Selain mempercepat fermentasi, tim peneliti juga mengembangkan metode untuk meningkatkan karakter cita rasa kakao.
Baca juga: Kisah Kakao Kampung Merasa di Berau, Dulu Dilarang Dimakan Kini Jadi Cuan
Salah satunya dilakukan melalui fermentasi sekunder dengan menambahkan ragi dan kulit lemon selama kurang dari satu hari. Metode tersebut memungkinkan biji kakao menghasilkan karakter cita rasa yang lebih kompleks, seperti buah kering, tanpa menggunakan bahan tambahan sintetis.
Kamarisima mengatakan, pengembangan teknologi kakao ke depan tidak hanya diarahkan pada peningkatan kualitas biji dan produk cokelat.
Pemanfaatan hasil samping produksi juga perlu menjadi bagian dari pengembangan industri kakao berbasis ekonomi sirkular.
Jutaan ton limbah cangkang kakao, misalnya, berpotensi diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah, seperti biomaterial, cuka organik, pupuk, hingga sumber energi.
Dengan pendekatan tersebut, pengembangan kakao tidak hanya berfokus pada peningkatan produktivitas, tetapi juga pada pemanfaatan sumber daya secara lebih efisien dan pengurangan limbah.
Inovasi fermentasi dan pemanfaatan limbah tersebut diharapkan dapat memperkuat posisi kakao Indonesia sekaligus meningkatkan nilai tambah yang diterima petani dari komoditas tersebut.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya