Editor
KOMPAS.com – Pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang semakin masif dinilai tidak boleh membuat manusia kehilangan kemampuan berpikir kritis.
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, kemampuan mengevaluasi, menciptakan, dan mengkurasi pengetahuan justru menjadi faktor yang menentukan apakah manusia akan tetap relevan di era AI.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie mengatakan, AI memang mampu membantu menyelesaikan berbagai persoalan dalam waktu singkat. Namun, manusia tetap harus memiliki kemampuan untuk menilai apakah jawaban yang dihasilkan AI benar, akurat, dan layak digunakan.
Baca juga: Deloitte Ungkap Mayoritas Dewan Direksi Belum Punya Aturan Penggunaan AI
"Secanggih-canggihnya AI, kalau kalian bisa menentukan apakah luaran dari AI itu benar atau tidak, akurat atau tidak, bagus atau tidak, kalian tidak akan tergantikan," kata Stella dikutip dari siaran pers Tanoto Foundation, Rabu (5/8/2026) dalam rangka Tanoto Scholars Gathering di Pangkalan Kerinci, Riau.
Menurut Stella, generasi muda tidak boleh menyerahkan seluruh proses berpikir kepada AI. Pengalaman menjalani proses pembelajaran tetap diperlukan agar seseorang memiliki kemampuan membedakan informasi yang benar, relevan, dan berkualitas.
Stella mengingatkan bahwa perkembangan AI saat ini juga perlu dilihat secara kritis. Ia mencontohkan berbagai fenomena economic bubble dalam sejarah, seperti Dutch Tulip Bubble pada abad ke-17 dan dotcom bubble pada awal berkembangnya internet.
Menurut dia, masyarakat perlu mempertanyakan apakah perkembangan AI akan terus bertumbuh secara berkelanjutan atau justru mengalami koreksi seperti fenomena gelembung ekonomi sebelumnya.
Di sisi lain, ia menilai AI hingga kini baru mampu menghasilkan berbagai kemungkinan jawaban, tetapi belum sepenuhnya menggantikan kemampuan manusia dalam menciptakan solusi nyata.
"AI belum bisa menyembuhkan kanker, belum bisa membangun perusahaan yang masuk Fortune 500," ujarnya.
Stella juga menyoroti dampak lingkungan dari perkembangan AI yang jarang dibahas. Berdasarkan sejumlah penelitian yang ia paparkan, penggunaan AI membutuhkan energi dan air dalam jumlah sangat besar untuk mengoperasikan pusat data (data center).
Ia menyebut konsumsi energi AI diperkirakan telah mencapai sekitar 1–1,3 persen konsumsi energi dunia dan berpotensi meningkat hingga sekitar 4,5 persen. Pada tahun lalu saja, konsumsi energi AI disebut setara dengan kebutuhan listrik satu negara seperti Latvia selama setahun.
Selain energi, penggunaan air juga menjadi perhatian. Salah satu pusat data perusahaan AI dilaporkan menggunakan air setara kebutuhan air minum sekitar 1,2 juta orang, sementara konsumsi listriknya setara dengan kebutuhan 50 rumah sakit besar atau 325 universitas di Amerika Serikat.
Menurut Stella, perkembangan AI juga memaksa perguruan tinggi mendefinisikan ulang perannya.
Ia mengatakan terdapat tiga fungsi utama yang harus diperkuat universitas agar tetap relevan di era AI, yakni menciptakan pengetahuan (creating knowledge), mentransmisikan pengetahuan (transmitting knowledge), dan mengurasi pengetahuan (curating knowledge).
Pada aspek penciptaan pengetahuan, perguruan tinggi perlu menentukan jenis pengetahuan yang tetap harus dikembangkan manusia dan bagian mana yang dapat dibantu AI.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya