Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sistem Kesehatan Asia Pasifik Hadapi Tekanan Ganda dari Perubahan Iklim dan AI

Kompas.com, 14 Agustus 2026, 21:06 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber CNA

Situasi ini membuat upaya pencegahan penyakit menjadi makin penting.

“Pencegahan adalah kuncinya. Kita butuh pendekatan di mana semua kebijakan memperhitungkan dampaknya bagi kesehatan. Jika kita mengutamakan sudut pandang kesehatan, kita bisa menyelamatkan banyak nyawa. Kita akan membuat keputusan yang sangat berbeda dalam menata kota, menghasilkan energi, serta mengurus perdagangan dan ekonomi,” kata Isles.

Tantangan dari AI

AI juga menjadi fokus utama dalam forum ini. Teknologi ini bisa membantu fasilitas kesehatan mengatasi berbagai keterbatasan yang ada. Namun, AI juga memicu kekhawatiran terkait ketimpangan, aturan hukum, dan tanggung jawab.

"AI sudah mulai digunakan untuk membantu dokter mengurus rekam medis, mendiagnosis penyakit, dan mengambil keputusan medis," kata Hiromasa Okayasu, Direktur Data, Strategi, dan Inovasi WHO untuk Pasifik Barat.

Salah satu manfaat utamanya adalah memangkas waktu yang dihabiskan dokter dan perawat untuk urusan administrasi dan surat-menyurat.

“Jika AI bisa menyelesaikan semua tugas pelaporan, pencatatan, dan koordinasi ini, maka dokter dan perawat punya lebih banyak waktu untuk merawat pasien,” ujar Okayasu.

Pemeriksaan awal (triage) berbasis AI juga bisa mempermudah akses kesehatan di daerah terpencil. Caranya dengan menganalisis tanda-tanda vital dan gejala pasien secara cepat untuk menentukan apakah mereka perlu dirujuk ke rumah sakit atau tidak.

Selain itu, teknologi ini juga membantu dalam membaca hasil rontgen/pemindaian medis dan mendiagnosis penyakit.

Namun, akses terhadap AI masih belum merata. Okayasu menyebutkan bahwa penggunaan AI di dunia kesehatan saat ini masih terpusat di negara-negara kaya, yang berpotensi memperlebar jurang ketimpangan jika negara-negara miskin tertinggal.

“Jika kita tidak melakukan apa-apa, jurang ketimpangan ini akan makin lebar. Selain itu, kepintaran AI sangat bergantung pada data yang dipelajarinya. Karena itu, saat suatu negara menggunakan sistem AI dari negara lain, penyesuaian dan pengujian dengan data lokal sangatlah penting,” katanya.

Baca juga: AI Bisa Modernisasi Perdagangan Asia-Pasifik, Tapi Adopsi Belum Merata

Tantangan dalam membuat kebijakan adalah menemukan keseimbangan yang pas. Aturan yang terlalu ketat bisa menghambat penggunaan AI di daerah yang sebenarnya membutuhkan, sementara pengawasan yang terlalu longgar berisiko menimbulkan bias dan penyalahgunaan.

Tingkat kesiapan infrastruktur, sumber daya, dan kemampuan membuat aturan di setiap negara juga sangat berbeda-beda.

Dibandingkan menunggu sampai semua fasilitas siap, Okayasu menyarankan agar negara-negara dengan sumber daya terbatas mulai menerapkan AI pada tugas-tugas yang berisiko rendah tetapi berdampak besar, sambil bertahap membangun aturan hukumnya.

Namun, ia menegaskan bahwa ketika AI digunakan untuk membantu mendiagnosis penyakit atau menentukan pengobatan, tanggung jawab akhir tetap berada di tangan tenaga medis.

“Kita menghadapi banyak tantangan yang sama: penyakit menular, perubahan iklim, kurangnya tenaga medis, masalah pendanaan kesehatan, bertambahnya populasi lansia, maraknya penyakit tidak menular, serta pesatnya perkembangan AI dan kesehatan digital,” tutur Menteri Kesehatan Kamboja Chheang Ra.

“Tidak ada satu negara pun yang bisa melindungi rakyatnya dengan bertindak sendirian. Masalah kesehatan tidak mengenal batas negara, jadi jalan keluarnya pun harus melintasi batas negara,” katanya lagi.

Ia menyatakan bahwa tiap negara perlu bekerja sama dan saling berbagi informasi untuk meningkatkan deteksi dan penanganan wabah penyakit. Selain itu, negara-negara juga harus saling bertukar pengalaman dalam hal pelatihan dan perencanaan tenaga medis.

“Kesehatan global harus dibangun bersama-sama,” tegasnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
PLN Siap Kembangkan Panas Bumi Gunung Ungaran, Kajian Lingkungan dan Sosial Jadi Perhatian
PLN Siap Kembangkan Panas Bumi Gunung Ungaran, Kajian Lingkungan dan Sosial Jadi Perhatian
BUMN
Gelar Rembug Nasional 2026, KTNA Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor Pertanian dan Perikanan
Gelar Rembug Nasional 2026, KTNA Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor Pertanian dan Perikanan
LSM/Figur
Kenaikan Suhu 1 Derajat Celsius Bisa Pangkas Pendapatan UMKM hingga 14 Persen
Kenaikan Suhu 1 Derajat Celsius Bisa Pangkas Pendapatan UMKM hingga 14 Persen
Pemerintah
Dampak Panas Ekstrem, Sebabkan Kerugian Finansial Dunia Kerja
Dampak Panas Ekstrem, Sebabkan Kerugian Finansial Dunia Kerja
Pemerintah
Bagaimana Negara Cegah Bencana Jadi Krisis Pangan, Analisis Tunjukan
Bagaimana Negara Cegah Bencana Jadi Krisis Pangan, Analisis Tunjukan
Pemerintah
Asap Kebakaran Hutan Terbukti Lebih Toksik dari Polusi Udara Lainnya
Asap Kebakaran Hutan Terbukti Lebih Toksik dari Polusi Udara Lainnya
Pemerintah
Udara Bersih Berdampak Positif pada Perkembangan Anak Usia Dini
Udara Bersih Berdampak Positif pada Perkembangan Anak Usia Dini
Pemerintah
Kebakaran Hutan Dorong Populasi Gajah Sumatra ke Ambang Kepunahan
Kebakaran Hutan Dorong Populasi Gajah Sumatra ke Ambang Kepunahan
Pemerintah
Petani Hortikultura Skala Kecil Perlu Konsolidasi untuk Perkuat Daya Saing
Petani Hortikultura Skala Kecil Perlu Konsolidasi untuk Perkuat Daya Saing
Pemerintah
PBB: Perang Besar Jadi Ancaman Global Paling Ditakuti Masyarakat Dunia
PBB: Perang Besar Jadi Ancaman Global Paling Ditakuti Masyarakat Dunia
Pemerintah
Laporan Sumber Daya Air Global: Benua di Seluruh Dunia Makin Mengering
Laporan Sumber Daya Air Global: Benua di Seluruh Dunia Makin Mengering
Pemerintah
BRIN Dorong Varietas Tanaman Tahan Banjir, Kekeringan hingga Salinitas
BRIN Dorong Varietas Tanaman Tahan Banjir, Kekeringan hingga Salinitas
LSM/Figur
Perkuat Bisnis, Perusahaan Genjot Pengeluaran untuk Adaptasi Iklim
Perkuat Bisnis, Perusahaan Genjot Pengeluaran untuk Adaptasi Iklim
Pemerintah
Kisah Warga Setu Olah Sampah Organik untuk 'Urban Farming' Tanaman Anggur
Kisah Warga Setu Olah Sampah Organik untuk "Urban Farming" Tanaman Anggur
LSM/Figur
Menjadi Ruang Tumbuh Anak Pekerja, Begini Peran SD YPTSS di Solok Selatan
Menjadi Ruang Tumbuh Anak Pekerja, Begini Peran SD YPTSS di Solok Selatan
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau