Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

BRIN: Penyebab Kematian Massal Ikan di Danau Batur Tidak Tunggal

Kompas.com, 4 Agustus 2026, 16:15 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyatakan kematian massal ikan di Danau Batur, Bali, pada akhir Juli 2026 diduga dipicu oleh kombinasi berbagai faktor, bukan semata-mata akibat semburan belerang seperti yang sempat berkembang di masyarakat.

Berdasarkan hasil pemantauan lapangan, tim peneliti BRIN menemukan indikasi kuat bahwa peristiwa tersebut berkaitan dengan fenomena "pencampuran kolom air danau" (lake mixing), yakni proses alami ketika massa air dari lapisan dasar naik dan bercampur dengan air di permukaan.

Peneliti biogeokimia Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN Sulung Nomosatryo menjelaskan, lapisan dasar Danau Batur secara alami memiliki kandungan oksigen yang rendah akibat proses dekomposisi bahan organik yang berlangsung dalam waktu lama. Pada lapisan tersebut juga terakumulasi senyawa sulfida.

Baca juga: IPB Kembangkan Pupuk Bokashi dari Limbah Rumput Laut dan Jeroan Ikan

Ketika proses pencampuran air terjadi, air dari lapisan bawah yang miskin oksigen naik ke permukaan dan membawa senyawa sulfida ke habitat ikan. Dalam kondisi tertentu, sulfida dapat berubah menjadi hidrogen sulfida yang bersifat sangat beracun bagi ikan.

"Keberadaan bau hidrogen sulfida menunjukkan bahwa air dari lapisan bawah kemungkinan telah terangkat ke permukaan. Namun, kita tidak dapat langsung menyimpulkan bahwa sulfida merupakan penyebab tunggal kematian ikan. Diperlukan analisis laboratorium dan pengkajian terhadap seluruh parameter kualitas air agar penyebab kejadian ini dapat dipahami secara utuh," ujar Sulung, dikutip dari laman resmi BRIN, Senin (3/8/2026).

Saat melakukan pemantauan, tim BRIN juga menemukan kadar oksigen terlarut (*dissolved oxygen*/DO) di permukaan danau turun hingga mendekati **0 miligram per liter (mg/L)**. Kondisi tersebut berlangsung bersamaan dengan munculnya bau hidrogen sulfida yang menandakan air dari lapisan dasar telah naik ke permukaan.

Danau vulkanik kaya sulfur

Peneliti hidrodinamika danau BRIN Arianto Budi Santoso menjelaskan, karakter Danau Batur sebagai danau vulkanik yang berada di sekitar Gunung Batur membuat kandungan senyawa sulfur di dalamnya relatif lebih tinggi dibandingkan banyak danau lainnya.

Pada kondisi tanpa oksigen (*anoksik*), senyawa sulfat di dasar danau berubah menjadi sulfida. Ketika terjadi pencampuran massa air, sulfida tersebut naik ke lapisan yang mengandung oksigen dan kembali teroksidasi menjadi sulfat.

Menurut Arianto, proses oksidasi tersebut turut menghabiskan cadangan oksigen terlarut di dalam danau sehingga memperparah kondisi bagi ikan.

"Berdasarkan hasil penelitian, periode mixing di Danau Batur biasanya terjadi pada bulan Juni hingga Agustus, akhir Desember, dan Februari," kata Arianto.

Temuan tersebut sejalan dengan hasil penelitian BRIN yang telah dipublikasikan di jurnal Inland Waters. Penelitian itu menunjukkan Danau Batur merupakan danau polimiktik, yaitu danau yang mengalami pencampuran massa air beberapa kali dalam setahun.

Penelitian juga menunjukkan bahwa proses oksidasi sulfida, respirasi organisme, serta dekomposisi bahan organik dapat mempercepat penurunan kadar oksigen selama proses pencampuran berlangsung.

Perlu sistem peringatan dini

Meski merupakan fenomena alami, BRIN menilai dampak pencampuran massa air tidak selalu sama pada setiap kejadian. Besarnya dampak dipengaruhi oleh kondisi cuaca, karakteristik fisik danau, kualitas air, hingga kondisi ekosistem saat proses pencampuran berlangsung.

Baca juga: BRIN: Ikan Tuna akan Lebih Mudah Ditangkap saat El Nino Terjadi

Karena itu, BRIN menilai pemantauan kualitas air secara berkelanjutan menjadi langkah penting untuk memahami dinamika Danau Batur. Pemantauan tersebut mencakup pengukuran suhu, kadar oksigen terlarut, parameter meteorologi, hingga profil kualitas air pada berbagai kedalaman.

Data tersebut diharapkan dapat menjadi dasar pengembangan sistem peringatan dini sekaligus mendukung penyusunan kebijakan pengelolaan danau berbasis bukti ilmiah.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Indonesia Siapkan RPP Pengelolaan Sumber Daya Genetik, Kehancuran Ekonomi Jadi Konsekuensi Kerusakan Alam
Indonesia Siapkan RPP Pengelolaan Sumber Daya Genetik, Kehancuran Ekonomi Jadi Konsekuensi Kerusakan Alam
Pemerintah
Dampak Cuaca Panas, Pekerja Perempuan Pekerja Informal Rugi Rp1.009 Triliun Per Tahun
Dampak Cuaca Panas, Pekerja Perempuan Pekerja Informal Rugi Rp1.009 Triliun Per Tahun
LSM/Figur
Merangkul Masyarakat Adat, Garda Terdepan Pencegahan Karhutla
Merangkul Masyarakat Adat, Garda Terdepan Pencegahan Karhutla
LSM/Figur
Tata Guna Lahan Tumpang Tindih Hambat Investasi Perdagangan Karbon di Indonesia
Tata Guna Lahan Tumpang Tindih Hambat Investasi Perdagangan Karbon di Indonesia
Pemerintah
Penyusutan Air Sungai Eropa Ancam Jalur Logistik, Perusahaan Pelayaran Cari Solusi
Penyusutan Air Sungai Eropa Ancam Jalur Logistik, Perusahaan Pelayaran Cari Solusi
Pemerintah
10 Persen Orang Terkaya Picu Kerugian Lingkungan Rp101 Kuadriliun Tiap Tahun
10 Persen Orang Terkaya Picu Kerugian Lingkungan Rp101 Kuadriliun Tiap Tahun
Pemerintah
Uji Gagasan di Desa Binaan Bakti BCA, Gen Z Belajar Beradaptasi dan Mendengar Warga
Uji Gagasan di Desa Binaan Bakti BCA, Gen Z Belajar Beradaptasi dan Mendengar Warga
Swasta
Suhu Gurun Makin Ekstrem, Unta Mulai Kesulitan Bertahan Hidup
Suhu Gurun Makin Ekstrem, Unta Mulai Kesulitan Bertahan Hidup
Pemerintah
Kemendagri Dorong Pembenahan Tata Kelola Desa untuk Percepat Pengentasan Kemiskinan
Kemendagri Dorong Pembenahan Tata Kelola Desa untuk Percepat Pengentasan Kemiskinan
Pemerintah
Suhu Laut Naik, Kemampuan Padang Lamun Menyimpan Karbon Alami Merosot
Suhu Laut Naik, Kemampuan Padang Lamun Menyimpan Karbon Alami Merosot
Pemerintah
Studi Ungkap 25 Persen Emisi Karbon Sektor Pelayaran Dunia dari Kapal di Sungai
Studi Ungkap 25 Persen Emisi Karbon Sektor Pelayaran Dunia dari Kapal di Sungai
Pemerintah
Dampak Karhutla Tak Cukup Dihitung dari Luas Lahan dan Emisi Karbon
Dampak Karhutla Tak Cukup Dihitung dari Luas Lahan dan Emisi Karbon
LSM/Figur
Emisi Gas Rumah Kaca dari Sawah Dunia Naik 2 Kali Lipat dalam 60 Tahun
Emisi Gas Rumah Kaca dari Sawah Dunia Naik 2 Kali Lipat dalam 60 Tahun
Pemerintah
Cara Mengenalkan Alam Tentukan Respons Anak Terhadap Lingkungan
Cara Mengenalkan Alam Tentukan Respons Anak Terhadap Lingkungan
Pemerintah
Konservasi Spesies Indonesia Tak Cukup Andalkan Data, Perlu Kolaborasi Lintas Pihak
Konservasi Spesies Indonesia Tak Cukup Andalkan Data, Perlu Kolaborasi Lintas Pihak
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau