KOMPAS.com - Perjalanan Asia Tenggara menuju keberlanjutan telah memasuki era perubahan besar. Langkah tersebut salah satunya dilakukan Malaysia, di mana negara tersebut mengambil aksi tegas lewat hukum dan ekonomi untuk menegakkan aturan iklim yang ketat.
Menteri Sumber Daya Alam dan Keberlanjutan Lingkungan Malaysia, Datuk Seri Arthur Joseph Kurup, mengatakan bahwa negaranya kini tidak lagi sekadar mengurangi intensitas emisi.
Sebaliknya, melansir The Star, Rabu (22/7/2026), Malaysia menetapkan target emisi yang pasti yakni membatasi puncak emisi paling lambat pada tahun 2030 dan mencapai bebas emisi pada tahun 2050.
“Kementerian sedang menyusun Kebijakan Perubahan Iklim Nasional 2.0 sekaligus merancang Undang-Undang Perubahan Iklim Nasional. Aturan baru ini akan meresmikan tata kelola iklim secara menyeluruh. Aturan ini mewajibkan sektor pemerintah maupun swasta untuk bertanggung jawab, lengkap dengan target kerja dan mekanisme pelaporan yang ketat,” ujarnya.
Inti dari langkah ini adalah penerapan pajak karbon secara bertahap yang mulai berlaku tahun ini.
Di tahap awal, pajak ini berfokus pada industri penghasil emisi tinggi seperti baja, besi, dan pembangkit listrik. Arthur menjelaskan bahwa sistem tarif karbon ini dibuat untuk mendorong inovasi teknologi ramah lingkungan, sekaligus menjaga agar produk ekspor Malaysia tetap bisa bersaing di pasar global.
Baca juga: Sektor ESG dan Ekosistem Karbon Jadi Magnet Baru Investasi Strategis
"Tujuan kami bukan untuk menghukum, melainkan menciptakan sistem insentif yang sesuai dengan standar internasional," tegasnya.
Selain mengurangi emisi industri, Malaysia terus menjaga agar minimal 50 persen luas daratannya tetap berupa hutan. Negara ini juga memperluas program ekonomi daur ulang, seperti mengolah sampah menjadi energi dan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
Arthur juga mengimbau dunia usaha untuk menghindari manipulasi klaim ramah lingkungan. Ia meminta perusahaan menggunakan standar pelaporan internasional yang resmi dan menetapkan target penurunan emisi berbasis bukti ilmiah yang diakui (Science Based Targets initiative/SBTi).
Malaysia juga mendorong perusahaan untuk menghitung total emisi secara akurat di seluruh rantai pasokan mereka terutama Emisi Scope 3 serta menetapkan target pengurangan emisi yang diakui secara ilmiah (SBTi).
"Keterbukaan ini akan membuktikan apakah janji-janji kelestarian lingkungan yang dibuat benar-benar memberi dampak nyata atau sekadar pajangan kosmetik perusahaan,” ujarnya dalam pidato utama secara virtual di acara Asia ESG Summit 2026.
Ia menegaskan pula bahwa untuk mencapai perubahan besar, dibutuhkan kerja sama yang kuat antara kebijakan pemerintah yang tegas, inovasi dari para investor, dan pelaksanaan yang agresif dari pihak perusahaan.
“Saya mengimbau para pemimpin perusahaan untuk tidak menganggap kriteria lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) hanya sebagai aturan kaku yang sekadar dipatuhi. Sebaliknya, jadikan ESG sebagai inti ketahanan perusahaan, pendorong utama inovasi, dan batu loncatan untuk meningkatkan daya saing keuangan di tingkat global,” tambahnya.
Arthur meminta dunia usaha untuk melihat keberlanjutan lingkungan sebagai strategi modal yang disiplin dan sistem tata kelola yang ketat. Menurutnya, pola pikir inilah yang menjadi awal terbentuknya nilai jangka panjang, baik bagi bisnis maupun bagi alam.
Baca juga: Konsorsium Tiga Media di Asia Tenggara Kerja Sama untuk Perkuat ESG
Asia ESG Summit sendiri merupakan wadah antar-industri yang sangat strategis bagi para pemikir untuk menggerakkan aksi nyata keberlanjutan di tingkat regional.
Asia ESG Summit 2026 mengusung tema “Driving Action to Measurable Impact”. Acara yang berlangsung pada 21–22 Juli di Sunway Resort Hotel, Selangor, merupakan KTT kedua yang diselenggarakan oleh Asia ESG Positive Impact Consortium (A-EPIC) sebuah kolaborasi media yang dipimpin oleh SMG (Malaysia), Kompas Gramedia (Indonesia), dan Inquirer Group (Filipina) sebagai wujud komitmen bersama media dalam mendorong kemajuan yang berkelanjutan.
Sime Darby Property Bhd menjadi sponsor utama, sementara Permodalan Nasional Bhd bertindak sebagai mitra pendukung.
Acara ini dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, termasuk CEO SMG Chan Seng Fatt, COO Lydia Wang, CCO Datin Paduka Esther Ng, serta Wakil Duta Besar Singapura Shivakumar Nair.
Menurut CEO SMG Chan Seng Fatt, penyelenggaraan KTT kedua ini mencerminkan tanggung jawab SMG sebagai pendiri A-EPIC untuk memperluas dampak gerakan regional ini.
“Di tahun pertama, fokus kami adalah memulai dialog dan diskusi. Di tahun kedua ini, fokus kami adalah membuktikan pelaksanaan dan aksi nyatanya di lapangan,” ungkapnya.
“Menjadi tuan rumah kembali di tahun ini mencerminkan rasa saling percaya dan tanggung jawab bersama untuk membawa gerakan ini ke tingkat yang lebih tinggi bersama mitra kami dari Filipina dan Indonesia,” ujarnya.
“Kekuatan utama konsorsium ini terletak pada jangkauannya yang melintasi batas negara bersama KG Media dan IGC. Kemampuan kami untuk menjangkau hampir 125 juta orang memberi kami kekuatan besar untuk menyebarluaskan dan memperkuat gerakan ini,” tambahnya.
Menurutnya juga dengan saling berbagi contoh kasus nyata dan membangun komunitas, kita bisa mendorong gerakan ini bukan sekadar pencitraan, melainkan pelaksanaan yang terbuka, terukur, dan dilakukan dengan cara yang benar.
Dalam pernyataan terpisah, Wakil Presiden Keberlanjutan KG Media, Wisnu Nugroho, menyampaikan bahwa komunikasi tentang isu lingkungan tidak boleh berhenti pada niat baik dan cerita yang menarik saja.
Untuk mendapatkan kepercayaan publik, setiap komitmen harus didasarkan pada data yang tepercaya, pengukuran yang konsisten, dan pelaporan yang jujur.
“Kita tidak bisa mengelola apa yang tidak kita ukur. Masa depan pertumbuhan perusahaan ada di tangan mereka yang mampu membuktikan cerita kelestariannya dengan data yang terverifikasi," papar Wisnu.
Bagi KG Media, peran media bukan hanya menyebarkan cerita tentang lingkungan, tetapi juga membuatnya lebih jelas, lebih bisa dipertanggungjawabkan, dan lebih mudah dipahami oleh masyarakat umum.
Baca juga: Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
“Dengan menggabungkan analisis berbasis penelitian, data yang terpercaya, dan jaringan media KG Media, kami bertujuan mengubah isu lingkungan yang rumit menjadi cerita yang bermakna dan tolok ukur yang bisa dipahami, diikuti, serta diperiksa kebenarannya oleh masyarakat,” kata Wisnu.
COO Philippine Daily Inquirer, Rudyard Arbolado, juga menyampaikan komitmen mereka terhadap prinsip "Berita Berimbang, Pandangan Berani" dengan menjadikan isu keberlanjutan sebagai bentuk tanggung jawab kepada publik.
“Lewat Inquirer ESG Edge dan kerja sama regional kami di A-EPIC, kami menggabungkan kekuatan media antarnegara untuk melihat lebih jauh dari sekadar pencitraan perusahaan. Tujuan kami adalah menggunakan jangkauan bersama ini untuk memeriksa klaim ramah lingkungan, membagikan contoh praktik terbaik yang sudah teruji, dan menagih pertanggungjawaban perusahaan atas data yang mereka laporkan,” tegas Rudyard.
Lebih lanjut General Manager Keberlanjutan Sime Darby Property, Dr. Yasmin Rasyid, menyampaikan bahwa menerapkan prinsip ESG di seluruh lini bisnis sangat penting untuk membangun ketahanan jangka panjang dan memberikan nilai yang bertahan lama bagi semua pihak.
“Kami melihat pembangunan berkelanjutan sebagai panduan utama untuk membentuk masa depan. Seiring berlanjutnya dukungan kami untuk A-EPIC, fokus kami sejalan dengan agenda tahun ini, yaitu mengubah komitmen tingkat tinggi menjadi hasil nyata yang dapat diukur,” ujarnya.
Yasmin juga menyampaikan bahwa wadah seperti A-EPIC berperan penting dalam mempercepat aksi bersama, sehingga berbagai industri tidak sekadar mengumbar janji, tetapi benar-benar menunjukkan kemajuan yang terukur.
“Keberlanjutan lingkungan bukan hanya kunci untuk bertahan di masa depan, tetapi juga pendorong pertumbuhan jangka panjang yang memberi manfaat bagi semua orang,” ujarnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya