JAKARTA, KOMPAS.com - Emisi nitrogen oksida (NOx) di Indonesia meningkat lebih dari 50 persen sejak 2010. Kenaikan emisi tersebut berpotensi memperbesar pembentukan partikel udara berukuran sangat kecil atau PM2,5 yang dapat terhirup masyarakat.
Studi terbaru Center for Research on Energy and Clean Air (CREA) menemukan 29 titik panas (hotspot) emisi NOx yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Temuan tersebut menunjukkan sumber polusi tidak hanya berasal dari aktivitas kendaraan di kawasan perkotaan, tetapi juga pembangkit listrik berbahan bakar fosil, kawasan industri, pertambangan, hingga pusat hilirisasi nikel.
Baca juga: Tak Lagi Bebas Polusi, Plastik Ditemukan di Lapisan Tanah Murni Antartika
Studi bertajuk "Memetakan yang Tak Kasat Mata: Sebuah Satelit Mengungkap Hotspot NOx di Indonesia" tersebut menggunakan teknologi penginderaan satelit untuk mengidentifikasi titik-titik dengan konsentrasi emisi NOx tinggi.
Jumlah 29 titik panas yang ditemukan tiga kali lebih banyak dibandingkan pemetaan sebelumnya yang hanya mengidentifikasi sembilan titik.
Analis CREA Katherine Hasan mengatakan, kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan polusi NOx di Indonesia telah menjadi isu multisektoral.
“Di samping sektor transportasi yang berkontribusi sebagai sumber bergerak, studi ini memetakan sumber-sumber emisi stasioner, seperti pembangkit listrik berbasis batu bara (PLTU) dan gas (PLTG), kawasan industri di Jawa, hingga kompleks hilirisasi nikel di Sulawesi dan Maluku Utara,” ujar Katherine dalam keterangan tertulis, Jumat (14/8/2026).
Menurut dia, pemetaan tersebut menunjukkan sebaran emisi NOx telah melampaui kawasan yang selama ini dikenal sebagai pusat aktivitas kendaraan dan perkotaan.
CREA mengelompokkan 29 hotspot NOx ke dalam empat kategori utama, yakni kawasan perkotaan yang berdekatan dengan pembangkit listrik dan industri, kawasan industri besar di kota kecil, kawasan pengolahan nikel, serta kawasan pertambangan.
Sebanyak sembilan hotspot berada di kota-kota padat penduduk, termasuk Jabodetabek, Surabaya, dan Medan. Tingginya aktivitas kendaraan di kawasan tersebut juga berdekatan dengan fasilitas pembangkit listrik berbahan bakar fosil.
Sembilan hotspot lainnya berada di kawasan industri, termasuk pabrik semen dan pabrik kertas di wilayah pedesaan maupun pinggiran kota di Jawa dan Sumatra.
Jakarta Utara dan kawasan luar Bekasi menjadi dua wilayah dengan tingkat hotspot NOx tertinggi. Selanjutnya terdapat Suralaya di Banten dan Karawang Barat-Cikampek.
Gabungan sejumlah titik tersebut membentuk *airshed* dengan tingkat polusi kronis di kawasan metropolitan Jabodetabek.
Sementara itu, lima hotspot berasal dari aktivitas pertambangan batu bara di Kalimantan. Enam hotspot lainnya teridentifikasi di kawasan hilirisasi nikel berbasis batu bara di Sulawesi dan Maluku Utara.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya