"Kalau India, Vietnam, dan Malaysia memiliki energi terbarukan yang lebih banyak, sementara saya ingin membangun industri hijau, tentu saya akan memilih negara yang mampu menyediakan energi bersih. Kita sedang berada dalam sebuah perlombaan," ujarnya.
Selain meningkatkan daya saing industri, Putra menilai transisi energi juga penting untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
Ia mengatakan anggapan bahwa Indonesia harus mencapai ketahanan energi terlebih dahulu sebelum beralih ke energi bersih sudah tidak lagi relevan.
Pasalnya, sekitar 70 persen kebutuhan minyak nasional masih dipenuhi melalui impor sehingga Indonesia tetap menghadapi risiko ketergantungan terhadap pasar energi global.
"Apakah kita benar-benar aman ketika 70 persen minyak kita masih impor? Polusinya tinggi dan uangnya mengalir ke negara lain. Apakah kita aman jika batu bara semakin sulit memperoleh pendanaan?" kata Putra.
Menurut dia, ketahanan energi dan transisi menuju energi bersih kini bukan lagi dua agenda yang terpisah, melainkan saling berkaitan.
Karena itu, Indonesia perlu menjaga momentum transisi energi melalui langkah-langkah yang konsisten agar tidak tertinggal dalam persaingan investasi industri hijau di kawasan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya