KOMPAS.com – Di tengah meningkatnya kebutuhan litium untuk mendukung transisi menuju energi bersih, sebuah studi terbaru menemukan paparan logam tersebut secara luas dan terus-menerus dalam air minum rumah tangga di sejumlah komunitas suku di Amerika Serikat (AS) bagian barat.
Temuan ini menjadi perhatian karena permintaan litium diperkirakan meningkat hingga enam kali lipat pada 2050 seiring berkembangnya industri baterai kendaraan listrik dan sistem penyimpanan energi terbarukan.
Di sisi lain, dampak kesehatan dari paparan litium jangka panjang melalui air minum hingga kini masih belum dipahami secara menyeluruh.
Baca juga: ESI: Indonesia Tak Lagi Punya Pilihan Selain Percepat Transisi Energi
Penelitian yang dilakukan Columbia University Mailman School of Public Health itu menemukan bahwa konsentrasi litium dalam air minum rumah tangga berkaitan erat dengan kadar litium dalam urin warga, yang menunjukkan adanya paparan lingkungan secara berkelanjutan.
"Temuan kami menyoroti perlunya pemantauan lingkungan dan evaluasi risiko yang berkelanjutan, terutama karena ekstraksi dan pengolahan litium semakin cepat untuk memenuhi permintaan energi yang terus meningkat," ujar penulis utama studi sekaligus mahasiswa doktoral Ilmu Kesehatan Lingkungan Columbia Mailman School of Public Health, Ellen Bannon, dikutip dari laman resmi Columbia University Irving, Sabtu (1/8/2026).
Dalam penelitian tersebut, tim peneliti menganalisis sampel air keran dari 673 rumah tangga dan sampel urin dari 613 peserta Strong Heart Family Study yang tinggal di komunitas suku di Arizona, Oklahoma, serta North Dakota dan South Dakota.
Sampel air dikumpulkan pada periode 2022–2024, kemudian dibandingkan dengan data biomonitoring urin yang telah dikumpulkan dari peserta yang sama selama sekitar 15 tahun.
Hasil penelitian menunjukkan kadar litium dalam urin peserta relatif stabil sepanjang periode pengamatan. Temuan ini mengindikasikan bahwa paparan litium berlangsung secara terus-menerus dalam jangka panjang.
Tim peneliti juga menemukan hubungan yang kuat antara kadar litium dalam air minum rumah tangga dengan kadar litium dalam urin. Air minum diperkirakan menjelaskan sekitar 29 persen variasi konsentrasi litium dalam urin para peserta.
Penelitian mencatat rata-rata konsentrasi litium dalam air minum rumah tangga mencapai 35,6 mikrogram per liter.
Baca juga: Bappenas: Transisi Energi Kunci Membangun Indonesia Emas 2045
Di Arizona, seluruh sampel air yang diuji memiliki kadar litium di atas tingkat skrining berbasis kesehatan yang digunakan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), yaitu 10 mikrogram per liter.
Sementara itu, sekitar 93 persen sampel di North Dakota dan South Dakota serta 35 persen sampel di Oklahoma juga melampaui ambang tersebut.
Peserta yang tinggal di wilayah dengan kadar litium lebih tinggi secara konsisten memiliki konsentrasi litium urin yang lebih tinggi. Temuan ini memperkuat penggunaan litium dalam urin sebagai biomarker untuk mengukur paparan lingkungan.
Selain itu, peneliti menemukan bahwa meskipun konsumsi air minum kemasan berkaitan dengan kadar litium urin yang lebih rendah, lokasi geografis tetap menjadi faktor paling dominan yang memengaruhi tingkat paparan.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya