BANDUNG, KOMPAS.com - Perusahaan rintisan bioteknologi asal Bandung, Mycotech Lab (MYCL), mengolah limbah pertanian dan kehutanan menjadi biomaterial berbasis jaringan akar jamur atau miselium.
Biomaterial tersebut dikembangkan sebagai alternatif material berbasis plastik yang selama ini banyak digunakan dalam industri fesyen dan manufaktur.
Co-founder MYCL Ronaldiaz Hartantyo mengatakan, proses produksi biomaterial dilakukan dengan membudidayakan jamur menggunakan nutrisi yang berasal dari limbah pertanian dan kehutanan.
Baca juga: Tak Lagi Bebas Polusi, Plastik Ditemukan di Lapisan Tanah Murni Antartika
MYCL saat ini dapat mengolah lebih dari 40 jenis limbah pertanian dan kehutanan lokal, termasuk bonggol jagung dan tengkawang.
“Prosesnya sebenarnya seperti membudidayakan jamur, dengan memberikan nutrisi dari limbah pertanian dan kehutanan,” ujar Ronaldiaz, Kamis (20/8/2026).
Melalui rekayasa miselium, MYCL menghasilkan material dengan karakteristik yang berbeda dari plastik. Material tersebut memiliki kekuatan tarik (tensile strength), porositas, ketahanan terhadap api, serta sirkulasi udara (breathability) yang menjadi keunggulannya.
Ronaldiaz mengatakan, karakteristik tersebut juga membuat material berbasis miselium lebih nyaman digunakan untuk produk yang bersentuhan langsung dengan tubuh.
“Saya alergi kulit sintetis atau faux leather. Jadi, beruntusan. Kalau misalnya pakai ini (biomaterial berbasis jamur), saya sudah pakai ini lima tahun, enggak masalah karena materialnya sebenarnya bisa bernapas,” katanya.
Meski memiliki sejumlah keunggulan, biomaterial berbasis miselium masih menghadapi tantangan dari sisi harga.
Menurut Ronaldiaz, biaya produksi material tersebut masih lebih tinggi dibandingkan plastik. Salah satu penyebabnya adalah skala bisnis dan ekosistem ekonomi sirkular di Indonesia yang belum berkembang secara optimal.
Kondisi tersebut membuat MYCL lebih banyak membidik pasar internasional. Produk biomaterialnya telah dipasarkan melalui sejumlah distributor di Amerika Serikat, Australia, hingga Eropa.
MYCL juga telah mengantongi sejumlah sertifikasi dan standar untuk pasar internasional, di antaranya REACH Compliant dan OEKO-TEX.
Menurut Ronaldiaz, pasar Eropa relatif lebih terbuka terhadap material berkelanjutan karena meningkatnya perhatian konsumen terhadap isu lingkungan serta adanya regulasi yang mendorong penggunaan material dengan jejak karbon lebih rendah.
Kondisi tersebut berbeda dengan pasar Indonesia yang masih relatif sensitif terhadap harga.
“Market Indonesia sebenarnya potensial karena konsumtif sekali, hanya saja kelas menengahnya sedang babak belur. Sustainability mindset-nya belum masuk banget ke sini,” ucapnya.
Baca juga: Peneliti Kembangkan Cara Ubah Sampah Plastik Campuran Jadi Hidrogen Bersih
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya