KOMPAS.com - Fenomena El Niño yang makin kuat dan berpotensi memecahkan rekor tertinggi sepanjang masa ibarat menyiram bensin ke planet yang sudah terbakar dan membawa dunia ke wilayah yang belum pernah terjamah sebelumnya.
Hal tersebut diungkapkan oleh Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres.
"Dua bulan lalu, saya memperingatkan bahwa El Niño sudah di ambang pintu. Sekarang ia sudah masuk ke dalam rumah dan makin menaikkan suhunya," katanya dikutip dari Phys, Sabtu (1/8/2026)
Pola cuaca El Niño menghangatkan suhu permukaan air laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur. Hal ini memicu perubahan angin, tekanan udara, dan pola curah hujan di seluruh dunia, serta membuat suhu global secara keseluruhan menjadi lebih panas.
Baca juga: Malaysia Waspadai Suhu Tembus 40 Derajat Celsius Awal 2027 akibat El Nino
Perubahan iklim akibat ulah manusia pun dapat memperparah dampak El Niño, karena lautan dan udara yang makin panas menyediakan energi serta kelembapan berlebih yang memicu cuaca ekstrem, seperti gelombang panas dan curah hujan yang sangat tinggi.
"Kita telah melewati musim panas dengan cuaca yang sangat ekstrem, rekor gelombang panas yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ini berakibat pada kebakaran hutan mengerikan yang melalap Spanyol, Prancis, dan wilayah lainnya serta ribuan nyawa melayang akibat kondisi yang sangat menyengat," kata Guterres.
"Namun, menurut data ilmiah terbaru, ini semua barulah pemanasan," paparnya lagi.
Ia menyampaikan bahwa suhu air di Samudra Pasifik yang memicu El Niño belum pernah sepanas ini di awal musim. Prakiraan terbaru dari Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menemukan bahwa suhu permukaan laut saat ini rata-rata 3 derajat C lebih tinggi dari biasanya.
Prediksi WMO menunjukkan bahwa hingga bulan Oktober mendatang, hampir seluruh wilayah daratan di Bumi diperkirakan akan memiliki suhu yang lebih panas dari biasanya.
"Jika digabungkan, semua kondisi ini berisiko memecahkan setiap rekor musim yang ada serta memicu dampak yang jauh lebih parah di seluruh dunia. Kita sedang berada di wilayah yang belum pernah kita jalani sebelumnya," kata Guterres.
Risiko yang ada tidak hanya sebatas udara panas. Musim hujan di India saat ini jauh di bawah rata-rata, sementara kondisi yang lebih panas dan kering diperkirakan akan melanda wilayah Amerika Tengah, Karibia, sebagian Amerika Selatan, Asia Selatan, Pasifik Barat Daya, Eropa, hingga Afrika.
"Kesimpulannya sudah jelas. Krisis iklim kini melaju makin kencang," tegas Guterres,
Ia pun memaparkan langkah-langkah yang perlu diambil di empat bidang utama.
Baca juga: El Nino Perparah Degradasi Hutan dan Lahan,
Pertama, lindungi masyarakat dari cuaca panas melalui rencana penanganan panas di tingkat kota maupun nasional, serta sistem peringatan dini, termasuk memperluas akses ke pendingin yang ramah lingkungan.
Kedua, buat lingkungan kerja lebih aman, dengan pemerintah menetapkan aturan batas suhu panas agar para pekerja yang rentan seperti pekerja di industri tekstil tidak mempertaruhkan nyawa mereka saat bekerja.
Ketiga, bangun perlindungan dari cuaca panas ekstrem ke dalam desain kota, rumah, sekolah, dan rumah sakit, serta masukkan hal ini ke dalam perencanaan dan anggaran pemerintah.
Keempat dan yang paling mendasar, dunia harus berhenti memperparah krisis ini. Dunia harus mengurangi penggunaan bahan bakar fosil yang memanaskan planet ini, bukannya menganggap setiap bencana sebagai kejadian biasa yang berdiri sendiri.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya