KOMPAS.com - Konflik bersenjata dan tekanan lingkungan kini mengancam kota-kota kuno, kastil bersejarah, serta salah satu rute migrasi satwa liar terbesar di dunia.
Menanggapi situasi tersebut, badan kebudayaan PBB (UNESCO) pun meresmikan enam lokasi baru ke dalam Daftar Warisan Dunia yang Terancam Bahaya.
Melansir laman resmi United Nations, Senin (27/7/2026) dalam pertemuan di Busan, Korea Selatan, Komite Warisan Dunia memberikan perlindungan darurat kepada tiga lokasi warisan dunia yang baru diresmikan, sekaligus memasukkan tiga lokasi lain yang sudah terdaftar sebelumnya ke dalam daftar bahaya.
UNESCO menyatakan bahwa prosedur darurat ini mencerminkan kondisi dunia yang makin terpengaruh oleh perang, perubahan iklim, serta berbagai krisis lain yang memberikan ancaman serius bagi warisan budaya dan alam yang tak tergantikan.
Baca juga: Perubahan Iklim, Situs Warisan Dunia Terancam Kekeringan atau Banjir
Tiga lokasi baru resmi dimasukkan ke dalam daftar warisan dunia melalui prosedur darurat, lalu langsung ditetapkan ke dalam status terancam bahaya.
Salah satunya adalah Kastil-Kastil Mount Amel di Lebanon selatan, yaitu kumpulan lima benteng bersejarah dari era Perang Salib, Islam, hingga Kesultanan Utsmaniyah (Ottoman).
Meskipun sudah berada di bawah perlindungan khusus hukum kemanusiaan internasional, benteng-benteng ini mengalami kerusakan parah akibat perang yang masih berlangsung.
Menurut Komite, konflik yang terus berlanjut membahayakan kelestarian situs ini secara langsung dan membutuhkan penanganan darurat.
Situs lain yang juga terdaftar secara darurat adalah Sebastia di Tepi Barat yang Diduduki, yang menyimpan sisa-sisa peninggalan arkeologi dari sejarah selama lebih dari 2.000 tahun.
UNESCO menyatakan bahwa situs di Palestina tersebut menghadapi tekanan yang terus meningkat akibat konflik di Timur Tengah, serta dari pembangunan umum dan rencana pembuatan taman nasional yang dapat memecah kawasan tersebut.
Situs darurat ketiga adalah Kawasan Migrasi Boma-Badingilo di Sudan Selatan. Tempat ini merupakan jalur migrasi mamalia darat terbesar di dunia, yang menjadi bukti bahwa krisis kemanusiaan juga mengancam kelestarian alam.
Menurut UNESCO, kawasan tersebut mencerminkan keanekaragaman budaya dan bahasa yang penting di wilayah tersebut, di mana berbagai suku telah menjadi penjaga alam ini melalui kegiatan menggembala, bertani, dan memancing selama berabad-abad bahkan ribuan tahun.
Namun, perburuan liar untuk perdagangan, penyelundupan satwa, pembangunan infrastruktur, serta kondisi keamanan yang tidak stabil membuat ekosistem di sana makin tertekan dan menghambat upaya pelestarian.
Komite UNESCO juga memasukkan tiga situs yang sudah terdaftar sebelumnya ke dalam daftar situs dalam bahaya.
Baca juga: Dampak Perubahan Iklim, 90 Persen Situs UNESCO Terancam Rusak
Di Ukraina, Kota Kuno Tauric Chersonese beserta wilayah sekitarnya (Chora) mengalami kerusakan selama masa pendudukan sementara Krimea oleh Rusia. UNESCO dan Pusat Satelit PBB (UNOSAT) menemukan adanya pembangunan baru dan penggalian skala besar yang mengancam keaslian situs tersebut.
Di Lebanon, kota kuno Tirus (Tyre) dimasukkan ke dalam daftar terancam seiring pertempuran yang terus membahayakan salah satu situs arkeologi terpenting di Laut Tengah.
Di Suriname, Pusat Kota Bersejarah Paramaribo juga dimasukkan ke dalam daftar bahaya setelah proyek-proyek pembangunan baru mengubah tatanan kota bersejarah tersebut secara drastis.
Daftar Warisan Dunia dalam Bahaya milik UNESCO bertujuan untuk menggalang kerja sama internasional dan bantuan teknis bagi lokasi-lokasi yang menghadapi ancaman luar biasa.
Keputusan tahun ini menegaskan satu kenyataan besar bahwa konflik bersenjata, perubahan iklim, dan tekanan pembangunan makin mengancam tidak hanya warisan budaya dan alam, tetapi juga masyarakat, ekosistem, serta sejarah di dalamnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya