KOMPAS.com - Riset terbaru dari CDP mengungkapkan 55 persen kota dan daerah
di dunia kini memanfaatkan solusi berbasis alam untuk menghadapi perubahan iklim.
Riset berjudul ‘Nature for People and Places’ menganalisis data dari 1.005 kota dan daerah di 80 negara, yang dihuni oleh sekitar 1,32 miliar jiwa.
Melansir Edie, Kamis (20/8/2026) laporan menemukan bahwa mayoritas daerah tersebut telah menerapkan minimal satu solusi berbasis alam, seperti pemulihan ekosistem, pembangunan fasilitas hijau, hingga penanaman hutan kembali.
Selain itu, ditemukan pula bahwa 70 persen pemerintah daerah yang memiliki target penanganan iklim menjadikan solusi berbasis alam sebagai prioritas utama mereka.
CDP menemukan bahwa cuaca panas ekstrem, banjir perkotaan, dan hujan lebat menjadi ancaman iklim paling berbahaya yang dihadapi oleh pemerintah daerah saat ini.
Baca juga: Perubahan Iklim Bisa Bikin Tagihan Air Kota Naik Dua Kali Lipat
Misalnya saja, menurut laporan terbaru dari Walikota London dan Dewan Kota London, London berisiko mengalami kerugian hingga 36 miliar pound sterling setiap tahunnya pada 2050 akibat dampak perubahan iklim.
Kerugian ini mencakup penurunan produktivitas kerja, beban berlebih pada rumah sakit dan layanan darurat, gangguan bisnis, serta kerusakan fasilitas umum.
“Ada potensi kerja sama yang sangat besar antara aksi penanganan iklim dan penggunaan solusi alami. Di tengah anggaran pemerintah yang makin terbatas, pemerintah daerah harus bekerja lebih hemat dan efisien," ungkap Direktur Pusat Iklim ICLEI, Maryke van Staden.
“Mereka memiliki peluang untuk menciptakan solusi yang menguntungkan semua pihak dengan menggabungkan aksi penanganan iklim dan perlindungan alam. Taman dan ruang terbuka hijau membantu mendinginkan suhu kota. Atap dan dinding yang ditanami tumbuhan bisa menahan panas gedung. Pilihan aksi yang bisa dilakukan sangatlah banyak,” katanya lagi.
Pilihan solusi berbasis alam yang digunakan sendiri berbeda-beda di setiap wilayah tergantung risiko lingkungan yang dihadapi.
Pemerintah di Amerika Latin dan Afrika paling fokus pada pemulihan alam yang rusak. Pemerintah di Eropa dan Amerika Utara lebih fokus membangun fasilitas hijau seperti taman kota dan atap bernuansa tumbuhan.
Sementara itu, pemerintah daerah di Asia Tenggara, India, dan Jepang lebih fokus pada penanaman hutan kembali.
Data menunjukkan bahwa fokus pada kelestarian alam turut meningkatkan kesehatan masyarakat. Sebanyak 65 persen pemerintah daerah mencatat adanya manfaat kesehatan, mulai dari udara yang lebih bersih hingga kesehatan fisik dan mental yang lebih baik.
Hal ini secara langsung membantu mengatasi masalah kesehatan utama yang dikhawatirkan pemerintah, seperti penyakit jantung dan gangguan pernapasan.
Meskipun memiliki banyak manfaat, masih ada kekurangan dana yang besar untuk menjalankan proyek adaptasi iklim ini. Sebanyak 46 persen pemerintah daerah melaporkan bahwa keterbatasan anggaran menjadi penghambat utama mereka untuk melangkah lebih jauh.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya