KOMPAS.com - Di berbagai belahan dunia, ratusan ribu orang turun ke jalan untuk melakukan unjuk rasa karena khawatir akan perubahan lingkungan, penderitaan hewan, kerusakan alam, serta lambatnya penanganan krisis iklim.
Namun melansir Phys, Selasa (28/7/2026), demonstrasi itu bisa berubah menjadi aksi protes yang lebih ekstrem dan makin sering terjadi.
Hasil dari studi terbaru dari Flinders University tersebut dipicu oleh meningkatnya kemarahan para aktivis hingga warga biasa yang merasa punya tanggung jawab moral bersama untuk melindungi bumi dan mencegah bencana iklim yang lebih parah.
Aktivisme iklim yang ekstrem ini tetap dilakukan meski berisiko memicu dampak ekonomi.
Beberapa contoh aksinya antara lain pelemparan cat ke lukisan-lukisan berharga di Eropa, menerobos masuk ke rumah potong hewan untuk 'menyelamatkan' ternak, hingga menggelar demonstrasi menolak tambang di jalanan Australia.
Baca juga: Bappenas: Krisis Iklim Bisa Ancam Kedaulatan Negara
"Melihat kelestarian lingkungan atau kesejahteraan hewan sebagai sesuatu yang suci dan wajib dilindung akan memperkuat keyakinan moral seseorang," ujar Dr. Lucy Bird, peneliti dari Flinders University sekaligus penulis utama studi.
"Keyakinan itulah yang mendorong orang-orang untuk terlibat dalam aksi penyelamatan lingkungan sehari-hari hingga tindakan yang lebih ekstrem, terutama ketika mereka tahu orang lain juga memiliki kepedulian yang sama," terangnya lagi.
Oleh karena itu, keyakinan moral masyarakat akan makin kuat saat gerakan penolakan terhadap krisis iklim mendapat dukungan dan dorongan dari aksi-aksi bersama lainnya di seluruh dunia.
"Masyarakat menunjukkan dukungan mereka terhadap isu lingkungan dan keselamatan hewan melalui berbagai cara, mulai dari membagikan unggahan di media sosial dan menandatangani petisi, hingga melakukan aksi pembangkangan sipil dan demonstrasi langsung," kata Bird.
"Aksi-aksi seperti ini kemungkinan besar akan terus berlanjut atau makin meningkat jika tidak ada upaya nyata dan serentak dari dunia internasional untuk memotong emisi serta menghentikan kerusakan pada alam dan hewan," paparnya lagi.
Psikolog sosial dan politik dari Flinders University, Emma Thomas, menambahkan bahwa terbentuknya sudut pandang bersama dalam suatu kelompok sangat dipengaruhi oleh berbagai macam faktor.
Para peneliti menyebutkan bahwa para aktivis terus mengingatkan bahwa jutaan orang kini tewas atau kehilangan tempat tinggal akibat badai, banjir, kebakaran hutan, dan kekeringan parah yang disebabkan oleh perubahan iklim.
Baca juga: Negara Asia-Pasifik Sepakati Peta Jalan Baru Atasi Krisis Iklim
"Masyarakat perlu diberikan ruang untuk berunjuk rasa dan menyampaikan rasa keadilan moral mereka tanpa harus berujung pada aksi kekerasan yang ekstrem," kata Thomas, wakil direktur Jeff Bleich Centre for Democracy and Disruptive Technologies di Flinders University.
Tindakan masyarakat dalam menggelar aksi bersama berdasarkan sudut pandang yang sama sangat bergantung pada rasa keadilan sosial dan identitas diri mereka masing-masing.
"Kita perlu memahami seberapa kuat komitmen atau keyakinan moral seseorang terhadap suatu isu, serta hal apa yang membuat keyakinan itu berubah menjadi aksi yang radikal," tambah Thomas.
Studi ini menilai tanggapan dari lebih dari 580 warga dewasa Australia mengenai situasi di sekitar proyek tambang yang kontroversial di Queensland, serta tanggapan masyarakat terkait isu kesejahteraan hewan secara terpisah.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya