JAKARTA, KOMPAS.com - Keselamatan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) tidak hanya bergantung pada kecanggihan desain reaktor, bahan bakar, maupun sistem pengaman.
Pengendalian kimia air pendingin menjadi salah satu faktor penting untuk mencegah degradasi material yang dapat memengaruhi keselamatan operasi reaktor.
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Teknologi Reaktor Nuklir Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Geni Rina Sunaryo mengatakan, perubahan kecil pada kondisi kimia pendingin dapat memicu rangkaian proses yang berujung pada korosi dan degradasi material struktur reaktor.
“Kimia pendingin menjadi kritis, karena perubahan kecil di dalam air kemudian berkembang menjadi rangkaian degradasi material,” ujar Geni, dilansir dari laman resmi BRIN, Sabtu (1/8/2026).
Baca juga: Perlombaan Nuklir Global, PLTN Turbin Gas Atasi Kendala Biaya dan Skala
Menurut Geni, air dalam sistem reaktor bukan sekadar fluida yang berfungsi memindahkan panas. Air merupakan bagian dari sistem kimia yang terus mengalami perubahan akibat paparan radiasi, temperatur tinggi, serta interaksi dengan material struktur.
Radiasi dapat menguraikan air menjadi berbagai spesies reaktif, radikal, dan oksidator. Kondisi tersebut kemudian memengaruhi keadaan redox dan dapat mempercepat korosi material struktur reaktor.
Produk korosi yang terbawa aliran pendingin juga dapat teraktivasi dan meningkatkan paparan radiasi sekunder terhadap pekerja.
Karena itu, sejumlah parameter kimia seperti pH, konduktivitas, oksigen terlarut, hidrogen peroksida, hingga produk korosi perlu dipantau secara ketat.
“Perubahan kecil kimia sekecil apa pun adalah sinyal awal anomali sistem,” tutur Geni.
Pentingnya pengendalian kimia pendingin tersebut berkaitan erat dengan upaya menjaga kondisi material reaktor selama masa operasi.
Dalam orasi ilmiah pengukuhan Profesor Riset berjudul "Tata Kelola Kimia Pendingin Reaktor Nuklir Menuju Era PLTN untuk Kemandirian Energi di Indonesia", Geni memaparkan hasil penelitian mengenai radiokimia dan degradasi material pada Reaktor Serbaguna G.A. Siwabessy (RSG-GAS).
Hasil riset menunjukkan, laju degradasi material pada RSG-GAS berada di bawah 0,05 milimeter per tahun. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan batas desain industri sebesar 0,1 milimeter per tahun.
Menurut Geni, temuan tersebut menunjukkan bahwa pengendalian kualitas air yang ketat dapat menekan laju korosi sekaligus mempertahankan margin keselamatan reaktor.
Data mengenai degradasi material tersebut juga dapat digunakan sebagai dasar untuk aging management, estimasi umur sisa komponen, strategi inspeksi, serta evaluasi keselamatan reaktor.
Riset Geni mencakup tiga aspek yang menjadi penghubung antara penelitian fundamental dan penerapan keselamatan reaktor.
Pertama, penelitian radiokimia untuk memvalidasi data primer mengenai radiolisis air pada temperatur tinggi dan iradiasi neutron cepat melalui parameter nilai-G dan kinetika reaksi.
Kedua, surveillance lapangan dan aging management, terutama melalui basis data degradasi material yang diperoleh dari pengalaman operasi RSG-GAS di lingkungan tropis.
Baca juga: Gandeng IAEA dan Negara Mitra, Singapura Matangkan Pemanfaatan PLTN
Ketiga, adaptasi hasil penelitian menuju teknologi reaktor generasi lanjut, termasuk High Temperature Gas-cooled Reactor (HTGR), Reaktor Daya Eksperimental (RDE), dan Small Modular Reactor (SMR).
Geni kemudian memperkenalkan konsep Predictive Coolant Chemistry sebagai pendekatan untuk meningkatkan keselamatan pengelolaan kimia pendingin reaktor.
Pendekatan tersebut mengintegrasikan data radiolisis, basis data degradasi material, sensor real-time, analitik, kecerdasan buatan, dan digital twin.
Dengan pendekatan tersebut, pengelolaan kimia pendingin tidak lagi hanya dilakukan setelah suatu parameter melewati batas operasi. Sistem diarahkan untuk membaca kecenderungan perubahan sejak munculnya gejala awal.
Dengan demikian, potensi anomali dapat teridentifikasi sebelum berkembang menjadi persoalan yang lebih besar terhadap sistem reaktor.
“Artinya, riset kimia pendingin tidak lagi berhenti di laboratorium. Ia menjadi dasar keselamatan, desain, regulasi, dan kebijakan nasional,” ucapnya.
Menurut Geni, pendekatan tersebut menjadi semakin relevan seiring rencana pengembangan teknologi nuklir, termasuk PLTN dan SMR, di Indonesia.
Geni menilai kesiapan Indonesia menuju pengembangan PLTN dan SMR tidak cukup hanya dengan menguasai teknologi reaktor. Indonesia juga harus memiliki kemampuan nasional untuk mengatur, mengawasi, dan memverifikasi aspek keselamatan teknologi tersebut.
Ia menyebut setidaknya ada tiga fondasi yang perlu diperkuat.
Pertama, regulasi yang mandiri dan berbasis data, termasuk data radiolisis, korosi, dan degradasi material.
Kedua, penguatan BRIN sebagai Technical Support Organization (TSO) nasional yang dapat melakukan verifikasi terhadap klaim keselamatan yang disampaikan oleh vendor teknologi reaktor.
Ketiga, pembangunan kepercayaan publik melalui komunikasi mengenai keselamatan nuklir yang transparan, terukur, mudah dipahami, dan berbasis sains.
Baca juga: Buka Data, BRIN Sebut PLTN Lebih Irit dari Batu Bara dan Siap Dukung EV
“Keselamatan nuklir tidak berhenti pada kata-kata saja. Tetapi harus dapat diukur, diverifikasi, dan dipertanggungjawabkan kepada masyarakat,” ujar Geni.
Menurutnya, tata kelola kimia pendingin merupakan bagian dari fondasi kesiapan Indonesia menuju pemanfaatan teknologi nuklir untuk mendukung kemandirian energi.
Hal-hal yang tidak terlihat secara kasatmata, seperti radikal kimia, perubahan kondisi redox, dan korosi pada material, dapat menjadi indikator awal kondisi sistem reaktor.
Melalui pengukuran, pemodelan, dan pemanfaatan teknologi digital, perubahan tersebut dapat dipantau sehingga potensi masalah dapat diketahui lebih awal.
“Karena itu, keselamatan adalah fondasi, sains adalah kekuatan, dan kemandirian adalah tujuan,” tutur Geni.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya