Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Hilirisasi Mineral Dorong Ekonomi ke Daerah, tetapi Manfaatnya Belum Merata

Kompas.com, 14 Agustus 2026, 20:17 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Hilirisasi mineral dinilai mulai menggeser pusat aktivitas ekonomi Indonesia dari Pulau Jawa menuju daerah-daerah penghasil sumber daya mineral.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut pergeseran tersebut tercermin dari besarnya investasi yang masuk ke wilayah di luar Jawa untuk pengembangan industri pengolahan mineral.

Direktur Jenderal Mineral dan Batubara (Minerba) Kementerian ESDM Tri Winarno mengatakan, realisasi investasi hilirisasi di luar Pulau Jawa telah mencapai sekitar Rp 227 triliun.

Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi mulai bergerak mendekati sumber daya alam yang selama ini menjadi bahan baku industri.

Baca juga: Saatnya Manfaat Hilirisasi Nikel di Morowali Dibagi Lebih Adil bagi Daerah

“Ini penting dan menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi mulai bergerak dari wilayah Jawa atau wilayah di mana tidak dekat atau jauh dari sumber daya, menjadi semakin dekat dengan sumber daya,” ujar Tri dalam forum Global South Dialogue on Critical Mineral and Green Industrialization di Jakarta, Jumat (14/8/2026).

Realisasi investasi hilirisasi mineral pada semester I-2026 sendiri mencapai Rp 206,5 triliun. Angka tersebut menjadi yang terbesar dibandingkan sektor hilirisasi lainnya.

Tri mengatakan, pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian di dekat sumber bahan baku dapat memperpendek rantai pasok sekaligus mendorong terbentuknya pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di daerah.

Saat ini, terdapat 26 proyek hilirisasi strategis nasional dengan nilai sekitar Rp 225 triliun yang sedang dikembangkan.

Menurut Tri, hilirisasi mineral memberikan setidaknya empat dampak terhadap perekonomian.

Pertama, meningkatkan nilai tambah komoditas melalui pengolahan dan pemurnian sehingga produk yang dihasilkan memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.

Kedua, memperkuat penerimaan negara. PNBP sektor minerba pada 2025 tercatat mencapai Rp 135,16 triliun. Hingga Juni 2026, penerimaan dari sektor tersebut telah mencapai Rp 76,6 triliun.

Ketiga, meningkatkan investasi dan penyerapan tenaga kerja melalui pembangunan smelter dan industri turunannya.

Investasi subsektor minerba pada 2025 tercatat sebesar 6,7 miliar dollar AS atau sekitar Rp 119,43 triliun. Sementara itu, tenaga kerja yang terserap secara langsung di subsektor minerba hingga semester I-2026 mencapai 685.724 orang.

“Ini yang tenaga kerja yang langsung, tetapi tenaga kerja yang tidak langsung lebih dari itu,” tutur Tri.

Baca juga: Saatnya Manfaat Hilirisasi Nikel di Morowali Dibagi Lebih Adil bagi Daerah

Keempat, hilirisasi dinilai mulai membangun fondasi industri strategis nasional, termasuk industri baterai kendaraan listrik, alumina, stainless steel, tembaga, dan logam mulia.

“Inilah yang kita maksud ketika menyebut hilirisasi sebagai salah satu mesin transformasi ekonomi di Indonesia,” ucapnya.

Manfaat hilirisasi belum merata

Meski pemerintah melihat hilirisasi sebagai mesin pertumbuhan ekonomi baru, manfaatnya di tingkat daerah belum tentu dirasakan secara merata oleh masyarakat lokal.

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Green Transition Initiative (GTI) Imaduddin Abdullah mengatakan, kondisi tersebut terlihat dari perkembangan industri hilirisasi nikel di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah.

Berdasarkan analisis INDEF GTI menggunakan metode Difference in Difference, keberadaan smelter di Morowali memang meningkatkan pendapatan pekerja sekitar 10 persen dan memperluas akses terhadap perlindungan sosial sekitar 2,4 persen.

Namun, peningkatan tersebut belum diikuti penciptaan lapangan kerja yang signifikan bagi masyarakat lokal.

“Proporsi pekerja tetap maupun pekerja terdidik juga tidak meningkat secara signifikan. Artinya manfaatnya terkonsentrasi pada sebagian pekerja yang sudah masuk ke kawasan industri, bukan menciptakan kesempatan kerja baru bagi masyarakat lokal,” ujar Imaduddin.

Baca juga: Industri Nikel, Hilangnya Peran Lokal, dan Timpangnya Dana Bagi Hasil

Menurut dia, kontribusi industri terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sulawesi Tengah memang meningkat tajam sejak 2018.

Namun, peningkatan tersebut belum sepenuhnya diikuti dengan penguatan keterkaitan ekonomi antara kawasan industri dan sektor-sektor ekonomi lokal.

Kondisi ini menunjukkan bahwa besarnya investasi dan kontribusi industri terhadap perekonomian daerah belum otomatis menjamin pemerataan manfaat hilirisasi bagi masyarakat sekitar.

Dengan demikian, tantangan hilirisasi ke depan bukan hanya membangun lebih banyak fasilitas pengolahan mineral di luar Jawa, tetapi juga memastikan terbentuknya keterkaitan ekonomi yang lebih kuat dengan masyarakat dan sektor usaha lokal.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Hilirisasi Mineral Dorong Ekonomi ke Daerah, tetapi Manfaatnya Belum Merata
Hilirisasi Mineral Dorong Ekonomi ke Daerah, tetapi Manfaatnya Belum Merata
Pemerintah
Adopsi AI Meningkat, Para CEO Pertimbangkan Pengurangan Tenaga Kerja
Adopsi AI Meningkat, Para CEO Pertimbangkan Pengurangan Tenaga Kerja
LSM/Figur
Studi Ungkap Garam Laut dari Pulau Lombok Terkontaminasi Mikroplastik
Studi Ungkap Garam Laut dari Pulau Lombok Terkontaminasi Mikroplastik
Pemerintah
Populasi Gajah Sumatera Tersisa 900-1.350 Ekor, Kemenhut Susun Strategi Konservasi
Populasi Gajah Sumatera Tersisa 900-1.350 Ekor, Kemenhut Susun Strategi Konservasi
Pemerintah
Deteksi Dini Jadi Kunci Cegah Kebakaran Meluas di TNBTS
Deteksi Dini Jadi Kunci Cegah Kebakaran Meluas di TNBTS
LSM/Figur
Tak Sekadar Bantu Ekonomi, TJSL PLN Dorong Nelayan Jaga Laut dan Buka Lapangan Kerja
Tak Sekadar Bantu Ekonomi, TJSL PLN Dorong Nelayan Jaga Laut dan Buka Lapangan Kerja
BUMN
Jejak 18 Tahun, Ketika Kebiasaan Sehat Menjadi Warisan bagi Generasi Indonesia
Jejak 18 Tahun, Ketika Kebiasaan Sehat Menjadi Warisan bagi Generasi Indonesia
Swasta
CKG Ungkap 1 dari 3 Pelajar di Indonesia Alami Anemia, Remaja Putra Juga Tinggi
CKG Ungkap 1 dari 3 Pelajar di Indonesia Alami Anemia, Remaja Putra Juga Tinggi
Pemerintah
Microsoft Manfaatkan Teknologi Bioakustik AI untuk Konservasi Paus
Microsoft Manfaatkan Teknologi Bioakustik AI untuk Konservasi Paus
Pemerintah
Kemenkes: Gejala Cemas dan Depresi Anak Meningkat Seiring Usia, Tertinggi di Jenjang SMA
Kemenkes: Gejala Cemas dan Depresi Anak Meningkat Seiring Usia, Tertinggi di Jenjang SMA
Pemerintah
Harga Minyak Naik, Indonesia Berisiko Rugi Rp 231 Triliun hingga Akhir 2026
Harga Minyak Naik, Indonesia Berisiko Rugi Rp 231 Triliun hingga Akhir 2026
LSM/Figur
Ilmuwan: Suhu Lautan Dunia Catat Rekor Terpanas sepanjang Bulan Juli
Ilmuwan: Suhu Lautan Dunia Catat Rekor Terpanas sepanjang Bulan Juli
Pemerintah
Penghijauan di Bandung Tak Cukup dengan Tanam Pohon, Harus Terhubung Jadi Koridor Hijau
Penghijauan di Bandung Tak Cukup dengan Tanam Pohon, Harus Terhubung Jadi Koridor Hijau
LSM/Figur
Kabar Baik, Angka Kerusakan Hutan Amazon Catat Rekor Terendah
Kabar Baik, Angka Kerusakan Hutan Amazon Catat Rekor Terendah
Pemerintah
IPB: Populasi Orang Utan Sumatra Turun dan Masuk Keadaan Darurat Konservasi
IPB: Populasi Orang Utan Sumatra Turun dan Masuk Keadaan Darurat Konservasi
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau