Penulis
Dalam pelaksanaan program tersebut, Anggota Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua Billy Mambrasar turut mendampingi pelatihan bersama para fasilitator Kitong Bisa Foundation.
Pendampingan dilakukan hingga kampung-kampung yang hanya dapat dijangkau melalui perjalanan darat maupun transportasi laut untuk memastikan masyarakat di wilayah terpencil memperoleh kesempatan yang sama dalam meningkatkan kapasitas ekonominya.
Menurut Billy, pembangunan ekonomi Papua memerlukan pendekatan yang tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga pada peningkatan kualitas sumber daya manusia sebagai pelaku utama pembangunan.
"Percepatan pembangunan Papua tidak cukup hanya melalui pembangunan fisik. Yang tidak kalah penting adalah membangun kapasitas manusianya," tegas Billy.
"Ketika keluarga mampu mengelola keuangan dengan baik, menyusun rencana usaha, dan memanfaatkan modal secara produktif, mereka akan menjadi motor penggerak ekonomi di kampungnya masing-masing," lanjutnya.
Dia menilai literasi keuangan menjadi fondasi penting dalam memperkuat ekonomi lokal.
Berdasarkan pendampingan yang dilakukan selama pelaksanaan program, masih banyak pelaku usaha mikro menghadapi kendala dalam menyusun anggaran, mengelola arus kas, memisahkan keuangan usaha dan rumah tangga, hingga merencanakan pengembangan usaha secara berkelanjutan.
"Modal hanyalah salah satu faktor. Yang menentukan keberhasilan usaha adalah kemampuan keluarga mengelolanya," jelas Billy.
"Karena itu pelatihan ini membekali masyarakat menyusun perencanaan ekonomi keluarga, mengatur arus kas, membedakan kebutuhan dan keinginan, hingga mengembangkan usaha sesuai potensi kampung," tambahnya.
Billy berharap pendekatan tersebut mampu memperkuat fondasi ekonomi masyarakat Papua sekaligus mendukung tujuan pembangunan jangka panjang.
"Pembangunan ekonomi Papua tidak bisa hanya diukur dari angka pertumbuhan ekonomi. Yang lebih penting adalah berapa banyak keluarga yang mampu meningkatkan pendapatan, mengembangkan usaha, menyekolahkan anak-anaknya, dan hidup lebih mandiri," tuturnya.
"Ketika semakin banyak rumah tangga naik kelas, dampaknya akan dirasakan oleh kampung, kabupaten, hingga perekonomian Papua secara keseluruhan," pungkasnya.
Ke depan, pendekatan yang mengintegrasikan literasi keuangan, pendampingan usaha, dan akses permodalan diharapkan menjadi salah satu model pemberdayaan ekonomi desa yang memperkuat produktivitas usaha mikro.
Tidak hanya itu, efek lanjutan program ini diharapkanmeningkatkan pendapatan masyarakat, serta mendukung percepatan penurunan kemiskinan dan pembangunan ekonomi yang lebih inklusif di Tanah Papua
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya