Editor
Pada mulanya, Dama Kara merangkul para perajin dan penjahit perempuan di sekitar tempat usaha Dini di Bandung dan beberapa kota di Jawa Barat. Dalam perkembangannya, dia memperluas kebermanfaatan dengan mengajak kaum rentan yang selama ini terlupakan: penyandang disabilitas.
Sejak itu, Dini mantap untuk melibatkan kaum disabilitas dalam pengerjaan karya Dama Kara. Pelibatan penyandang disabilitas pada karya-karya Dama Kara itulah yang melatari berdirinya Dama Kara Foundation pada 2024. Dini kemudian juga menggandeng lembaga sosial Our Dream Indonesia dan Art Therapy Center (ATC) Widyatama.
Dama Kara Foundation juga mengembangkan sejumlah program, seperti kelas gambar bagi disabilitas. Melalui pendampingan oleh art fasilitator secara one on one, satu difabel satu pendamping, kelas ini tidak hanya melatih keterampilan seni dan motorik halus, tetapi juga mengasah imajinasi, konsentrasi, dan menumbuhkan rasa percaya diri para difabel.
Karya-karya penyandang disabilitas ini kemudian dikembangkan melalui workshop kolaboratif dan pameran.
Kepedulian Dini pada kaum rentan tak lepas dari perjalanan hidupnya. Bungsu dari tiga bersaudara ini sempat mengalami keterbatasan dari sisi ekonomi. Sang ayah meninggal dunia saat ia kelas 2 SMP. Alhasil, ibunya yang seorang guru SD mesti membesarkan tiga orang anak.
Di masa kuliah di IPB University, Dini menemukan inspirasi awal, karena menyadari kondisi ekonomi keluarga, ia berburu beasiswa sejak semester pertama.
“Hampir setiap minggu saya melihat majalah dinding kampus yang menempel informasi tentang beasiswa,” ujarnya.
Dari ketekunan itu, Dini akhirnya berhasil. Sebuah beasiswa menopang biaya kuliahnya. Namun capaian ini tak menghentikan upayanya untuk mencari beasiswa lain yang dinilai lebih baik. Pada semester 2, ia melihat pengumuman suatu beasiswa yang menurutnya menawarkan nilai tambah.
Baca juga: Tanoto Foundation: Employability Mahasiswa Harus Diasah sejak Menempuh Pendidikan Tinggi
Dini pun mengikuti seleksi beasiswa tersebut dan dinyatakan lolos, lantas mengundurkan diri dari beasiswa sebelumnya. Sejak itulah Dini menjadi Tanoto Scholar.
“Beasiswa Tanoto Foundation waktu itu sangat membantu. Bukan hanya memberikan SPP dan uang saku, tapi juga mengadakan kegiatan kepemimpinan yang dihadiri oleh banyak mahasiswa dari kampus-kampus lain,” tuturnya.
Dini menegaskan pengalaman bertemu dan bertukar pengalaman, serta menumbuhkan kepedulian pada sesama dari kegiatan yang dilakukan lembaga ini turut memantik semangat Dini untuk berbagi dan memberi manfaat bagi sesama, terutama bagi kalangan yang terpinggirkan.
“Jadi, coba untuk melihat sekeliling dan memberikan dampak dari hal-hal terkecil. Tidak perlu menunggu nanti, tidak perlu menunggu beberapa tahun lagi, tapi kita bisa memulainya sekarang. Start small and do your best,” pungkasnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya