Fotosintesis

Data yang dihasilkan dari penelitian ini pun memberi masukan berharga bagi pembuat kebijakan dan pemimpin industri. Pemerintah bisa menggunakan data ini untuk merancang aturan lingkungan yang lebih tepat sasaran sesuai jenis bahan tambang, sementara perusahaan bisa mengantisipasi perubahan aturan dan menilai risiko dalam rantai pasok mereka.

Dengan mengetahui bahan tambang dan wilayah mana yang paling merusak lingkungan, riset ini membantu pengambilan keputusan yang lebih bijak demi penggunaan sumber daya yang berkelanjutan.

"Penelitian ini merupakan langkah maju yang penting untuk memahami dampak nyata penambangan di tingkat global. Riset ini membuktikan bahwa jalan menuju masa depan yang lebih hijau juga harus memperhitungkan risiko lingkungan tersembunyi dari bahan-bahan yang kita gunakan," tambah Kanemoto.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Rasio SPKLU dan Kendaraan Listrik 1:47, Pemerintah Relaksasi Aturan Investasi Asing
Rasio SPKLU dan Kendaraan Listrik 1:47, Pemerintah Relaksasi Aturan Investasi Asing
Pemerintah
Dekarbonisasi Rantai Nilai, IBC Akan Pasang PLTS Mulai 2027 Saat Daur Ulang Baterai Masih Terkendala Regulasi
Dekarbonisasi Rantai Nilai, IBC Akan Pasang PLTS Mulai 2027 Saat Daur Ulang Baterai Masih Terkendala Regulasi
BUMN
Dekarbonisasi Rantai Nilai, IBC Akan Pasang PLTS Mulai 2027 Saat Daur Ulang Baterai Masih Terkendala Regulasi
Dekarbonisasi Rantai Nilai, IBC Akan Pasang PLTS Mulai 2027 Saat Daur Ulang Baterai Masih Terkendala Regulasi
BUMN
Harita Nickel Turunkan 2.600 Terumbu Buatan di Pesisir Pulau Obi, Datangkan Banyak Jenis Ikan
Harita Nickel Turunkan 2.600 Terumbu Buatan di Pesisir Pulau Obi, Datangkan Banyak Jenis Ikan
Swasta
Sepertiga Sampah Plastik Dunia Tak Terkelola dengan Baik pada 2026
Sepertiga Sampah Plastik Dunia Tak Terkelola dengan Baik pada 2026
Pemerintah
Aksi Terpadu Tangani Iklim dan Polusi Udara Berikan Keuntungan 15 Kali Lipat
Aksi Terpadu Tangani Iklim dan Polusi Udara Berikan Keuntungan 15 Kali Lipat
Pemerintah
Impor Batu Bara Metalurgi Naik, Indonesia Jadi Salah Satu Pendorong Pasar Global
Impor Batu Bara Metalurgi Naik, Indonesia Jadi Salah Satu Pendorong Pasar Global
LSM/Figur
PBB: Kebakaran Hutan dan Gelombang Panas Hambat Perbaikan Kualitas Udara Dunia
PBB: Kebakaran Hutan dan Gelombang Panas Hambat Perbaikan Kualitas Udara Dunia
Pemerintah
Harita Nickel Luncurkan Buku mengenai Pulau Obi dan Keanekaragaman Ikan
Harita Nickel Luncurkan Buku mengenai Pulau Obi dan Keanekaragaman Ikan
Swasta
Dampak El Nino: Terusan Panama Hadapi Krisis Air dan Penurunan Jalur Pelayaran
Dampak El Nino: Terusan Panama Hadapi Krisis Air dan Penurunan Jalur Pelayaran
Pemerintah
Keanekaragaman Pohon Jadi Perisai Hutan Hadapi Krisis Iklim
Keanekaragaman Pohon Jadi Perisai Hutan Hadapi Krisis Iklim
Pemerintah
Perkembangan AI di Asia Pasifik Pesat, tapi Masih Ada Kesenjangan
Perkembangan AI di Asia Pasifik Pesat, tapi Masih Ada Kesenjangan
Pemerintah
Abu Vulkanik Ganggu Proses Fotosintesis Tanaman, Berisiko Gagal Panen Jika Terpapar Terlalu Lama
Abu Vulkanik Ganggu Proses Fotosintesis Tanaman, Berisiko Gagal Panen Jika Terpapar Terlalu Lama
LSM/Figur
Perempuan Makin Didorong Terlibat dalam Transisi Energi Indonesia
Perempuan Makin Didorong Terlibat dalam Transisi Energi Indonesia
LSM/Figur
Cavendish Rentan Penyakit Layu Fusarium, RI Bisa Ubah Pisang Liar Jadi Varietas Unggul Tahan Krisis Iklim
Cavendish Rentan Penyakit Layu Fusarium, RI Bisa Ubah Pisang Liar Jadi Varietas Unggul Tahan Krisis Iklim
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau