Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ekonomi Lesu, Rekrutmen Karyawan Keberlanjutan Ternyata Tetap Stabil

Kompas.com, 28 Juli 2026, 19:44 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Berdasarkan survei global terbesar terhadap para praktisi keberlanjutan, perusahaan-perusahaan secara umum tetap mempertahankan investasi mereka di bidang keberlanjutan.

Padahal, saat ini mereka sedang menghadapi tekanan ekonomi dan tantangan politik. Di sisi lain, para pekerja profesional di bidang ini makin sering dihadapkan pada prioritas bisnis yang saling berbenturan serta aturan hukum yang makin rumit.

Hal ini terungkap dalam survei berjudul 2026 Sustainability Census ini diterbitkan oleh perusahaan rekrutmen Acre dan konsultan SLR.

Melansir Eco Business, Senin (27/7/2026) survei melibatkan 2.340 profesional dari 76 negara meningkat jauh dibandingkan survei pertamanya pada tahun 2007 yang hanya diikuti 281 responden dari Inggris.

Hal ini membuktikan betapa pesatnya perkembangan profesi keberlanjutan selama dua dekade terakhir.

Sebagian besar responden survei ini berasal dari negara-negara maju, dengan porsi terbesar di Inggris (40 persen), Amerika Utara (28 persen), dan Eropa daratan (19 persen).

Sementara itu, kawasan Asia-Pasifik menyumbang 7 persen, Afrika dan Timur Tengah 3 persen, serta Amerika Selatan dan Tengah 2 persen.

Baca juga: Studi: Karyawan Proaktif Ber-EQ Tinggi Punya Kinerja Lebih Baik

Kenaikan anggaran keberlanjutan di perusahan

Hampir dua pertiga dari peserta survei mengatakan bahwa anggaran keberlanjutan di tempat kerja mereka meningkat atau tetap sama dalam 12 bulan terakhir, dengan 25 persen di antaranya melaporkan adanya kenaikan anggaran.

Walaupun 27 persen sempat mengalami pemotongan anggaran, temuan ini menunjukkan bahwa sebagian besar organisasi tetap mendukung program keberlanjutan meski sedang menghadapi tekanan biaya.

Pertumbuhan jumlah tim juga cenderung stabil dan tidak mengalami penurunan. Sebanyak 53 persen peserta menyampaikan bahwa ukuran tim mereka relatif tetap selama setahun terakhir, 29 persen melaporkan penambahan anggota tim, dan 17 persen menyebutkan jumlah tim mereka berkurang.

Para peserta menjelaskan bahwa peningkatkan anggaran ini utamanya didorong oleh makin pentingnya strategi keberlanjutan bagi perusahaan, makin banyaknya aturan dan kewajiban pelaporan dari pemerintah, serta investasi pada strategi, alat, dan platform data keberlanjutan yang baru.

Bagi perusahaan yang mengalami pemotongan anggaran, penyebab utamanya adalah penghematan biaya di seluruh area perusahaan, penurunan kinerja bisnis, perubahan prioritas, dan pengurangan jumlah karyawan.

Temuan ini muncul di tengah kondisi perusahaan yang harus mematuhi aturan pelaporan keberlanjutan yang makin rumit, sekaligus menghadapi tantangan politik terhadap program lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG), terutama di Amerika Utara.

Lebih lanjut, menyeimbangkan tujuan keberlanjutan dengan prioritas bisnis lainnya menjadi tantangan terbesar bagi para pekerja di bidang ini ( 59 persen ), disusul oleh rumitnya mengelola aturan hukum yang ada (45 persen). Penolakan berbasis politik dan ideologi juga menjadi isu yang terus berulang, khususnya bagi peserta dari Amerika Utara.

Para peserta menilai komitmen perusahaan mereka terhadap isu keberlanjutan berada di angka rata-rata 7,3 dari 10. Namun, tingkat keyakinan bahwa perusahaan mampu mewujudkan janji-janji publik tersebut lebih rendah, yaitu di angka 6,8. Laporan ini menyebutkan hal itu menunjukkan masih adanya celah nyata antara janji manis dan tindakan di lapangan.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kiriman Sampah dari Hulu Bikin Rehabilitasi Mangrove Jakarta Terus Mengulang dari Nol
Kiriman Sampah dari Hulu Bikin Rehabilitasi Mangrove Jakarta Terus Mengulang dari Nol
LSM/Figur
AYANA: Isu Krisis Iklim Perlu Disampaikan Lewat Budaya dan Ajaran Agama
AYANA: Isu Krisis Iklim Perlu Disampaikan Lewat Budaya dan Ajaran Agama
LSM/Figur
Tak Lagi Bebas Polusi, Plastik Ditemukan di Lapisan Tanah Murni Antartika
Tak Lagi Bebas Polusi, Plastik Ditemukan di Lapisan Tanah Murni Antartika
Pemerintah
Ekonomi Lesu, Rekrutmen Karyawan Keberlanjutan Ternyata Tetap Stabil
Ekonomi Lesu, Rekrutmen Karyawan Keberlanjutan Ternyata Tetap Stabil
Pemerintah
Tanoto Foundation: 'Employability' Mahasiswa Harus Diasah sejak Menempuh Pendidikan Tinggi
Tanoto Foundation: "Employability" Mahasiswa Harus Diasah sejak Menempuh Pendidikan Tinggi
LSM/Figur
Polusi dan Kiriman Sampah Jadi Tantangan Rehabilitasi Mangrove di Jakarta
Polusi dan Kiriman Sampah Jadi Tantangan Rehabilitasi Mangrove di Jakarta
LSM/Figur
Strategi Unilever Bangun Pertumbuhan Berkelanjutan di Tengah Dinamika Pasar
Strategi Unilever Bangun Pertumbuhan Berkelanjutan di Tengah Dinamika Pasar
Swasta
FEM IPB Dorong Solusi Berbasis Alam dan ESG untuk Perkuat Ketahanan Iklim
FEM IPB Dorong Solusi Berbasis Alam dan ESG untuk Perkuat Ketahanan Iklim
Pemerintah
Gelombang Panas Panjang Berisiko Picu Darurat Kesehatan Mental
Gelombang Panas Panjang Berisiko Picu Darurat Kesehatan Mental
LSM/Figur
RI Tetapkan RPPEM Nasional 2026-2055 Jadi Peta Jalan Perlindungan Mangrove
RI Tetapkan RPPEM Nasional 2026-2055 Jadi Peta Jalan Perlindungan Mangrove
LSM/Figur
Pertama Kali, Tesla Tetapkan Target Bebas Emisi pada 2040
Pertama Kali, Tesla Tetapkan Target Bebas Emisi pada 2040
Swasta
Ketika Menjaga Hutan Mampu Membuka Jalan Petani ke Pasar Global...
Ketika Menjaga Hutan Mampu Membuka Jalan Petani ke Pasar Global...
Swasta
Di Balik Pemulihan Pascabencana Sumatera, Ada Upaya Pertamina Membangun Ketangguhan Masyarakat
Di Balik Pemulihan Pascabencana Sumatera, Ada Upaya Pertamina Membangun Ketangguhan Masyarakat
BrandzView
Dampak Perubahan Iklim, Kekeringan di Eropa Diprediksi Kian Parah
Dampak Perubahan Iklim, Kekeringan di Eropa Diprediksi Kian Parah
LSM/Figur
Tantangan Sistem Pendingin Pusat Data: Kenaikan Suhu dan Kelembapan Udara
Tantangan Sistem Pendingin Pusat Data: Kenaikan Suhu dan Kelembapan Udara
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau