Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Suhu Ekstrem dan Kekeringan Ancam Sektor Energi Nuklir Eropa

Kompas.com, 3 Agustus 2026, 20:19 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Gelombang panas ekstrem di Eropa yang dipicu oleh perubahan iklim mulai mengganggu sumber energi nuklir di benua tersebut, setelah sebelumnya menimbulkan kerusakan parah akibat kebakaran hutan dan kekeringan.

Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Hungaria dan Rumania harus dihentikan operasinya setelah permukaan air sungai Danube yang melintasi dua negara tersebut merosot ke titik terendah yang pernah tercatat sejak 30 tahun lalu.

Melansir Down to Earth, Jumat (31/7/2026) Perdana Menteri Péter Magyar Hungaria, menyatakan bahwa satu-satunya PLTN di negara tersebut terpaksa harus dimatikan total untuk pertama kalinya akibat rekor terendah pada permukaan air Sungai Danube.

Baca juga: Di Tengah Krisis Iklim, Perusahaan Energi Fosil Diproyeksikan Cetak Rekor Laba

PLTN Paks dibangun pada era Uni Soviet dan mengandalkan air Sungai Danube untuk sistem pendinginnya. Namun karena permukaan air sungai sudah turun sangat drastis, mesin pompa kini tidak mampu lagi menyedot air tersebut.

Akibatnya, pasokan energi di Hungaria bisa berada dalam kondisi kritis mulai 3 Agustus akibat berhentinya operasional PLTN Paks dan gelombang panas yang masih berlangsung, di mana suhu diperkirakan akan bertahan di sekitar 37 derajat C selama sepekan.

Perdana Menteri meminta warga Hungaria untuk membatasi kegiatan yang membutuhkan banyak listrik pada jam-jam sibuk yakni pukul 17.00 hingga 22.00, termasuk mengisi daya mobil listrik dan menggunakan pendingin ruangan.

Rumania, yang menjadi lokasi muara sungai Danube juga terpaksa mematikan satu dari dua reaktor nuklirnya di PLTN Cernavoda, yang selama ini menyumbang sekitar 20 persen kebutuhan listrik negara tersebut.

Reaktor tersebut telah dimatikan awal pekan ini. Jika reaktor yang tersisa juga ikut dimatikan, Rumania tidak akan memiliki produksi energi nuklir sama sekali, sama seperti Hungaria.

Sementara itu, di wilayah barat benua Eropa, Prancis terpaksa mematikan reaktor nuklir Golfech-2 yang berada di tepi Sungai Garonne yang di wilayah barat daya Prancis, yang pekan lalu juga dilanda kebakaran hutan hebat.

Perusahaan listrik milik pemerintah Prancis, Électricité de France SA, tetap mematikan reaktor Golfech-2 tersebut di tengah gelombang panas yang masih melanda Eropa.

Banyak PLTN di Prancis yang bergantung pada air sungai untuk mendinginkan mesin, sebelum mengalirkan air yang sudah hangat tersebut kembali ke sungai.

Namun, aturan lingkungan membatasi pembuangan air hangat itu jika suhu sungai sudah telanjur tinggi. Akibatnya, reaktor nuklir terpaksa menurunkan jumlah produksi listriknya.

Baca juga: Kapasitas Nuklir Dunia Diprediksi Bertumbuh pada 2050

Uni Eropa sendiri berharap dapat mengakhiri ketergantungannya pada impor energi dari Rusia melalui rencana strategis bernama REPowerEU. Rencana kerja ini menargetkan penghentian penggunaan gas dan minyak bumi dari Rusia, serta mengganti bahan bakar nuklir asal negara tersebut.

Di bawah rencana ini, Uni Eropa berniat mengganti pasokan uranium dan bahan bakar reaktor asal Rusia yang digunakan pada reaktor buatan era Soviet dengan pemasok dari Eropa dan negara-negara Barat lainnya. Uni Eropa juga berniat menghentikan kontrak pembelian baru untuk bahan nuklir asal Rusia melalui Badan Pasokan Euratom.

Namun, mengingat Eropa adalah benua dengan kenaikan suhu tercepat dan perubahan iklim makin sering memicu bencana cuaca ekstrem seperti kebakaran hutan dan kekeringan, rencana Uni Eropa untuk lepas dari ketergantungan energi Rusia ini menjadi sangat diragukan.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Transformasi Embung Doho Wonogiri, Dari Infrastruktur Irigasi menjadi Destinasi Wisata
Transformasi Embung Doho Wonogiri, Dari Infrastruktur Irigasi menjadi Destinasi Wisata
Pemerintah
Biaya Kerusakan Iklim Melonjak 4 Kali Lipat Jika Batas Suhu 1,5 Derajat C Terlampaui
Biaya Kerusakan Iklim Melonjak 4 Kali Lipat Jika Batas Suhu 1,5 Derajat C Terlampaui
Pemerintah
Coca-Cola Perkuat Tata Kelola Sumber Daya Air di Sejumlah Daerah
Coca-Cola Perkuat Tata Kelola Sumber Daya Air di Sejumlah Daerah
Swasta
Elektrifikasi Dorong Permintaan Listrik, Energi Terbarukan Jadi Kunci
Elektrifikasi Dorong Permintaan Listrik, Energi Terbarukan Jadi Kunci
Swasta
Universitas Pattimura Dorong Digitalisasi Musik Ambon untuk Perkuat Hak Cipta
Universitas Pattimura Dorong Digitalisasi Musik Ambon untuk Perkuat Hak Cipta
LSM/Figur
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Lapisan Es Antarktika Terus Meleleh Sepanjang Abad meski Emisi Dipangkas
Pemerintah
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
PBB: Panas Ekstrem Ancam Keselamatan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
Pemerintah
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
Pemerintah
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Swasta
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Pemerintah
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
LSM/Figur
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Pemerintah
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
LSM/Figur
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Pemerintah
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau