KOMPAS.com - Perusahaan rintisan (startup) teknologi nuklir asal Inggris, Nuclear Turbines, memperoleh pendanaan baru sebesar 20 juta dollar AS atau sekitar Rp 361,3 miliar untuk mengembangkan reaktor modular yang diklaim lebih ringkas, efisien, dan berbiaya lebih rendah dibandingkan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) konvensional.
Startup yang berbasis di Manchester itu merupakan perusahaan spin-off dari BEA Systems dan mengembangkan sistem energi nuklir yang menggabungkan reaktor dengan teknologi turbin gas bersuhu tinggi.
CEO sekaligus pendiri Nuclear Turbines Jeremy Owston mengatakan dana tersebut akan digunakan untuk mempercepat pengembangan teknologi, termasuk memvalidasi desain reaktor dan membangun fasilitas pengujian berskala besar.
"Modal baru tersebut akan digunakan untuk memajukan dan memvalidasi desain reaktor, membangun perangkat uji skala besar, dan memperluas tim seiring perusahaan bersiap memproduksi elemen bahan bakar pertamanya," ujar Jeremy, dikutip dari ESG Today, Rabu (29/7/2026).
Salah satu tantangan utama pembangkit listrik tenaga nuklir konvensional adalah penggunaan sistem turbin uap bertekanan tinggi yang membutuhkan infrastruktur besar sehingga meningkatkan biaya pembangunan maupun operasional.
Nuclear Turbines menawarkan pendekatan berbeda dengan memanfaatkan teknologi turbin gas yang selama ini banyak digunakan pada mesin pesawat maupun pembangkit listrik berbahan bakar gas.
Teknologi tersebut dinilai lebih efisien karena mengubah udara bersuhu tinggi secara langsung menjadi energi sehingga mengurangi kehilangan energi selama proses pembangkitan listrik.
Selama ini, teknologi turbin gas belum dapat diterapkan pada reaktor nuklir karena reaktor konvensional tidak mampu menghasilkan suhu yang cukup tinggi.
Menurut Nuclear Turbines, desain reaktor yang mereka kembangkan memungkinkan pemanfaatan turbin gas secara langsung sehingga dapat mengurangi ukuran pembangkit sekaligus menekan biaya pembangunan.
Dengan menghilangkan kebutuhan terhadap sistem uap berukuran besar, pembangkit nuklir modular tersebut juga dinilai lebih mudah ditempatkan di kawasan industri, fasilitas manufaktur, hingga pusat data yang membutuhkan pasokan listrik stabil.
Putaran pendanaan tersebut dipimpin oleh IQ Capital dengan partisipasi Rhapsody Venture Partners, Zero Carbon Capital, dan Empirical Ventures.
Managing Director IQ Capital Jordan Billiald mengatakan teknologi yang dikembangkan Nuclear Turbines dinilai mampu menjawab tantangan ekonomi dalam pengembangan reaktor modular kecil (*Small Modular Reactor* atau SMR).
Menurut dia, meningkatnya dukungan pemerintah terhadap energi nuklir membuka peluang bagi Inggris untuk memperkuat posisinya dalam pengembangan teknologi nuklir generasi baru.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya