KOMPAS.com - PBB memperingatkan fenomena cuaca El Niño yang berkembang cepat berisiko mendorong sekitar 50 juta orang ke dalam krisis kelaparan akut sebelum akhir tahun depan.
Kondisi ini makin memperburuk keadaan ratusan juta orang yang sudah lebih dulu kelaparan akibat kekeringan panjang di Afrika serta lonjakan harga pangan dampak perang di Iran.
Melansir Guardian, Rabu (5/8/2026) Program Pangan Dunia (WFP) milik PBB menyebut bahwa meskipun dampak El Niño nantinya tidak separah perkiraan, fenomena ini tetap akan memperparah krisis pangan.
Hal ini bisa menambah lebih dari 20 persen jumlah warga dunia yang mengalami krisis pangan akut, dari total 225 juta orang di 45 negara saat ini.
Kawasan Amerika Tengah, Amerika Selatan, Karibia, dan Afrika bagian selatan diperkirakan menjadi wilayah yang terdampak paling parah. Sementara itu, wilayah Asia Selatan dan Asia Tenggara diprediksi akan mengalami curah hujan yang jauh lebih sedikit dari biasanya, yang berpotensi memicu masalah serius bagi sektor pertanian dan para petani.
Baca juga: Air Bersih Langka, Kelaparan dan Krisis Pangan Dunia Mengintai
Fenomena El Niño tahun ini diprediksi menjadi yang terkuat dalam 70 tahun terakhir. Beberapa pihak bahkan menyebutnya sebagai “Super El Niño”, meskipun istilah ini belum diakui secara resmi.
Satu hal yang pasti, dampak dan kekuatan El Niño kali ini makin parah akibat krisis iklim. Sebelumnya, para ahli memperingatkan bahwa El Niño yang kuat, jika berpadu dengan pemanasan global, bisa menjadikan tahun ini atau kemungkinan besar tahun 2027 sebagai tahun terpanas dalam sejarah.
Analis dari sektor swasta telah memperingatkan bahaya El Niño terhadap lonjakan harga pangan dunia. Namun, laporan dari WFP ini menjadi yang pertama yang menyoroti dampaknya secara langsung terhadap krisis kelaparan global.
WFP berharap dapat menekan dampak cuaca ekstrem ini melalui sistem peringatan dini dan bantuan darurat pencegahan, dengan anggaran yang disiapkan setidaknya sebesar 80 juta dolar AS.
Dampaknya akan terasa dalam jangka panjang, karena cadangan makanan petani biasanya baru akan habis setelah melewati beberapa musim panen.
Misalnya di Afrika bagian selatan musim tanam utama berlangsung dari Oktober tahun ini hingga Maret 2027. Namun, dampak terburuknya baru akan sangat terasa sekitar sembilan bulan kemudian, yaitu saat masa paceklik setelah panen.
“Dampak terbesar terhadap ketahanan pangan di Afrika bagian selatan akan terjadi pada masa paceklik tahun 2027 hingga 2028,” kata Richard Choularton, direktur layanan iklim dan ketahanan WFP.
Para petani sedikit terbantu oleh sisa hasil panen tahun lalu yang terbilang sangat bagus.
“Pada akhir tahun 2025, harga pangan masih tergolong stabil, meskipun sempat ada tekanan kenaikan harga akibat perang di Timur Tengah,” ujar Jean-Martin Bauer, direktur ketahanan pangan WFP.
Sebelumnya, selama fenomena El Niño tahun 2015–2016, sekitar 60 hingga 100 juta orang terdampak krisis kelaparan akut. Istilah itu digunakan WFP untuk menggambarkan kondisi kelaparan parah sebelum sampai pada tahap kelaparan masal (famine).
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya