JAKARTA, KOMPAS.com - Hilirisasi mineral dinilai mulai menggeser pusat aktivitas ekonomi Indonesia dari Pulau Jawa menuju daerah-daerah penghasil sumber daya mineral.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut pergeseran tersebut tercermin dari besarnya investasi yang masuk ke wilayah di luar Jawa untuk pengembangan industri pengolahan mineral.
Direktur Jenderal Mineral dan Batubara (Minerba) Kementerian ESDM Tri Winarno mengatakan, realisasi investasi hilirisasi di luar Pulau Jawa telah mencapai sekitar Rp 227 triliun.
Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi mulai bergerak mendekati sumber daya alam yang selama ini menjadi bahan baku industri.
Baca juga: Saatnya Manfaat Hilirisasi Nikel di Morowali Dibagi Lebih Adil bagi Daerah
“Ini penting dan menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi mulai bergerak dari wilayah Jawa atau wilayah di mana tidak dekat atau jauh dari sumber daya, menjadi semakin dekat dengan sumber daya,” ujar Tri dalam forum Global South Dialogue on Critical Mineral and Green Industrialization di Jakarta, Jumat (14/8/2026).
Realisasi investasi hilirisasi mineral pada semester I-2026 sendiri mencapai Rp 206,5 triliun. Angka tersebut menjadi yang terbesar dibandingkan sektor hilirisasi lainnya.
Tri mengatakan, pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian di dekat sumber bahan baku dapat memperpendek rantai pasok sekaligus mendorong terbentuknya pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di daerah.
Saat ini, terdapat 26 proyek hilirisasi strategis nasional dengan nilai sekitar Rp 225 triliun yang sedang dikembangkan.
Menurut Tri, hilirisasi mineral memberikan setidaknya empat dampak terhadap perekonomian.
Pertama, meningkatkan nilai tambah komoditas melalui pengolahan dan pemurnian sehingga produk yang dihasilkan memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
Kedua, memperkuat penerimaan negara. PNBP sektor minerba pada 2025 tercatat mencapai Rp 135,16 triliun. Hingga Juni 2026, penerimaan dari sektor tersebut telah mencapai Rp 76,6 triliun.
Ketiga, meningkatkan investasi dan penyerapan tenaga kerja melalui pembangunan smelter dan industri turunannya.
Investasi subsektor minerba pada 2025 tercatat sebesar 6,7 miliar dollar AS atau sekitar Rp 119,43 triliun. Sementara itu, tenaga kerja yang terserap secara langsung di subsektor minerba hingga semester I-2026 mencapai 685.724 orang.
“Ini yang tenaga kerja yang langsung, tetapi tenaga kerja yang tidak langsung lebih dari itu,” tutur Tri.
Baca juga: Saatnya Manfaat Hilirisasi Nikel di Morowali Dibagi Lebih Adil bagi Daerah
Keempat, hilirisasi dinilai mulai membangun fondasi industri strategis nasional, termasuk industri baterai kendaraan listrik, alumina, stainless steel, tembaga, dan logam mulia.
“Inilah yang kita maksud ketika menyebut hilirisasi sebagai salah satu mesin transformasi ekonomi di Indonesia,” ucapnya.
Meski pemerintah melihat hilirisasi sebagai mesin pertumbuhan ekonomi baru, manfaatnya di tingkat daerah belum tentu dirasakan secara merata oleh masyarakat lokal.
Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Green Transition Initiative (GTI) Imaduddin Abdullah mengatakan, kondisi tersebut terlihat dari perkembangan industri hilirisasi nikel di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah.
Berdasarkan analisis INDEF GTI menggunakan metode Difference in Difference, keberadaan smelter di Morowali memang meningkatkan pendapatan pekerja sekitar 10 persen dan memperluas akses terhadap perlindungan sosial sekitar 2,4 persen.
Namun, peningkatan tersebut belum diikuti penciptaan lapangan kerja yang signifikan bagi masyarakat lokal.
“Proporsi pekerja tetap maupun pekerja terdidik juga tidak meningkat secara signifikan. Artinya manfaatnya terkonsentrasi pada sebagian pekerja yang sudah masuk ke kawasan industri, bukan menciptakan kesempatan kerja baru bagi masyarakat lokal,” ujar Imaduddin.
Baca juga: Industri Nikel, Hilangnya Peran Lokal, dan Timpangnya Dana Bagi Hasil
Menurut dia, kontribusi industri terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sulawesi Tengah memang meningkat tajam sejak 2018.
Namun, peningkatan tersebut belum sepenuhnya diikuti dengan penguatan keterkaitan ekonomi antara kawasan industri dan sektor-sektor ekonomi lokal.
Kondisi ini menunjukkan bahwa besarnya investasi dan kontribusi industri terhadap perekonomian daerah belum otomatis menjamin pemerataan manfaat hilirisasi bagi masyarakat sekitar.
Dengan demikian, tantangan hilirisasi ke depan bukan hanya membangun lebih banyak fasilitas pengolahan mineral di luar Jawa, tetapi juga memastikan terbentuknya keterkaitan ekonomi yang lebih kuat dengan masyarakat dan sektor usaha lokal.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya