Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Koneksi Politisi Bikin Perusahaan yang Lakukan Greenwashing Lolos Sorotan

Kompas.com, 20 Agustus 2026, 20:30 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Perusahaan yang memiliki hubungan politik kuat lebih mudah lolos dari pengawasan terkait greenwashing, menurut penelitian terbaru dari Durham University Business School.

Greenwashing sendiri merupakan tindakan perusahaan yang berbohong atau berlebihan dalam mengklaim dirinya ramah lingkungan, padahal kenyataannya tidak demikian.

Riset ini dipimpin oleh Profesor Joseph Amankwah-Amoah bersama rekan-rekannya dari Sheffield Business School dan University of Bradford.

Melansir Phys, Rabu (19/8/2026) penelitian ini menemukan bahwa perusahaan yang mengeluarkan banyak uang untuk lobi-lobi politik cenderung lebih sedikit dikritik atas klaim ramah lingkungannya. Akibatnya, pesan-pesan kelestarian lingkungan yang menyesatkan jadi makin marak.

Hasil riset ini telah diterbitkan di jurnal International Marketing Review.

Baca juga: Praktik Greenwashing Perusahaan Naik di Tengah Anjloknya Kualitas Laporan ESG

Pengaruh politik dan greenwashing

Dalam studinya, para peneliti mempelajari berbagai dokumen dan contoh kasus nyata dari perusahaan-perusahaan internasional yang memiliki hubungan dekat dengan dunia politik.

Mereka membuat sebuah panduan analisis untuk melihat bagaimana kondisi pasar, aturan pemerintah, dan pandangan masyarakat bisa membuka celah terjadinya greenwashing.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan politik dapat memberi 'perlindungan' bagi perusahaan dari kejaran petugas hukum dan tuntutan masyarakat. Alhasil, mereka bisa membesar-besarkan klaim ramah lingkungan tanpa takut kena sanksi berat.

Para peneliti juga menegaskan bahwa memiliki citra peduli lingkungan kini telah menjadi alat pemasaran yang sangat penting bagi banyak bisnis.

Kondisi ini dapat mendorong beberapa perusahaan untuk sengaja berlebihan dalam mengklaim diri ramah lingkungan demi menarik perhatian pelanggan dan para pemilik modal.

Di sisi lain, aksi lobi-lobi yang masif serta hubungan dekat yang dibangun perusahaan dapat membuat para politisi enggan membongkar atau menindak praktik kebohongan lingkungan tersebut.

Perlu pengawasan independen

Para peneliti menegaskan perlunya aturan pelindung yang lebih kuat untuk memutus hubungan antara pengaruh politik dan praktik greenwashing.

Mereka mendesak adanya aturan internasional yang lebih konsisten terkait cara perusahaan melaporkan aksi lingkungannya, disertai penegakan hukum dan sanksi yang lebih tegas bagi mereka yang melanggar.

Studi ini menyoroti pentingnya sistem sertifikasi ramah lingkungan dan tindakan tegas pemerintah dalam mencegah klaim lingkungan yang menyesatkan.

Baca juga: Studi Sebut 98 Persen Janji Keberlanjutan Industri Daging dan Susu Hanya Greenwashing

Namun, para peneliti mengingatkan bahwa langkah-langkah ini hanya akan berhasil jika diawasi oleh lembaga regulator dan pembuat kebijakan yang independen.

Para peneliti menegaskan bahwa lembaga pengawas dan penyusun standar lingkungan harus benar-benar dilindungi dari pengaruh perusahaan yang seharusnya mereka awasi.

Menurut mereka, tanpa independensi tersebut, aturan hukum berisiko dirusak dan dimanfaatkan oleh perusahaan-perusahaan yang seharusnya dimintai pertanggungjawaban.

Para peneliti juga menyimpulkan bahwa keterbukaan informasi saja tidak akan cukup untuk memberantas greenwashing jika lembaga pengawas masih gampang diintervensi oleh tekanan politik maupun perusahaan.

Seiring makin tingginya tuntutan masyarakat agar bisnis benar-benar bertanggung jawab pada lingkungan, para peneliti menegaskan bahwa pengawasan yang efektif, standar yang jelas, serta penegakan hukum yang independen sangat dibutuhkan untuk menjaga kepercayaan publik dan menindak tegas klaim-klaim lingkungan yang palsu.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Hanya 2 dari 13 Produsen Batu Bara Indonesia yang Serius Diversifikasi Bisnis
Hanya 2 dari 13 Produsen Batu Bara Indonesia yang Serius Diversifikasi Bisnis
LSM/Figur
Koneksi Politisi Bikin Perusahaan yang Lakukan Greenwashing Lolos Sorotan
Koneksi Politisi Bikin Perusahaan yang Lakukan Greenwashing Lolos Sorotan
Pemerintah
Separuh Anak di Dunia Hadapi Berbagai Ancaman Iklim Secara Bersamaan
Separuh Anak di Dunia Hadapi Berbagai Ancaman Iklim Secara Bersamaan
Pemerintah
Musim Mas Raih Mahayuga Award 2026 sebagai Pelopor Industri Hijau
Musim Mas Raih Mahayuga Award 2026 sebagai Pelopor Industri Hijau
BrandzView
Singapura Jadi Pusat Pendanaan AI Terbesar di Asia Tenggara
Singapura Jadi Pusat Pendanaan AI Terbesar di Asia Tenggara
Pemerintah
Pemanfaatan Biokokas dari Cangkang Sawit Berpotensi Jadi Pengurang Emisi Industri Nikel
Pemanfaatan Biokokas dari Cangkang Sawit Berpotensi Jadi Pengurang Emisi Industri Nikel
LSM/Figur
Waspada Panas Ekstrem,  Lebih Berbahaya Bagi Warga Usia 60 Tahun ke Atas
Waspada Panas Ekstrem, Lebih Berbahaya Bagi Warga Usia 60 Tahun ke Atas
Pemerintah
Kementerian Kebudayaan Jadi Wali Data Masyarakat Adat, Cari Keseimbangan Ekonomi dan Lingkungan
Kementerian Kebudayaan Jadi Wali Data Masyarakat Adat, Cari Keseimbangan Ekonomi dan Lingkungan
Pemerintah
Isu Keandalan AI Kini Jadi Sorotan Petinggi Bisnis
Isu Keandalan AI Kini Jadi Sorotan Petinggi Bisnis
Pemerintah
Mayoritas Negara Diproyeksikan Gagal Capai Target Sistem Pangan 2030
Mayoritas Negara Diproyeksikan Gagal Capai Target Sistem Pangan 2030
Pemerintah
Baleg DPR RI Targetkan Pembahasan RUU Masyarakat Adat jadi UU Rampung di Awal 2027
Baleg DPR RI Targetkan Pembahasan RUU Masyarakat Adat jadi UU Rampung di Awal 2027
Pemerintah
Ancaman Laut Dunia, Praktik Illegal Fishing Makin Marak Meski Terus Ditekan
Ancaman Laut Dunia, Praktik Illegal Fishing Makin Marak Meski Terus Ditekan
Pemerintah
Microsoft Pangkas Pembelian Kredit Karbon hingga 80 Persen, Prioritaskan AI
Microsoft Pangkas Pembelian Kredit Karbon hingga 80 Persen, Prioritaskan AI
Pemerintah
Berbagai Tambang Batu Bara RI dengan Kapasitas 760 Juta Ton Berakhir Izinnya hingga 2035
Berbagai Tambang Batu Bara RI dengan Kapasitas 760 Juta Ton Berakhir Izinnya hingga 2035
LSM/Figur
Pemulihan Kawasan Bromo Pasca-Kebakaran Perlu Pertimbangkan Karakter Ekosistem
Pemulihan Kawasan Bromo Pasca-Kebakaran Perlu Pertimbangkan Karakter Ekosistem
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau