Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Biaya Transportasi dan Masalah Ekonomi Hambat Distribusi Pangan Dunia

Kompas.com, 21 Agustus 2026, 19:49 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Studi baru menunjukkan bahwa jaringan transportasi dan ketimpangan ekonomi adalah faktor penting yang menentukan seberapa mudah masyarakat mendapat pasokan makanan.

Tim peneliti dari Universitas Oulu bersama Universitas Aalto dan PTT Finlandia membuat metode analisis baru untuk melihat seberapa efektif sistem transportasi global menghubungkan daerah penghasil makanan dengan daerah pembeli, baik dalam kondisi normal maupun saat terjadi gangguan.

Melansir Phys, Kamis (20/6/2026) ketahanan pangan dunia tidak hanya tergantung pada seberapa banyak panen yang dihasilkan, tetapi juga pada kemampuan jaringan transportasi untuk mengantar makanan ke tempat yang membutuhkan.

Untuk memahami masalah ini, para peneliti menggabungkan data global tentang produksi makanan, kebutuhan warga, jalur transportasi, dan biaya pengiriman demi menilai dampak sistem transportasi terhadap akses makanan di seluruh dunia.

Baca juga: Ancaman Baru Ketahanan Pangan: Petani Minim Regenerasi

Analisis ini berfokus pada kebutuhan gizi dari enam kelompok tanaman pangan utama dunia yakni gandum daerah iklim sedang (seperti gandum dan jelai), jagung, beras, sereal tropis (seperti sorgum), umbi-umbian tropis (seperti singkong), dan kacang-kacangan.

Keenam kelompok ini menyumbang sekitar separuh dari total kalori makanan yang diperjualbelikan secara internasional.

Studi ini kemudian meneliti tiga kondisi yaitu biaya angkut yang seragam, perbedaan kondisi ekonomi antardaerah, serta gangguan akibat gagal panen dan kerusakan infrastruktur jalan.

"Studi ini menegaskan bahwa ketersediaan makanan saja tidak menjamin masyarakat bisa mendapatkannya. Biaya transportasi dan ketimpangan ekonomi dapat menghalangi akses warga terhadap makanan, meskipun stok sebenarnya mencukupi," ujar Terhi Ala-Hulkko, peneliti dari Universitas Oulu.

Hasil analisis memperlihatkan bahwa jaringan transportasi saat ini belum mampu meratakan pasokan makanan dunia dengan baik. Kekurangan akses pangan terjadi di banyak wilayah, dan dampaknya paling parah dirasakan di sebagian kawasan Asia dan Afrika.

Ketimpangan ekonomi terbukti semakin memperburuk masalah ini dan menjadi faktor paling berpengaruh terhadap akses makanan. Ketika perbedaan tingkat pendapatan dan daya beli masyarakat diperhitungkan, jumlah makanan yang menumpuk tak terjual dan jumlah warga yang kekurangan makanan justru sama-sama meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa stok makanan sebenarnya ada, tetapi tidak bisa diangkut secara efisien ke tempat yang paling membutuhkan.

Baca juga: El Nino Godzilla, Ketahanan Pangan Nasional, dan Nasib Petani

Sebagian besar kebutuhan pangan yang tidak terpenuhi terpusat di Asia, terutama di kawasan Asia Selatan, Timur, dan Tenggara. Di Afrika, hasil studi menunjukkan bahwa hasil panen lokal sebenarnya bisa menjangkau warga jika biaya pengiriman dianggap sama rata.

Namun, ketika memperhitungkan tingginya biaya pengiriman di banyak wilayah Afrika, ada sangat banyak makanan yang akhirnya gagal terkirim. Ini membuktikan bahwa mahalnya ongkos kirim itu sendiri menjadi penghambat utama warga mendapatkan makanan.

"Karena jaringan transportasi adalah tulang punggung pengiriman pangan dunia, meningkatkan ketahanan pangan bukan cuma soal memproduksi makanan yang cukup, tetapi juga memastikan makanan itu bisa sampai ke tangan orang-orang yang membutuhkan. Artinya, kita harus memperhatikan fasilitas jalan dan jalur laut, biaya pengiriman, serta ketimpangan ekonomi yang bersama-sama menentukan mudah tidaknya akses ke bahan pangan," tegas Ossi Kotavaara, direktur penelitian dari Universitas Oulu.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dari Limbah Jadi Material Masa Depan, MYCL dan Parongpong Bangun Ekonomi Sirkular
Dari Limbah Jadi Material Masa Depan, MYCL dan Parongpong Bangun Ekonomi Sirkular
Swasta
Biaya Transportasi dan Masalah Ekonomi Hambat Distribusi Pangan Dunia
Biaya Transportasi dan Masalah Ekonomi Hambat Distribusi Pangan Dunia
Pemerintah
Startup MYCL Ubah Limbah Pertanian Jadi Biomaterial Pengganti Plastik
Startup MYCL Ubah Limbah Pertanian Jadi Biomaterial Pengganti Plastik
Swasta
Bank Dunia Kantongi Rp 70,78 Triliun dari Penjualan Obligasi Berkelanjutan
Bank Dunia Kantongi Rp 70,78 Triliun dari Penjualan Obligasi Berkelanjutan
Pemerintah
Cegah Bencana Iklim, Kota-Kota di Dunia Mulai Beralih ke Solusi Berbasis Alam
Cegah Bencana Iklim, Kota-Kota di Dunia Mulai Beralih ke Solusi Berbasis Alam
Pemerintah
Swasembada Energi dan Janji Net Zero Emissions
Swasembada Energi dan Janji Net Zero Emissions
Pemerintah
Atasi Darurat Sampah, Model Kemitraan TPS3R dan Industri Tekan Penumpukan di TPA
Atasi Darurat Sampah, Model Kemitraan TPS3R dan Industri Tekan Penumpukan di TPA
Swasta
Keanekaragaman Hayati Jadi Modal Ekonomi Baru Indonesia
Keanekaragaman Hayati Jadi Modal Ekonomi Baru Indonesia
LSM/Figur
Putus Rantai TBC, Universitas Pakuan Perkuat Deteksi Dini di Bogor
Putus Rantai TBC, Universitas Pakuan Perkuat Deteksi Dini di Bogor
LSM/Figur
Ekspor Monyet Ekor Panjang Dinilai Tak Sejalan dengan Tren Riset Tanpa Hewan
Ekspor Monyet Ekor Panjang Dinilai Tak Sejalan dengan Tren Riset Tanpa Hewan
LSM/Figur
Hanya 2 dari 13 Produsen Batu Bara Indonesia yang Serius Diversifikasi Bisnis
Hanya 2 dari 13 Produsen Batu Bara Indonesia yang Serius Diversifikasi Bisnis
LSM/Figur
Koneksi Politisi Bikin Perusahaan yang Lakukan Greenwashing Lolos Sorotan
Koneksi Politisi Bikin Perusahaan yang Lakukan Greenwashing Lolos Sorotan
Pemerintah
Separuh Anak di Dunia Hadapi Berbagai Ancaman Iklim Secara Bersamaan
Separuh Anak di Dunia Hadapi Berbagai Ancaman Iklim Secara Bersamaan
Pemerintah
Musim Mas Raih Mahayuga Award 2026 sebagai Pelopor Industri Hijau
Musim Mas Raih Mahayuga Award 2026 sebagai Pelopor Industri Hijau
BrandzView
Singapura Jadi Pusat Pendanaan AI Terbesar di Asia Tenggara
Singapura Jadi Pusat Pendanaan AI Terbesar di Asia Tenggara
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau