Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ekonomi Lesu, Rekrutmen Karyawan Keberlanjutan Ternyata Tetap Stabil

Kompas.com, 28 Juli 2026, 19:44 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Profesi keberlanjutan berkembang pesat

Paul Burke, direktur teknis di SLR, menyampaikan bahwa profesi di bidang ini telah berkembang jauh lebih besar, lebih beragam, dan diisi oleh posisi-posisi yang lebih senior dibanding saat survei pertama kali dibuat. Meski begitu, prioritas utamanya relatif tetap sama.

Baca juga: Kurangi Macet dan Polusi, Astra Ajak Karyawan Gunakan Transportasi Umum

"Lonjakan jumlah peserta hingga delapan kali lipat menunjukkan betapa pesatnya pertumbuhan sektor ini," ujar Burke dalam laporan tersebut.

Keterwakilan perempuan di jajaran pimpinan senior telah meningkat pesat selama dua dekade terakhir. Selain itu, perbedaan gaji antara laki-laki dan perempuan secara global menyempit menjadi 8,6 persen dari yang sebelumnya 14,9 persen pada survei lalu.

Meski begitu, Burke mengingatkan bahwa bidang profesi ini masih harus melangkah lebih jauh.

"Masih banyak yang harus dilakukan dan langkahnya perlu dipercepat. Jika tidak, janji-janji kita tentang kesetaraan di tempat kerja (DEI) akan dianggap cuma omong kosong dan tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan," ujarnya.

Survei ini juga menemukan bahwa para pekerja di bidang keberlanjutan memiliki latar belakang pendidikan yang sangat tinggi, di mana 64 persen di antaranya memegang gelar Magister.

Burke mencatat angka tersebut melonjak dibanding tahun 2007, dan bisa mencapai sekitar 70 persen jika menghitung mereka yang berpendidikan di atas S2. Namun, ia mempertanyakan apakah syarat pendidikan yang makin tinggi ini justru bisa menyulitkan orang baru untuk masuk ke bidang ini.

"Jika gelar S2 mulai jadi syarat wajib, apakah ini tidak berbahaya karena bisa menyulitkan orang untuk masuk dan membatasi pilihan orang-orang berbakat yang ada?" katanya.

Ia juga mempertanyakan apakah tenaga kerja yang makin terspesialisasi ini justru berisiko terlalu fokus pada keahlian teknis keberlanjutan, sampai-sampai melupakan pemahaman bisnis secara umum.

Meskipun aturan dan tata kelola perusahaan telah berubah drastis selama dua dekade terakhir, survei menemukan bahwa para pekerja masih menghabiskan sebagian besar waktu mereka untuk mengurusi masalah yang sama seperti pada studi tahun 2007 lalu. Masalah tersebut meliputi pengurangan emisi karbon, perubahan iklim, dampak sosial, dan pembuatan laporan.

Investasi jangka panjang

Burke menyampaikan bahwa fokus yang terus menerus pada aksi iklim ini mencerminkan kesadaran perusahaan bahwa pengurangan emisi memang membutuhkan investasi jangka panjang yang konsisten.

Namun, ia juga menyebutkan bahwa pesatnya kewajiban pelaporan keberlanjutan makin sering dianggap hanya sekadar formalitas untuk memenuhi aturan, bukan sebagai pendorong perubahan yang nyata.

Baca juga: Survei Deloitte: Kesehatan Mental Jadi Prioritas Utama Pekerja Muda

"Aturan pelaporan yang terus bertambah dan berubah ini, meski membuka banyak lapangan kerja, makin dianggap sebagai beban biaya bisnis semata daripada pemicu perubahan," terangnya.

Survei ini juga menunjukkan bahwa posisi profesi keberlanjutan makin kuat dan diakui di dalam struktur perusahaan.

Jumlah pimpinan tingkat atas (C-suite) yang menggunakan gelar keberlanjutan naik hampir dua kali lipat antara tahun 2024 dan 2026, dari 2,6 persen menjadi 4,4 persen. Sebaliknya, porsi peran di tingkat analis justru menurun dibandingkan dua tahun lalu.

Sementara itu, penggunaan istilah "ESG" terus menurun. Secara global, istilah ESG hanya muncul di 12,5 persen nama jabatan tahun ini, turun dari 15 persen pada tahun 2024.

Istilah "sustainability" kini makin populer dan lebih disukai sebagai istilah umum. Perubahan ini paling terlihat di Amerika Serikat, di mana istilah ESG hanya muncul di 5,6 persen nama jabatan akibat adanya penolakan politik terhadap program-program ESG.

Keinginan untuk berpindah kerja juga tetap tinggi. Hampir 47 persen peserta merencanakan untuk pindah ke perusahaan lain dalam satu tahun ke depan, terutama demi mengejar kemajuan karier dan gaji yang lebih tinggi.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kiriman Sampah dari Hulu Bikin Rehabilitasi Mangrove Jakarta Terus Mengulang dari Nol
Kiriman Sampah dari Hulu Bikin Rehabilitasi Mangrove Jakarta Terus Mengulang dari Nol
LSM/Figur
AYANA: Isu Krisis Iklim Perlu Disampaikan Lewat Budaya dan Ajaran Agama
AYANA: Isu Krisis Iklim Perlu Disampaikan Lewat Budaya dan Ajaran Agama
LSM/Figur
Tak Lagi Bebas Polusi, Plastik Ditemukan di Lapisan Tanah Murni Antartika
Tak Lagi Bebas Polusi, Plastik Ditemukan di Lapisan Tanah Murni Antartika
Pemerintah
Ekonomi Lesu, Rekrutmen Karyawan Keberlanjutan Ternyata Tetap Stabil
Ekonomi Lesu, Rekrutmen Karyawan Keberlanjutan Ternyata Tetap Stabil
Pemerintah
Tanoto Foundation: 'Employability' Mahasiswa Harus Diasah sejak Menempuh Pendidikan Tinggi
Tanoto Foundation: "Employability" Mahasiswa Harus Diasah sejak Menempuh Pendidikan Tinggi
LSM/Figur
Polusi dan Kiriman Sampah Jadi Tantangan Rehabilitasi Mangrove di Jakarta
Polusi dan Kiriman Sampah Jadi Tantangan Rehabilitasi Mangrove di Jakarta
LSM/Figur
Strategi Unilever Bangun Pertumbuhan Berkelanjutan di Tengah Dinamika Pasar
Strategi Unilever Bangun Pertumbuhan Berkelanjutan di Tengah Dinamika Pasar
Swasta
FEM IPB Dorong Solusi Berbasis Alam dan ESG untuk Perkuat Ketahanan Iklim
FEM IPB Dorong Solusi Berbasis Alam dan ESG untuk Perkuat Ketahanan Iklim
Pemerintah
Gelombang Panas Panjang Berisiko Picu Darurat Kesehatan Mental
Gelombang Panas Panjang Berisiko Picu Darurat Kesehatan Mental
LSM/Figur
RI Tetapkan RPPEM Nasional 2026-2055 Jadi Peta Jalan Perlindungan Mangrove
RI Tetapkan RPPEM Nasional 2026-2055 Jadi Peta Jalan Perlindungan Mangrove
LSM/Figur
Pertama Kali, Tesla Tetapkan Target Bebas Emisi pada 2040
Pertama Kali, Tesla Tetapkan Target Bebas Emisi pada 2040
Swasta
Ketika Menjaga Hutan Mampu Membuka Jalan Petani ke Pasar Global...
Ketika Menjaga Hutan Mampu Membuka Jalan Petani ke Pasar Global...
Swasta
Di Balik Pemulihan Pascabencana Sumatera, Ada Upaya Pertamina Membangun Ketangguhan Masyarakat
Di Balik Pemulihan Pascabencana Sumatera, Ada Upaya Pertamina Membangun Ketangguhan Masyarakat
BrandzView
Dampak Perubahan Iklim, Kekeringan di Eropa Diprediksi Kian Parah
Dampak Perubahan Iklim, Kekeringan di Eropa Diprediksi Kian Parah
LSM/Figur
Tantangan Sistem Pendingin Pusat Data: Kenaikan Suhu dan Kelembapan Udara
Tantangan Sistem Pendingin Pusat Data: Kenaikan Suhu dan Kelembapan Udara
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau