Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Potensi Jutaan Lapangan Kerja Baru Green Job untuk Talenta dari Berbagai Disiplin Ilmu, Apa yang Dibutuhkan Industri?

Kompas.com, 4 Agustus 2026, 17:03 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Transisi menuju ekonomi rendah karbon membuka peluang besar bagi Indonesia untuk menciptakan jutaan lapangan kerja baru.

Namun, peluang tersebut dinilai hanya dapat dimanfaatkan apabila ketersediaan tenaga kerja mampu mengikuti kebutuhan industri yang semakin menuntut kompetensi di bidang keberlanjutan.

Pemerintah telah menjadikan pengembangan green jobs atau pekerjaan hijau sebagai salah satu prioritas dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029.

Direktur Ketenagakerjaan Kementerian PPN/Bappenas Nur Hygiawati Rahayu mengatakan, pemerintah tengah menyiapkan peta jalan pengembangan green jobs yang mencakup penguatan sisi penyediaan tenaga kerja (supply) melalui penyelarasan pendidikan, pelatihan, dan standar kompetensi, serta sisi permintaan (demand) melalui berbagai kebijakan yang mendorong terciptanya lapangan kerja hijau.

Baca juga: Sun Energy Gandeng UI Tingkatkan Kompetensi Mahasiswa dalam Green Job Energi Surya

Namun, menurut Nur, transformasi tersebut tidak dapat dilakukan pemerintah sendiri.

"Kolaborasi dengan dunia usaha, institusi pendidikan, dan mitra pembangunan menjadi kunci dalam menyiapkan talenta yang dibutuhkan untuk mendukung transisi menuju ekonomi hijau," ujar Nur.

Potensi penciptaan lapangan kerja hijau sejalan dengan proyeksi BloombergNEF yang memperkirakan jalur menuju net zero emission di Indonesia dapat menarik investasi hingga 3,8 triliun dollar AS atau sekitar Rp 68.540 triliun sampai 2050. Investasi tersebut diperkirakan mampu menciptakan sekitar 1,3 juta pekerjaan langsung di sektor energi terbarukan.

Industri kesulitan mencari talenta

Meski prospeknya terus meningkat, ketersediaan tenaga kerja dengan keterampilan hijau masih menjadi tantangan.

Laporan LinkedIn Green Skills Report 2025 menunjukkan bahwa talenta yang memiliki green skills direkrut 46,6 persen lebih tinggi dibandingkan rata-rata perekrutan lintas sektor. Angka tersebut mencerminkan tingginya kebutuhan industri terhadap kompetensi keberlanjutan.

Di sisi lain, studi Koaksi Indonesia (2026) menemukan fenomena "tenaga kerja siap, tetapi sulit direkrut." Banyak lulusan memiliki latar belakang pendidikan yang sesuai, namun belum memenuhi kebutuhan industri karena minim pengalaman praktis, keterampilan teknis, maupun sertifikasi yang dipersyaratkan.

Founder sekaligus Technical and Business Development Director Dassa Corp Haryo Ajie Dewanto mengatakan, industri tidak hanya membutuhkan tenaga kerja dengan kemampuan teknis, tetapi juga individu yang mampu beradaptasi dan terus belajar.

"Yang kami butuhkan bukan hanya kemampuan teknis, tetapi juga kemauan untuk terus belajar, siap bekerja bersama masyarakat, dan mampu melihat tantangan lokal dengan perspektif global. Itulah fondasi untuk membangun solusi sustainability yang berdampak," ujarnya.

Baca juga: Sisi Lain Transisi Energi, Ada Jejak Litium di Air Rumah Tangga Selama 15 Tahun

Menurut Ajie, proyek-proyek keberlanjutan yang dikembangkan perusahaan saat ini selalu mengintegrasikan tiga aspek utama, yakni iklim (climate), pemberdayaan masyarakat (community), dan keanekaragaman hayati (biodiversity).

Kompetensi jadi faktor utama

Pandangan serupa disampaikan Public Affairs and Sustainability Manager Danone Indonesia Annie Wahyuni. Ia mengatakan, kebutuhan talenta keberlanjutan kini tidak lagi terbatas pada lulusan dari disiplin ilmu tertentu.

"Di Danone, kami percaya sustainability membutuhkan talenta dari berbagai disiplin ilmu karena setiap keahlian memiliki peran dalam menjawab tantangan keberlanjutan. Namun, yang paling dibutuhkan industri adalah kompetensi yang relevan, sertifikasi, serta kemauan untuk terus belajar agar dapat mengikuti perkembangan isu sustainability yang bergerak sangat cepat," kata Annie.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Indonesia Siapkan RPP Pengelolaan Sumber Daya Genetik, Kehancuran Ekonomi Jadi Konsekuensi Kerusakan Alam
Indonesia Siapkan RPP Pengelolaan Sumber Daya Genetik, Kehancuran Ekonomi Jadi Konsekuensi Kerusakan Alam
Pemerintah
Dampak Cuaca Panas, Pekerja Perempuan Pekerja Informal Rugi Rp1.009 Triliun Per Tahun
Dampak Cuaca Panas, Pekerja Perempuan Pekerja Informal Rugi Rp1.009 Triliun Per Tahun
LSM/Figur
Merangkul Masyarakat Adat, Garda Terdepan Pencegahan Karhutla
Merangkul Masyarakat Adat, Garda Terdepan Pencegahan Karhutla
LSM/Figur
Tata Guna Lahan Tumpang Tindih Hambat Investasi Perdagangan Karbon di Indonesia
Tata Guna Lahan Tumpang Tindih Hambat Investasi Perdagangan Karbon di Indonesia
Pemerintah
Penyusutan Air Sungai Eropa Ancam Jalur Logistik, Perusahaan Pelayaran Cari Solusi
Penyusutan Air Sungai Eropa Ancam Jalur Logistik, Perusahaan Pelayaran Cari Solusi
Pemerintah
10 Persen Orang Terkaya Picu Kerugian Lingkungan Rp101 Kuadriliun Tiap Tahun
10 Persen Orang Terkaya Picu Kerugian Lingkungan Rp101 Kuadriliun Tiap Tahun
Pemerintah
Uji Gagasan di Desa Binaan Bakti BCA, Gen Z Belajar Beradaptasi dan Mendengar Warga
Uji Gagasan di Desa Binaan Bakti BCA, Gen Z Belajar Beradaptasi dan Mendengar Warga
Swasta
Suhu Gurun Makin Ekstrem, Unta Mulai Kesulitan Bertahan Hidup
Suhu Gurun Makin Ekstrem, Unta Mulai Kesulitan Bertahan Hidup
Pemerintah
Kemendagri Dorong Pembenahan Tata Kelola Desa untuk Percepat Pengentasan Kemiskinan
Kemendagri Dorong Pembenahan Tata Kelola Desa untuk Percepat Pengentasan Kemiskinan
Pemerintah
Suhu Laut Naik, Kemampuan Padang Lamun Menyimpan Karbon Alami Merosot
Suhu Laut Naik, Kemampuan Padang Lamun Menyimpan Karbon Alami Merosot
Pemerintah
Studi Ungkap 25 Persen Emisi Karbon Sektor Pelayaran Dunia dari Kapal di Sungai
Studi Ungkap 25 Persen Emisi Karbon Sektor Pelayaran Dunia dari Kapal di Sungai
Pemerintah
Dampak Karhutla Tak Cukup Dihitung dari Luas Lahan dan Emisi Karbon
Dampak Karhutla Tak Cukup Dihitung dari Luas Lahan dan Emisi Karbon
LSM/Figur
Emisi Gas Rumah Kaca dari Sawah Dunia Naik 2 Kali Lipat dalam 60 Tahun
Emisi Gas Rumah Kaca dari Sawah Dunia Naik 2 Kali Lipat dalam 60 Tahun
Pemerintah
Cara Mengenalkan Alam Tentukan Respons Anak Terhadap Lingkungan
Cara Mengenalkan Alam Tentukan Respons Anak Terhadap Lingkungan
Pemerintah
Konservasi Spesies Indonesia Tak Cukup Andalkan Data, Perlu Kolaborasi Lintas Pihak
Konservasi Spesies Indonesia Tak Cukup Andalkan Data, Perlu Kolaborasi Lintas Pihak
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau