Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Wamendiktisaintek: Berpikir Kritis Jadi Kunci agar Manusia Tak Tergantikan AI

Kompas.com, 5 Agustus 2026, 10:30 WIB
Bambang P. Jatmiko

Editor

KOMPAS.com – Pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang semakin masif dinilai tidak boleh membuat manusia kehilangan kemampuan berpikir kritis.

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, kemampuan mengevaluasi, menciptakan, dan mengkurasi pengetahuan justru menjadi faktor yang menentukan apakah manusia akan tetap relevan di era AI.

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie mengatakan, AI memang mampu membantu menyelesaikan berbagai persoalan dalam waktu singkat. Namun, manusia tetap harus memiliki kemampuan untuk menilai apakah jawaban yang dihasilkan AI benar, akurat, dan layak digunakan.

Baca juga: Deloitte Ungkap Mayoritas Dewan Direksi Belum Punya Aturan Penggunaan AI

"Secanggih-canggihnya AI, kalau kalian bisa menentukan apakah luaran dari AI itu benar atau tidak, akurat atau tidak, bagus atau tidak, kalian tidak akan tergantikan," kata Stella dikutip dari siaran pers  Tanoto Foundation, Rabu (5/8/2026) dalam rangka Tanoto Scholars Gathering di Pangkalan Kerinci, Riau.

Menurut Stella, generasi muda tidak boleh menyerahkan seluruh proses berpikir kepada AI. Pengalaman menjalani proses pembelajaran tetap diperlukan agar seseorang memiliki kemampuan membedakan informasi yang benar, relevan, dan berkualitas.

AI belum menggantikan kemampuan manusia

Stella mengingatkan bahwa perkembangan AI saat ini juga perlu dilihat secara kritis. Ia mencontohkan berbagai fenomena economic bubble dalam sejarah, seperti Dutch Tulip Bubble pada abad ke-17 dan dotcom bubble pada awal berkembangnya internet.

Menurut dia, masyarakat perlu mempertanyakan apakah perkembangan AI akan terus bertumbuh secara berkelanjutan atau justru mengalami koreksi seperti fenomena gelembung ekonomi sebelumnya.

Di sisi lain, ia menilai AI hingga kini baru mampu menghasilkan berbagai kemungkinan jawaban, tetapi belum sepenuhnya menggantikan kemampuan manusia dalam menciptakan solusi nyata.

"AI belum bisa menyembuhkan kanker, belum bisa membangun perusahaan yang masuk Fortune 500," ujarnya.

Stella juga menyoroti dampak lingkungan dari perkembangan AI yang jarang dibahas. Berdasarkan sejumlah penelitian yang ia paparkan, penggunaan AI membutuhkan energi dan air dalam jumlah sangat besar untuk mengoperasikan pusat data (data center).

Ia menyebut konsumsi energi AI diperkirakan telah mencapai sekitar 1–1,3 persen konsumsi energi dunia dan berpotensi meningkat hingga sekitar 4,5 persen. Pada tahun lalu saja, konsumsi energi AI disebut setara dengan kebutuhan listrik satu negara seperti Latvia selama setahun.

Selain energi, penggunaan air juga menjadi perhatian. Salah satu pusat data perusahaan AI dilaporkan menggunakan air setara kebutuhan air minum sekitar 1,2 juta orang, sementara konsumsi listriknya setara dengan kebutuhan 50 rumah sakit besar atau 325 universitas di Amerika Serikat.

Tiga peran perguruan tinggi

Menurut Stella, perkembangan AI juga memaksa perguruan tinggi mendefinisikan ulang perannya.

Ia mengatakan terdapat tiga fungsi utama yang harus diperkuat universitas agar tetap relevan di era AI, yakni menciptakan pengetahuan (creating knowledge), mentransmisikan pengetahuan (transmitting knowledge), dan mengurasi pengetahuan (curating knowledge).

Pada aspek penciptaan pengetahuan, perguruan tinggi perlu menentukan jenis pengetahuan yang tetap harus dikembangkan manusia dan bagian mana yang dapat dibantu AI.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
IPB University Tutup SAMI 2026, Kolaborasi untuk Agrifood Berkelanjutan jadi Fokus
IPB University Tutup SAMI 2026, Kolaborasi untuk Agrifood Berkelanjutan jadi Fokus
Pemerintah
70 persen Perusahaan Global Stop Beli Mobil Dinas Berbahan Bakar Fosil
70 persen Perusahaan Global Stop Beli Mobil Dinas Berbahan Bakar Fosil
Pemerintah
Dampak El Niño: 50 Juta Orang Terancam Kelaparan Akut dalam Waktu Dekat
Dampak El Niño: 50 Juta Orang Terancam Kelaparan Akut dalam Waktu Dekat
Pemerintah
Isu Kesehatan PBB: Ibu Masih Kurang Dukungan untuk  Menyusui
Isu Kesehatan PBB: Ibu Masih Kurang Dukungan untuk Menyusui
Pemerintah
 Populasi Gajah Sumatra Diperkirakan Tinggal 900-1.350 Ekor, Habitat Terus Terfragmentasi
Populasi Gajah Sumatra Diperkirakan Tinggal 900-1.350 Ekor, Habitat Terus Terfragmentasi
LSM/Figur
Studi: Kekeringan dan Banjir Akibat Perubahan Jarang Jadi Berita Internasional
Studi: Kekeringan dan Banjir Akibat Perubahan Jarang Jadi Berita Internasional
Pemerintah
 Polusi Cahaya Jadi Tantangan Pengamatan Hujan Meteor Perseid
Polusi Cahaya Jadi Tantangan Pengamatan Hujan Meteor Perseid
LSM/Figur
Perkuat Jejaring Diaspora, Festival Indonesia Digelar untuk Pertama Kali di Chiba Jepang
Perkuat Jejaring Diaspora, Festival Indonesia Digelar untuk Pertama Kali di Chiba Jepang
LSM/Figur
Penangkapan Ikan Marak Pakai Bom, Terumbu Karang di Indonesia Terancam
Penangkapan Ikan Marak Pakai Bom, Terumbu Karang di Indonesia Terancam
Pemerintah
Akibat Perubahan Iklim, Paus dan Lumba-lumba, Makin Sering Terdampar di Pesisir
Akibat Perubahan Iklim, Paus dan Lumba-lumba, Makin Sering Terdampar di Pesisir
LSM/Figur
Pangkas Kesenjangan, Operasi Transplantasi Kornea Pertama Resmi Digelar di Ternate
Pangkas Kesenjangan, Operasi Transplantasi Kornea Pertama Resmi Digelar di Ternate
Swasta
Studi: Memanen Air Hujan dari Atap Jadi Solusi Atasi Suhu Ekstrem di Perkotaan
Studi: Memanen Air Hujan dari Atap Jadi Solusi Atasi Suhu Ekstrem di Perkotaan
Pemerintah
Pembangkit Listrik Tenaga Angin Didorong Pakai Teknologi Perlindungan Satwa
Pembangkit Listrik Tenaga Angin Didorong Pakai Teknologi Perlindungan Satwa
Pemerintah
Pengetahuan Jadi Bekal Petani dan Perajin Pangan untuk Lebih Mandiri
Pengetahuan Jadi Bekal Petani dan Perajin Pangan untuk Lebih Mandiri
Swasta
Sistem Kesehatan Asia Pasifik Hadapi Tekanan Ganda dari Perubahan Iklim dan AI
Sistem Kesehatan Asia Pasifik Hadapi Tekanan Ganda dari Perubahan Iklim dan AI
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau