Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sisi Lain Transisi Energi, Ada Jejak Litium di Air Rumah Tangga Selama 15 Tahun

Kompas.com, 4 Agustus 2026, 07:47 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Nature

KOMPAS.com – Di tengah meningkatnya kebutuhan litium untuk mendukung transisi menuju energi bersih, sebuah studi terbaru menemukan paparan logam tersebut secara luas dan terus-menerus dalam air minum rumah tangga di sejumlah komunitas suku di Amerika Serikat (AS) bagian barat.

Temuan ini menjadi perhatian karena permintaan litium diperkirakan meningkat hingga enam kali lipat pada 2050 seiring berkembangnya industri baterai kendaraan listrik dan sistem penyimpanan energi terbarukan.

Di sisi lain, dampak kesehatan dari paparan litium jangka panjang melalui air minum hingga kini masih belum dipahami secara menyeluruh.

Baca juga: ESI: Indonesia Tak Lagi Punya Pilihan Selain Percepat Transisi Energi

Penelitian yang dilakukan Columbia University Mailman School of Public Health itu menemukan bahwa konsentrasi litium dalam air minum rumah tangga berkaitan erat dengan kadar litium dalam urin warga, yang menunjukkan adanya paparan lingkungan secara berkelanjutan.

"Temuan kami menyoroti perlunya pemantauan lingkungan dan evaluasi risiko yang berkelanjutan, terutama karena ekstraksi dan pengolahan litium semakin cepat untuk memenuhi permintaan energi yang terus meningkat," ujar penulis utama studi sekaligus mahasiswa doktoral Ilmu Kesehatan Lingkungan Columbia Mailman School of Public Health, Ellen Bannon, dikutip dari laman resmi Columbia University Irving, Sabtu (1/8/2026).

Paparan berlangsung hingga belasan tahun

Dalam penelitian tersebut, tim peneliti menganalisis sampel air keran dari 673 rumah tangga dan sampel urin dari 613 peserta Strong Heart Family Study yang tinggal di komunitas suku di Arizona, Oklahoma, serta North Dakota dan South Dakota.

Sampel air dikumpulkan pada periode 2022–2024, kemudian dibandingkan dengan data biomonitoring urin yang telah dikumpulkan dari peserta yang sama selama sekitar 15 tahun.

Hasil penelitian menunjukkan kadar litium dalam urin peserta relatif stabil sepanjang periode pengamatan. Temuan ini mengindikasikan bahwa paparan litium berlangsung secara terus-menerus dalam jangka panjang.

Tim peneliti juga menemukan hubungan yang kuat antara kadar litium dalam air minum rumah tangga dengan kadar litium dalam urin. Air minum diperkirakan menjelaskan sekitar 29 persen variasi konsentrasi litium dalam urin para peserta.

Penelitian mencatat rata-rata konsentrasi litium dalam air minum rumah tangga mencapai 35,6 mikrogram per liter.

Baca juga: Bappenas: Transisi Energi Kunci Membangun Indonesia Emas 2045

Di Arizona, seluruh sampel air yang diuji memiliki kadar litium di atas tingkat skrining berbasis kesehatan yang digunakan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), yaitu 10 mikrogram per liter.

Sementara itu, sekitar 93 persen sampel di North Dakota dan South Dakota serta 35 persen sampel di Oklahoma juga melampaui ambang tersebut.

Peserta yang tinggal di wilayah dengan kadar litium lebih tinggi secara konsisten memiliki konsentrasi litium urin yang lebih tinggi. Temuan ini memperkuat penggunaan litium dalam urin sebagai biomarker untuk mengukur paparan lingkungan.

Selain itu, peneliti menemukan bahwa meskipun konsumsi air minum kemasan berkaitan dengan kadar litium urin yang lebih rendah, lokasi geografis tetap menjadi faktor paling dominan yang memengaruhi tingkat paparan.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Cara Mengenalkan Alam Tentukan Respons Anak Terhadap Lingkungan
Cara Mengenalkan Alam Tentukan Respons Anak Terhadap Lingkungan
Pemerintah
Konservasi Spesies Indonesia Tak Cukup Andalkan Data, Perlu Kolaborasi Lintas Pihak
Konservasi Spesies Indonesia Tak Cukup Andalkan Data, Perlu Kolaborasi Lintas Pihak
LSM/Figur
Harga Gandum Terancam Naik 3 Kali Lipat Akibat Perubahan Iklim
Harga Gandum Terancam Naik 3 Kali Lipat Akibat Perubahan Iklim
Pemerintah
Perempuan Timur Indonesia dalam Transisi Energi
Perempuan Timur Indonesia dalam Transisi Energi
Pemerintah
Pertemanan Perempuan di Kantor Berkontribusi pada Stabilitas Perusahaan
Pertemanan Perempuan di Kantor Berkontribusi pada Stabilitas Perusahaan
Pemerintah
Minyak Sawit dari Lahan Bekas Karhutla 2026 Berisiko Tak Bisa Masuk Pasar Eropa
Minyak Sawit dari Lahan Bekas Karhutla 2026 Berisiko Tak Bisa Masuk Pasar Eropa
LSM/Figur
Super El Nino Berpotensi Ubah Pola Cuaca Ekstrem di 12 Kota Besar Asia
Super El Nino Berpotensi Ubah Pola Cuaca Ekstrem di 12 Kota Besar Asia
Pemerintah
Sektor Agribisnis Terancam Rugi Rp112,9 Triliun Akibat Biaya Air Tersembunyi
Sektor Agribisnis Terancam Rugi Rp112,9 Triliun Akibat Biaya Air Tersembunyi
Pemerintah
Cetak Rekor, El Niño Saat Ini Resmi Jadi Yang Terkuat dalam Sejarah
Cetak Rekor, El Niño Saat Ini Resmi Jadi Yang Terkuat dalam Sejarah
Pemerintah
Tekan Risiko Kebakaran Gambut, Sinergi Lintas Sektor di Cengal Diperkuat
Tekan Risiko Kebakaran Gambut, Sinergi Lintas Sektor di Cengal Diperkuat
Pemerintah
Pulihkan Pelayanan Pascabencana Sumatera, Kemendagri Konsolidasi Satu Data Desa
Pulihkan Pelayanan Pascabencana Sumatera, Kemendagri Konsolidasi Satu Data Desa
Pemerintah
APBN Harus Punya Alokasi Khusus Pemulihan dan Penanggulangan Bencana Iklim
APBN Harus Punya Alokasi Khusus Pemulihan dan Penanggulangan Bencana Iklim
LSM/Figur
Pemerintah Bersama Mercy Corps dan DBS Foundation Perkuat Literasi Finansial bagi Perempuan Pemilik UMKM
Pemerintah Bersama Mercy Corps dan DBS Foundation Perkuat Literasi Finansial bagi Perempuan Pemilik UMKM
Pemerintah
Dampak Ekspansi Panel Surya China, Keanekaragaman Burung Turun
Dampak Ekspansi Panel Surya China, Keanekaragaman Burung Turun
Pemerintah
Dari Limbah Jadi Material Masa Depan, MYCL dan Parongpong Bangun Ekonomi Sirkular
Dari Limbah Jadi Material Masa Depan, MYCL dan Parongpong Bangun Ekonomi Sirkular
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau