Indermit Gill, Kepala Ekonom Bank Dunia, menyampaikan bahwa negara-negara berkembang sebenarnya tidak lagi membutuhkan model AI yang rumit atau pusat data yang raksasa untuk merasakan manfaat AI.
Namun, mereka harus bergerak cepat karena AI menyebar jauh lebih pesat dan penggunaannya lebih fleksibel sesuai kebutuhan lokal dibandingkan teknologi terdahulu seperti listrik dan internet.
Laporan tersebut menjelaskan bahwa AI bisa memberikan manfaat nyata di saat negara-negara berkembang sedang mengalami masa pertumbuhan ekonomi terendah dalam lebih dari 30 tahun terakhir.
Baca juga: UNCTAD: AI dan Kendaraan Listrik Dorong Pertumbuhan Perdagangan Dunia
Meski begitu, kesempatan emas ini tidak datang begitu saja.
"Waktu untuk memanfaatkannya dengan benar sangatlah terbatas.AI menawarkan kesempatan sekali seumur hidup untuk menyelesaikan berbagai masalah yang sulit dipecahkan selama bergenerasi-generasi," ujar Gaurav Nayyar, Direktur World Development Report 2026.
Laporan tersebut memperingatkan bahwa sebagian besar teknologi AI tercanggih saat ini hanya dikuasai oleh segelintir negara dan perusahaan raksasa. Sebaliknya, banyak negara berkembang yang bahkan belum memiliki fasilitas dasar untuk menggunakan AI, seperti listrik yang stabil, akses internet, sistem data, keterampilan, dan lembaga pemerintah yang kuat.
Tanpa perbaikan kebijakan, AI justru bisa semakin memperlebar jurang ketimpangan antarnegara, serta memicu risiko baru terhadap keselamatan, hak-hak masyarakat, dan keharmonisan sosial.
Oleh karena itu, laporan menyarankan tiga langkah yakni mulai memakai AI yang ada, menyesuaikannya dengan kebutuhan lokal, baru kemudian mengembangkan AI yang lebih canggih.
Namun, kenyataan di lapangan masih sangat memprihatinkan. Di Afrika Sub-Sahara, hampir sepertiga sekolah tidak memiliki listrik, dan dua pertiganya bahkan tidak punya akses internet.
sumber https://www.downtoearth.org.in/economy/ai-could-help-developing-countries-reduce-inequality-but-only-if-basics-are-in-place-world-bank-says
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya