KOMPAS.com – Krisis iklim dan pesatnya urbanisasi mendorong perubahan cara masyarakat memandang hunian.
Kini, rumah tidak lagi dipilih berdasarkan harga atau lokasi semata, tetapi juga kemampuan kawasan dalam menghadirkan lingkungan yang sehat, efisien, dan lebih ramah terhadap alam.
Konsep pembangunan berkelanjutan pun semakin menjadi pertimbangan penting dalam industri properti.
Berbagai pendekatan, seperti green building, desain pasif, dan pengembangan kawasan hijau mulai diterapkan untuk mengurangi dampak pembangunan terhadap lingkungan sekaligus meningkatkan kualitas hidup penghuninya.
Baca juga: PLN Ubah Kantor Jadi Sumber Energi Mandiri lewat Smart and Green Building
Salah satu acuan yang banyak digunakan adalah standar Greenship Neighborhood (NH 1.0) yang dikembangkan Green Building Council Indonesia (GBCI).
Standar tersebut menetapkan tujuh aspek utama kawasan berkelanjutan, yakni peningkatan ekologi lahan, konektivitas dan mobilitas, pengelolaan air, pengelolaan limbah dan material, kesejahteraan masyarakat, bangunan dan efisiensi energi, serta inovasi pengembangan kawasan.
Penerapan prinsip-prinsip tersebut diyakini dapat menekan dampak lingkungan akibat pembangunan, menjaga kualitas ekosistem sekaligus menciptakan iklim mikro yang lebih nyaman di kawasan perkotaan.
Kesadaran terhadap pentingnya keberlanjutan mulai tecermin dalam rancangan sejumlah kawasan hunian baru. Salah satunya diterapkan pada Klaster Riverie di kawasan Shila at Sawangan, Depok, Jawa Barat.
Baca juga: Dari Rumah Pertama ke Ketahanan Keluarga, Kala Ekosistem Hunian Bangun Rasa Aman dan Masa Depan
Meski dibangun di atas kavling berukuran 5 x 10 meter, rumah-rumah di klaster tersebut dirancang agar tetap memperoleh pencahayaan dan sirkulasi udara alami secara optimal.
Hal itu diwujudkan melalui tinggi lantai hingga plafon mencapai 3,7 meter, bukaan yang lebih luas, serta penerapan desain split-level pada ruang keluarga sehingga aliran udara dapat bergerak lebih baik ke seluruh ruangan.
Pendekatan desain pasif seperti ini berpotensi mengurangi ketergantungan terhadap pencahayaan dan pendingin udara pada siang hari sehingga konsumsi energi rumah tangga dapat ditekan.
Pembagian ruang juga dirancang berdasarkan fungsi dengan area publik berada di lantai dasar dan ruang privat, seperti kamar tidur ditempatkan di lantai atas untuk meningkatkan kenyamanan penghuni.
Shila at Sawangan dikembangkan di atas lahan seluas 130 hektare yang dikelilingi sekitar 26 hektare danau beserta anak sungai (creek) alami. Pengembang menyebut sekitar 55 persen dari total area pengembangan dipertahankan sebagai ruang terbuka hijau.
Baca juga: Material Berkelanjutan Bakal Diterapkan di Hunian Bersubsidi
Keberadaan ruang hijau tersebut diharapkan tidak hanya menghadirkan lanskap yang lebih asri, tetapi juga membantu menjaga daya resap air, mendukung keanekaragaman hayati, serta berkontribusi terhadap kualitas udara dan suhu lingkungan di tengah pesatnya perkembangan kawasan selatan Jakarta dan Depok.
Selain mengedepankan aspek ekologis, kawasan ini juga dirancang dengan akses menuju Jalan Bojongsari, Jalan Muchtar, Tol Pamulang, dan Tol Desari untuk mendukung konektivitas masyarakat.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya