Karena itu, cangkang kelapa sawit perlu melalui sejumlah tahapan pengolahan agar karakteristiknya memenuhi kebutuhan proses metalurgi, termasuk menjaga kadar abu agar tidak melebihi 10 persen.
Hasil uji coba yang dilakukan menunjukkan cangkang kelapa sawit memiliki performa yang dapat mendekati karbon berbasis batu bara dalam proses peleburan bijih besi dan nikel.
Namun, pemanfaatannya dalam skala industri masih membutuhkan kajian lebih lanjut untuk memastikan kesesuaian karakteristik material dengan kebutuhan proses metalurgi.
Asful juga mengingatkan bahwa pemanfaatan cangkang sawit perlu mempertimbangkan ketersediaannya. Pasalnya, dalam beberapa tahun terakhir, cangkang sawit mulai banyak digunakan oleh industri pengolahan kelapa sawit sebagai bahan bakar pembangkit listrik mandiri.
Baca juga: Industri Nikel, Hilangnya Peran Lokal, dan Timpangnya Dana Bagi Hasil
Karena itu, menurut dia, industri besi dan nikel dapat mengeksplorasi sumber biomassa lain yang berasal dari industri kelapa sawit, seperti tandan kosong kelapa sawit (TKKS) dan serat.
Pemanfaatan limbah tersebut berpotensi memperluas sumber bahan baku biomassa sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap batu bara dalam proses industri.
Pengembangan reduktor berbasis biomassa sejalan dengan kebutuhan dekarbonisasi industri nikel Indonesia yang terus berkembang seiring dengan ekspansi hilirisasi.
Sebelumnya, World Resources Institute (WRI) Indonesia bersama Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) telah menyusun Peta Jalan Dekarbonisasi Nikel.
Peta jalan tersebut mendorong industri nikel menurunkan emisi gas rumah kaca untuk mendukung pengembangan industri yang lebih berkelanjutan.
Climate Manager WRI Indonesia Egi Suarga mengatakan, salah satu upaya yang dipetakan adalah mencari sumber energi dan bahan bakar alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap batu bara.
"Selanjutnya, kami sedang melakukan pemetaan potensi pembangkit energi baru terbarukan di kawasan sekitar industri nikel sebagai pengganti sebagian kapasitas PLTU, dan pemetaan potensi biomassa dan gas bumi sebagai pengganti batubara dalam produksi," ujar Egi kepada Kompas.com, Senin (30/9/2024).
Dengan demikian, pemanfaatan biokokas dari limbah sawit tidak hanya berpotensi menjadi alternatif bahan bakar, tetapi juga dapat menjadi salah satu opsi reduksi emisi pada proses produksi besi dan nikel, terutama apabila tantangan teknis dan ketersediaan bahan bakunya dapat diatasi.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya