Penulis
KOMPAS.com - Pembangunan ekonomi berkelanjutan di Tanah Papua tidak semata-mata diukur dari infrastruktur fisik atau tingginya angka pertumbuhan ekonomi makro.
Lebih dari itu, fondasi utama keberlanjutan terletak pada ketahanan dan kemandirian ekonomi keluarga di tingkat kampung. Tanpa literasi keuangan kuat dan akses permodalan tepat sasaran, peluang pertumbuhan ekonomi rentan meninggalkan masyarakat lokal di pinggiran.
Menjawab tantangan tersebut, pendekatan pemberdayaan berbasis rumah tangga kini mulai memperkuat kapasitas masyarakat adat dan pelaku usaha mikro di pelosok Papua.
Melalui kolaborasi Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT), International Fund for Agricultural Development (IFAD), dan Kitong Bisa Foundation, sebanyak 1.700 rumah tangga di 79 kampung meliputi Kabupaten Jayapura, Keerom, Sarmi, hingga Kepulauan Yapen didampingi untuk mengelola potensi ekonomi lokal secara mandiri dan berkelanjutan.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perekonomian Provinsi Papua tumbuh 3,97 persen pada 2025, didorong antara lain oleh konsumsi rumah tangga. Namun, pertumbuhan tersebut masih menghadapi tantangan pemerataan.
Di sejumlah wilayah seperti Kabupaten Jayapura, Keerom, Sarmi, dan Kepulauan Yapen, sebagian besar masyarakat masih menggantungkan penghidupan pada sektor pertanian, perikanan, perkebunan, dan usaha mikro berbasis keluarga.
Keterbatasan akses permodalan, rendahnya literasi keuangan, minimnya pendampingan usaha, serta terbatasnya akses pasar masih menjadi tantangan dalam meningkatkan produktivitas dan nilai tambah ekonomi masyarakat.
Sejalan dengan arah tersebut, Kemendes PDT melalui Direktorat Jenderal Pengembangan Ekonomi dan Investasi Desa mendorong pengembangan ekonomi berbasis potensi unggulan desa, peningkatan kapasitas masyarakat, penguatan kelembagaan ekonomi desa, serta perluasan akses terhadap pembiayaan dan pendampingan usaha.
Salah satu implementasinya dilakukan melalui Program Transformasi Ekonomi Kampung Terpadu Perencanaan Berbasis Rumah Tangga (Tekad PBRT) (tekad) yang dikembangkan bersama International Fund for Agricultural Development (IFAD) untuk memperkuat ekonomi masyarakat desa melalui pendekatan pemberdayaan yang berkelanjutan.
TEKAD PBRT menggabungkan pelatihan literasi keuangan, pengembangan kewirausahaan, pendampingan usaha, dan akses permodalan melalui pendekatan Household Management System (HMS) atau Perencanaan Berbasis Rumah Tangga (PBRT).
Setiap keluarga didampingi menyusun perencanaan ekonomi berdasarkan kondisi riil rumah tangga, mulai dari pemetaan pendapatan, pengeluaran, aset, kebutuhan pendidikan anak, hingga penyusunan rencana pengembangan usaha.
Pendekatan tersebut tidak hanya bertujuan meningkatkan akses masyarakat terhadap permodalan, tetapi juga membangun kemampuan mengelola arus kas, menyusun target keuangan, memisahkan keuangan rumah tangga dan usaha, serta mengembangkan usaha sesuai potensi ekonomi lokal.
Dengan demikian, bantuan yang diterima diharapkan mampu berkembang menjadi aset produktif yang memperkuat ketahanan ekonomi keluarga.
Pelatihan dilaksanakan secara interaktif melalui diskusi, simulasi pengelolaan keuangan, penyusunan rencana usaha, serta identifikasi potensi ekonomi keluarga.
Para peserta juga didorong menyampaikan tantangan yang dihadapi sehingga pendampingan dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing kampung.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya