KOMPAS.com - Indonesia memiliki lebih dari 3.000 spesies tumbuhan yang diketahui berpotensi dimanfaatkan sebagai pangan. Namun, baru sekitar 200 spesies yang telah didomestikasi atau dikembangkan sebagai tanaman pangan.
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Ekologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Wawan Sujarwo mengatakan, kondisi tersebut menunjukkan besarnya potensi keanekaragaman hayati Indonesia yang belum dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung sistem pangan.
Ironisnya, sebagian besar komoditas pangan utama yang dikonsumsi masyarakat Indonesia saat ini bukan merupakan tanaman asli Nusantara.
Baca juga: Meski Kemarau Panjang, Stok Pangan Jawa Barat Diklaim Aman hingga Ramadhan 2027
Tanaman seperti jagung, singkong, dan tomat, misalnya, berasal dari kawasan Amerika Latin. Namun, tanaman-tanaman tersebut telah melalui proses naturalisasi selama ratusan tahun sehingga kini menjadi bagian dari pangan dan pertanian Indonesia.
"Sebagian besar bahan pangan dan tanaman komersial di Indonesia justru berasal dari negara lain, seperti yang tadi saya ungkapkan jagung, singkong, tomat. Tapi meskipun itu sudah native-nya atau origin-nya bukan merupakan dari kawasan kita, kalau istilah yang sering kita gunakan kan naturalisasi," ujar Wawan dalam webinar, dilansir Rabu (12/8/2026).
Menurut Wawan, kondisi tersebut seharusnya menjadi momentum untuk kembali menggali potensi tanaman asli Indonesia yang selama ini belum banyak dikembangkan sebagai sumber pangan.
Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. Dengan luas daratan sekitar 1,9 juta kilometer persegi dan wilayah laut sekitar 6 juta kilometer persegi, Indonesia diperkirakan memiliki sekitar 25 persen dari total spesies tumbuhan dunia.
Potensi tersebut juga telah tercatat dalam berbagai sumber sejarah.
Di Jawa, misalnya, Serat Centhini mencatat lebih dari 300 spesies tumbuhan. Sementara relief Candi Borobudur menggambarkan berbagai jenis flora yang dimanfaatkan masyarakat pada masa itu, salah satunya nyamplung (Calophyllum inophyllum).
Dokumentasi mengenai kekayaan flora Nusantara juga dilakukan Georg Eberhard Rumphius, naturalis asal Jerman yang bekerja untuk Verenigde Oostindische Compagnie (VOC). Pada abad ke-17, Rumphius menyusun Herbarium Amboinense, salah satu karya penting yang mendokumentasikan tumbuhan di wilayah Indonesia.
Wawan mengatakan, potensi tanaman pangan Indonesia juga berbeda-beda sesuai dengan kondisi geografis dan iklim setiap wilayah.
Jawa dan Sumatera, misalnya, memiliki potensi besar pada komoditas padi, sayuran, dan rempah-rempah. Papua memiliki kekayaan umbi-umbian dan sagu yang dapat menjadi sumber karbohidrat.
Sementara itu, Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan karakter iklim yang lebih kering memiliki potensi untuk mengembangkan sorgum dan berbagai tanaman yang tahan terhadap kekeringan.
Adapun Kalimantan dan Sulawesi memiliki potensi pada padi ladang, rotan, bambu, serta berbagai buah-buahan hutan.
"Indonesia merupakan bagian dari kawasan yang menjadi tempat awal domestikasi padi bersama dengan negara tetangga-tetangga kita sebenarnya. Seperti yang tadi saya ungkapkan bahwa sebenarnya kita masih masuk dalam satu area persebaran untuk center of origin-nya," tutur Wawan.
Baca juga: Ampas Kopi Gayo Disulap jadi Kemasan Pangan Ramah Lingkungan
Menurut dia, pemanfaatan tanaman pangan lokal berdasarkan karakteristik setiap wilayah dapat menjadi salah satu strategi untuk memperkuat keragaman sumber pangan Indonesia.
Pemanfaatan sumber pangan yang lebih beragam juga penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap sejumlah kecil komoditas pangan.
Laporan Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) pada Maret 2025 menunjukkan, meskipun sekitar 6.000 spesies tanaman telah dibudidayakan, sistem pangan dunia masih sangat bergantung pada sejumlah kecil jenis tanaman.
Dalam laporan Third Report on the State of the World’s Plant Genetic Resources for Food and Agriculture (SoW3) disebutkan sekitar 60 persen produksi pangan dunia bergantung pada sembilan jenis tanaman.
Kesembilan tanaman tersebut adalah tebu, jagung, beras, gandum, kentang, kedelai, kelapa sawit, bit gula, dan singkong.
Ketergantungan pada sedikit jenis tanaman membuat sistem pangan global lebih rentan terhadap perubahan lingkungan, perubahan iklim, serangan hama dan penyakit, maupun gangguan terhadap produksi.
Laporan tersebut disusun berdasarkan informasi dari 128 negara, empat pusat penelitian regional, dan 13 pusat penelitian internasional.
Dalam konteks Indonesia, kekayaan spesies tumbuhan yang belum banyak dimanfaatkan dapat menjadi peluang untuk memperluas sumber pangan sekaligus menjaga keanekaragaman hayati.
Pengembangan tanaman asli tidak hanya berpotensi menghasilkan alternatif pangan, tetapi juga dapat disesuaikan dengan karakteristik lingkungan setiap wilayah. Dengan demikian, diversifikasi pangan dapat berjalan bersamaan dengan upaya mempertahankan sumber daya genetik tanaman untuk menghadapi tantangan pangan dan perubahan iklim di masa depan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya