KOMPAS.com - Laporan terbaru memperingatkan bahwa perubahan iklim kemungkinan besar akan memperlebar jurang ketimpangan antara negara kaya dan negara miskin.
Saat suhu memanas, orang-orang kaya dapat mengandalkan air conditioning (AC), sementara masyarakat miskin harus menghadapi risiko kematian akibat cuaca panas ekstrem.
Laporan dari Climate Impact Lab menyebutkan bahwa perubahan suhu akibat krisis iklim dapat memicu sekitar 430.000 kematian tambahan setiap tahunnya pada 2050, jika dibandingkan dengan kondisi masa lalu.
Melansir Down to Earth, Senin (27/7/2026) laporan tersebut menekankan pula bahwa jumlah kematian di negara-negara miskin diperkirakan 10 kali lipat lebih banyak daripada di negara-negara kaya.
Temuan ini memperlihatkan betapa tidak meratanya kemampuan antar negara dan masyarakat dalam beradaptasi dengan gelombang panas.
Baca juga: AC Bukan Jawaban Hadapi Ancaman Suhu Bumi yang Kian Memanas
Penggunaan alat pendingin, terutama AC, kini menjadi solusi penting untuk mengurangi risiko kesehatan akibat suhu tinggi. Namun, laporan itu menegaskan bahwa banyak wilayah yang menghadapi suhu panas paling berbahaya justru menjadi tempat yang paling sulit mendapatkan akses listrik yang stabil dan terjangkau.
"AC adalah penyelamat nyawa," kata Michael Greenstone, pendiri Climate Impact Lab sekaligus profesor di University of Chicago.
Namun, ia menjelaskan bahwa banyak negara tidak akan mampu menghadapi lonjakan suhu panas dengan cara yang sama seperti negara-negara kaya.
Laporan tersebut memperkirakan bahwa akibat perubahan iklim, konsumsi listrik untuk alat pendingin ruangan di negara berpenghasilan menengah akan melonjak tujuh kali lipat dibanding di negara berpenghasilan rendah.
Sementara di negara-negara miskin, perkiraan kenaikan penggunaan listrik per orang bahkan hanya cukup untuk menyalakan satu lampu LED selama empat bulan.
Laporan ini mencatat adanya wilayah di 18 negara yang dihuni oleh 676 juta orang menghadapi kondisi berbahaya yang disebut "mortality-cooling trap" atau perangkap kematian akibat krisis pendingin.
Wilayah-wilayah ini menghadapi risiko panas yang sangat tinggi, namun pertumbuhan penggunaan listriknya sangat terbatas. Pada tahun 2050, wilayah-wilayah tersebut diperkirakan akan menyumbang sekitar 377.000 kematian akibat cuaca panas setiap tahunnya.
Sebagian besar dari negara-negara ini berada di wilayah utara Sub-Sahara Afrika, termasuk Niger, Mali, Burkina Faso, dan Chad. Negara lainnya berada di Asia Selatan dan Tenggara, seperti Pakistan, Bangladesh, Nepal, dan Myanmar.
Baca juga: AC Dinginkan Rumah Tapi Lemahkan Komitmen Masyarakat dalam Aksi Iklim
Laporan ini membandingkan kondisi antara Niger dan Arab Saudi. Keduanya sama-sama menghadapi suhu panas yang tinggi, tetapi Arab Saudi jauh lebih siap untuk meningkatkan penggunaan listrik demi pendingin ruangan.
Pada tahun 2050, akibat iklim yang makin panas, masyarakat di Niger diperkirakan akan kehilangan 27.000 nyawa lebih banyak setiap tahunnya dibandingkan dengan Arab Saudi.
Ashwin Rode, peneliti dari Climate Impact Lab, menyampaikan bahwa temuan ini berhasil memetakan wilayah mana saja yang paling terancam bahaya kematian akibat gelombang panas, sekaligus paling tidak mampu menggunakan AC untuk melindungi warganya.
Laporan tersebut menegaskan pula bahwa memperbaiki akses listrik memang sangat penting, tetapi itu saja tidak cukup. Laporan ini mendorong adanya sistem peringatan dini gelombang panas, rencana aksi penanganan panas, perluasan layanan kesehatan, penghijauan kota, serta program bantuan sosial yang tepat sasaran.
Laporan ini juga berargumen bahwa pembenahan pasar listrik harus dianggap sebagai bagian dari upaya penyesuaian terhadap perubahan iklim. Sebab, pasokan listrik yang stabil dan terjangkau akan menentukan seberapa banyak nyawa yang bisa diselamatkan saat suhu bumi makin panas.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya