Temuan ini menunjukkan peningkatan aktivitas industri dan ekonomi belum sepenuhnya diikuti dengan pemisahan pertumbuhan ekonomi dari ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Persoalan emisi NOx tidak hanya berkaitan dengan paparan gas tersebut secara langsung.
Di atmosfer, NOx dapat bereaksi dan membentuk polutan lain, termasuk ozon permukaan dan partikel halus PM2,5. Kedua jenis polutan tersebut dapat berdampak terhadap kesehatan masyarakat.
Paparan NOx dan PM2,5 diketahui berkaitan dengan gangguan sistem pernapasan dan kardiovaskular. Risiko tersebut menjadi lebih besar bagi kelompok rentan, seperti anak-anak dan lansia yang tinggal di sekitar sumber emisi.
Baca juga: Polusi dan Kiriman Sampah Jadi Tantangan Rehabilitasi Mangrove di Jakarta
Guru Besar Kesehatan Lingkungan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) sekaligus Peneliti ISER UI, Budi Haryanto mengatakan, paparan NOx dan PM2,5 dapat berdampak langsung terhadap organ pernapasan dan sistem kardiovaskular.
“Untuk mencegah penyiaran beban biaya kesehatan nasional dan melindungi produktivitas generasi mendatang, pemerintah harus memperketat standar kualitas udara yang selaras dengan WHO serta menempatkan dampak kesehatan sebagai pertimbangan utama dalam setiap kebijakan energi dan industri,” ucap Budi.
Studi CREA juga menyoroti sistem pemantauan kualitas udara di Indonesia. Menurut temuan tersebut, standar kualitas udara ambien tahunan Indonesia untuk NOx masih lima kali lebih longgar dibandingkan pedoman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Selain itu, sejumlah hotspot emisi berada di luar jangkauan stasiun pemantauan resmi. Kondisi ini berpotensi membuat paparan polusi di sejumlah komunitas tidak terpantau secara optimal.
CREA mendorong pemerintah membangun sistem pemantauan kualitas udara publik yang lebih transparan dan mudah diakses.
Sistem tersebut dapat mengintegrasikan data satelit, laporan emisi, serta hasil pengukuran dari cerobong industri. Data yang terintegrasi kemudian dapat digunakan sebagai sistem peringatan dini (*early warning system*/EWS) ketika terjadi lonjakan polusi.
CREA juga mendorong penerapan Best Available Technologies (BAT) pada sektor-sektor yang menjadi sumber utama emisi.
Senior Advisor dan Co-Founder Nexus3 Foundation Yuyun Ismawati menilai transparansi data menjadi salah satu kunci untuk memperkuat perlindungan masyarakat dari paparan polusi.
Menurut dia, persoalan kualitas udara kini tidak hanya terjadi di Jakarta, tetapi juga meluas ke kawasan industri di Jawa hingga pusat pengolahan nikel di Sulawesi dan Maluku Utara.
“Industri harus diwajibkan oleh pemerintah untuk membagikan data polusi pabrik agar warga mengetahui kondisi udara di sekitarnya,” ujar Yuyun.
Ia menilai pemerintah perlu beralih dari sistem pelaporan pasif menuju pengawasan dan intervensi yang lebih tegas serta berbasis data.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya