Air hasil ekstraksi rambut jagung dan daun pepaya selanjutnya dicampurkan secara bertahap ke dalam larutan tersebut sambil diaduk hingga homogen. Setelah itu, cairan dimasukkan ke dalam botol semprot steril.
Pemanfaatan bahan lokal tersebut membuat inovasi ini tidak hanya diarahkan untuk kebutuhan kesehatan masyarakat, tetapi juga memiliki aspek lingkungan dan ekonomi.
Limbah organik pertanian yang sebelumnya tidak dimanfaatkan dapat diolah menjadi produk bernilai guna. Pendekatan tersebut sekaligus mendorong prinsip zero waste dan membuka peluang pengembangan produk berbasis sumber daya lokal.
Pengembangan penangkal nyamuk berbahan alami tersebut berkaitan dengan kebutuhan pencegahan malaria, terutama di wilayah yang menjadi habitat nyamuk Anopheles.
Malaria ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles betina. Kondisi tropis dengan suhu hangat dan kelembapan tinggi di sejumlah wilayah Indonesia menjadi lingkungan yang mendukung perkembangbiakan nyamuk tersebut.
Karena itu, pencegahan gigitan nyamuk menjadi salah satu bagian penting dalam upaya mengurangi risiko penularan malaria.
Melalui Eco-Repel Spray, tim UNG tidak hanya berupaya menghasilkan alternatif penangkal nyamuk berbahan alami, tetapi juga menghubungkan upaya kesehatan masyarakat dengan pemanfaatan limbah pertanian.
Pendekatan tersebut diharapkan dapat memberikan nilai tambah terhadap bahan yang sebelumnya kurang dimanfaatkan sekaligus mendorong pengembangan solusi kesehatan berbasis potensi lokal.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya