Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Konflik dan Krisis Global Ancam Kelestarian Enam Situs Warisan Dunia

Kompas.com, 29 Juli 2026, 15:51 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Konflik bersenjata  dan tekanan lingkungan kini mengancam kota-kota kuno, kastil bersejarah, serta salah satu rute migrasi satwa liar terbesar di dunia.

Menanggapi situasi tersebut, badan kebudayaan PBB (UNESCO) pun meresmikan enam lokasi baru ke dalam Daftar Warisan Dunia yang Terancam Bahaya.

Melansir laman resmi United Nations, Senin (27/7/2026) dalam pertemuan di Busan, Korea Selatan, Komite Warisan Dunia memberikan perlindungan darurat kepada tiga lokasi warisan dunia yang baru diresmikan, sekaligus memasukkan tiga lokasi lain yang sudah terdaftar sebelumnya ke dalam daftar bahaya.

UNESCO menyatakan bahwa prosedur darurat ini mencerminkan kondisi dunia yang makin terpengaruh oleh perang, perubahan iklim, serta berbagai krisis lain yang memberikan ancaman serius bagi warisan budaya dan alam yang tak tergantikan.

Baca juga: Perubahan Iklim, Situs Warisan Dunia Terancam Kekeringan atau Banjir

Warisan budaya di tengah konflik

Tiga lokasi baru resmi dimasukkan ke dalam daftar warisan dunia melalui prosedur darurat, lalu langsung ditetapkan ke dalam status terancam bahaya.

Salah satunya adalah Kastil-Kastil Mount Amel di Lebanon selatan, yaitu kumpulan lima benteng bersejarah dari era Perang Salib, Islam, hingga Kesultanan Utsmaniyah (Ottoman).

Meskipun sudah berada di bawah perlindungan khusus hukum kemanusiaan internasional, benteng-benteng ini mengalami kerusakan parah akibat perang yang masih berlangsung.

Menurut Komite, konflik yang terus berlanjut membahayakan kelestarian situs ini secara langsung dan membutuhkan penanganan darurat.

Situs lain yang juga terdaftar secara darurat adalah Sebastia di Tepi Barat yang Diduduki, yang menyimpan sisa-sisa peninggalan arkeologi dari sejarah selama lebih dari 2.000 tahun.

UNESCO menyatakan bahwa situs di Palestina tersebut menghadapi tekanan yang terus meningkat akibat konflik di Timur Tengah, serta dari pembangunan umum dan rencana pembuatan taman nasional yang dapat memecah kawasan tersebut.

Satwa liar yang terancam

Situs darurat ketiga adalah Kawasan Migrasi Boma-Badingilo di Sudan Selatan. Tempat ini merupakan jalur migrasi mamalia darat terbesar di dunia, yang menjadi bukti bahwa krisis kemanusiaan juga mengancam kelestarian alam.

Menurut UNESCO, kawasan tersebut mencerminkan keanekaragaman budaya dan bahasa yang penting di wilayah tersebut, di mana berbagai suku telah menjadi penjaga alam ini melalui kegiatan menggembala, bertani, dan memancing selama berabad-abad bahkan ribuan tahun.

Namun, perburuan liar untuk perdagangan, penyelundupan satwa, pembangunan infrastruktur, serta kondisi keamanan yang tidak stabil membuat ekosistem di sana makin tertekan dan menghambat upaya pelestarian.

Komite UNESCO juga memasukkan tiga situs yang sudah terdaftar sebelumnya ke dalam daftar situs dalam bahaya.

Baca juga: Dampak Perubahan Iklim, 90 Persen Situs UNESCO Terancam Rusak

Di Ukraina, Kota Kuno Tauric Chersonese beserta wilayah sekitarnya (Chora) mengalami kerusakan selama masa pendudukan sementara Krimea oleh Rusia. UNESCO dan Pusat Satelit PBB (UNOSAT) menemukan adanya pembangunan baru dan penggalian skala besar yang mengancam keaslian situs tersebut.

Di Lebanon, kota kuno Tirus (Tyre) dimasukkan ke dalam daftar terancam seiring pertempuran yang terus membahayakan salah satu situs arkeologi terpenting di Laut Tengah.

Di Suriname, Pusat Kota Bersejarah Paramaribo juga dimasukkan ke dalam daftar bahaya setelah proyek-proyek pembangunan baru mengubah tatanan kota bersejarah tersebut secara drastis.

Daftar Warisan Dunia dalam Bahaya milik UNESCO bertujuan untuk menggalang kerja sama internasional dan bantuan teknis bagi lokasi-lokasi yang menghadapi ancaman luar biasa.

Keputusan tahun ini menegaskan satu kenyataan besar bahwa konflik bersenjata, perubahan iklim, dan tekanan pembangunan makin mengancam tidak hanya warisan budaya dan alam, tetapi juga masyarakat, ekosistem, serta sejarah di dalamnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Siapa Paling Pencemar? Alat Ini Beri Peringkat Emisi dari Pusat Data AI
Siapa Paling Pencemar? Alat Ini Beri Peringkat Emisi dari Pusat Data AI
Pemerintah
Konflik dan Krisis Global Ancam Kelestarian Enam Situs Warisan Dunia
Konflik dan Krisis Global Ancam Kelestarian Enam Situs Warisan Dunia
Pemerintah
Enam Komunitas Agama Bentuk Sekretariat Bersama untuk Perkuat Aksi Iklim
Enam Komunitas Agama Bentuk Sekretariat Bersama untuk Perkuat Aksi Iklim
LSM/Figur
Ketimpangan Iklim: Orang Kaya Nikmati AC, Orang Miskin Terancam Bencana
Ketimpangan Iklim: Orang Kaya Nikmati AC, Orang Miskin Terancam Bencana
Pemerintah
Keadilan Energi Jadi Kunci Mewujudkan Masa Depan Berkelanjutan bagi Generasi Mendatang
Keadilan Energi Jadi Kunci Mewujudkan Masa Depan Berkelanjutan bagi Generasi Mendatang
LSM/Figur
 Pemerintah Siapkan Peta Jalan Pengelolaan Mangrove Nasional hingga 2055
Pemerintah Siapkan Peta Jalan Pengelolaan Mangrove Nasional hingga 2055
Pemerintah
China Targetkan Produksi Energi Terbarukan Naik 50 Persen pada 2030
China Targetkan Produksi Energi Terbarukan Naik 50 Persen pada 2030
Pemerintah
Jurnalisme Berkualitas Kini Jadi Aset Bernilai di Era AI
Jurnalisme Berkualitas Kini Jadi Aset Bernilai di Era AI
Swasta
Kiriman Sampah dari Hulu Bikin Rehabilitasi Mangrove Jakarta Terus Mengulang dari Nol
Kiriman Sampah dari Hulu Bikin Rehabilitasi Mangrove Jakarta Terus Mengulang dari Nol
LSM/Figur
AYANA: Isu Krisis Iklim Perlu Disampaikan Lewat Budaya dan Ajaran Agama
AYANA: Isu Krisis Iklim Perlu Disampaikan Lewat Budaya dan Ajaran Agama
LSM/Figur
Tak Lagi Bebas Polusi, Plastik Ditemukan di Lapisan Tanah Murni Antartika
Tak Lagi Bebas Polusi, Plastik Ditemukan di Lapisan Tanah Murni Antartika
Pemerintah
Ekonomi Lesu, Rekrutmen Karyawan Keberlanjutan Ternyata Tetap Stabil
Ekonomi Lesu, Rekrutmen Karyawan Keberlanjutan Ternyata Tetap Stabil
Pemerintah
Tanoto Foundation: 'Employability' Mahasiswa Harus Diasah sejak Menempuh Pendidikan Tinggi
Tanoto Foundation: "Employability" Mahasiswa Harus Diasah sejak Menempuh Pendidikan Tinggi
LSM/Figur
Polusi dan Kiriman Sampah Jadi Tantangan Rehabilitasi Mangrove di Jakarta
Polusi dan Kiriman Sampah Jadi Tantangan Rehabilitasi Mangrove di Jakarta
LSM/Figur
Strategi Unilever Bangun Pertumbuhan Berkelanjutan di Tengah Dinamika Pasar
Strategi Unilever Bangun Pertumbuhan Berkelanjutan di Tengah Dinamika Pasar
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau