KOMPAS.com - Perubahan iklim karena aktivitas manusia telah memperparah kekeringan di seluruh Eropa.
Para ilmuwan internasional menyatakan bahwa kondisi yang sangat kering ini lebih dipicu oleh suhu panas yang ekstrem ketimbang karena curah hujan yang rendah.
Melansir Phys, Kamis (23/7/2026) benua Eropa saat ini sedang dilanda kekeringan hebat. Negara-negara dari Prancis hingga Rumania harus berhadapan dengan sungai yang mengering, pembatasan penggunaan air, serta kebakaran hutan yang merusak setelah gelombang panas bersejarah terjadi pada bulan Juni.
Sebuah penelitian terbaru menemukan bahwa suhu bumi yang makin panas saat ini telah mempercepat penguapan air dari tanah, danau, dan sungai di Eropa, sehingga meningkatkan risiko terjadinya kekeringan yang sangat parah.
Baca juga: Panas Ekstrem Ancam Kesehatan Jantung, Bagaimana Cara Lindungi Diri?
Sebagian besar wilayah Eropa memang mengalami curah hujan di bawah rata-rata selama musim semi. Namun, suhu panas akibat perubahan iklim-lah yang membuat kekeringan ini menjadi jauh lebih parah.
"Secara keseluruhan, hasil penelitian kami menunjukkan bahwa kekeringan ini bukan sekadar cerita tentang kurangnya hujan, melainkan tentang udara yang makin panas sehingga menyedot lebih banyak kelembapan dari daratan," kata Mariam Zachariah, salah satu penulis riset dari kelompok World Weather Attribution.
"Artinya, meskipun di daerah yang curah hujannya tidak banyak berubah atau bahkan diperkirakan bertambah di musim tertentu risiko terjadinya kekeringan akan tetap terus naik," terangnya lagi.
Para ilmuwan menjelaskan bahwa hal ini terjadi karena udara yang lebih panas mampu menampung sekitar 7 persen lebih banyak uap air untuk setiap kenaikan suhu sebesar 1 derajat C.
Suhu Bumi sendiri telah memanas sekitar 1,4 derajat C sejak tahun 1850–1900, terutama akibat pembakaran batu bara, minyak bumi, dan gas.
Para ilmuwan menyebutkan bahwa perubahan iklim membuat bencana yang merusak seperti kekeringan, banjir, dan gelombang panas terjadi lebih sering dan makin parah. Selain itu, Eropa merupakan benua dengan pemanasan paling cepat di dunia.
Layanan Perubahan Iklim Copernicus menyatakan bahwa bulan lalu merupakan bulan Juni terpanas yang pernah tercatat di Eropa Barat, di mana gelombang panas yang sangat parah telah menyebabkan ribuan kematian tambahan.
"Panasnya cuaca begitu parah sampai-sampai daerah yang sempat mengalami musim dingin yang cukup basah pun tetap kering kerontang hanya beberapa bulan setelahnya," kata Dominik Schumacher, salah satu penulis riset dari ETH Zurich.
"Jika udara makin panas, udara itu akan menyedot habis kelembapan tanah hingga kering. Setelah itu, suhu menjadi makin panas lagi, dan tanah pun makin kering," jelasnya.
Baca juga: Gelombang Panas Picu Risiko Ekonomi Struktural di Eropa, Produktivitas Anjlok dan Jam Kerja Diubah
Ia menambahkan bahwa proses pengeringan yang sangat cepat ini juga membuat daratan makin mudah memicu terjadinya kebakaran hutan.
Untuk penelitian ini, para ilmuwan dari Eropa, Amerika Serikat, dan Inggris menggunakan data cuaca serta simulasi komputer untuk membandingkan peristiwa kekeringan di dunia yang panas saat ini dengan kondisi iklim terdahulu yang suhunya 1,4 derajat C lebih sejuk.
Para peneliti menemukan bahwa kondisi tanah yang sangat kering saat ini 5 kali lebih mudah terjadi di Eropa Barat, dan 11 kali lebih mudah terjadi di Eropa Timur, dibandingkan jika dunia tidak mengalami perubahan iklim.
Tingkat daya sedot udara yang sangat tinggi atau kemampuan udara untuk menarik kelembapan dari tanah dan tumbuhan, yang terjadi antara bulan April dan Juni di Eropa Barat, kini 80 kali lebih sering terjadi.
"Karena udara sekarang menjadi jauh lebih 'haus', kekurangan hujan dalam jumlah yang sama yang dulunya mungkin tidak sampai menyebabkan kekeringan kini bisa memicu kekeringan yang jauh lebih parah," kata Zachariah.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya