KOMPAS.com - Studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Communications Earth & Environment menunjukkan bahwa kenaikan suhu air laut dapat menurunkan kemampuan jangka panjang tumbuhan bawah air dalam menyimpan karbon secara signifikan.
Melansir Phys, Kamis (20/8/2026) hal tersebut terungkap setelah para ilmuwan dari Leibniz Centre for Tropical Marine Research (ZMT) meneliti bagaimana suhu air yang lebih hangat memengaruhi karbon organik terlarut yang dilepaskan oleh padang lamun dan alga laut.
Karbon organik terlarut ini sendiri berperan penting dalam penyimpanan karbon jangka panjang.
Hasilnya memperlihatkan bahwa saat suhu naik, porsi karbon organik terlarut yang mampu bertahan lama mengalami penurunan yang drastis.
Temuan mereka menunjukkan bahwa kenaikan suhu air yang sedikit saja sudah mampu mengubah kandungan dan sifat karbon terlarut yang dilepaskan oleh padang lamun yang diteliti.
Baca juga: Peneliti BRIN Ingatkan Ancaman Pada Ekosistem Padang Lamun akibat Reklamasi
Padang lamun dan alga menyerap karbon dioksida dari udara untuk mendukung pertumbuhan serta proses hidupnya. Sebagian dari karbon ini diubah menjadi bagian tubuh tumbuhan, seperti daun dan akar.
Sebagian lagi tersimpan di dasar laut hingga berabad-abad atau ribuan tahun, sementara sisanya dilepaskan ke dalam air sebagai karbon organik terlarut.
Sebagian dari zat terlarut ini dengan cepat diurai oleh mikroorganisme. Namun, ada pula bagian yang sangat tahan terhadap pembusukan sehingga mampu bertahan di dalam laut selama berminggu-minggu, bertahun-tahun, bahkan hingga ratusan tahun.
Bentuk karbon yang tahan lama inilah yang justru turun drastis dalam eksperimen bertemperatur tinggi. Saat suhu air naik sebesar 4 derajat Celsius, jumlah karbon yang sulit terurai berkurang rata-rata sekitar 28 persen.
Di saat yang sama, porsi senyawa karbon yang mudah diurai oleh mikroorganisme justru melonjak tajam. Setelah 60 hari, sebagian besar dari karbon yang mudah terurai ini sudah habis membusuk.
"Padang lamun dan hutan kelp selama ini dianggap sebagai penyerap karbon alami. Jika laut terus memanas, kemampuan keduanya untuk menyimpan karbon dalam jangka panjang bisa jauh lebih kecil dari yang kita perkirakan sebelumnya," jelas penulis utama, Alba Yamuza-Magdaleno dari University of Cádiz.
Hal ini sangat penting karena banyak model perkiraan iklim selama ini menganggap ekosistem bawah air ini mampu menyerap karbon dioksida dari udara secara permanen dalam jumlah besar.
Para peneliti juga membandingkan jumlah karbon organik terlarut yang tahan lama dengan karbon yang tersimpan di dasar laut. Hasil analisis menunjukkan bahwa kedua proses tersebut sama-sama penting dan memiliki daya tampung yang setara.
Selama ini, sebagian besar penelitian hanya berfokus pada karbon yang tersimpan di dalam endapan lumpur laut. Penelitian baru ini membuktikan bahwa karbon organik terlarut juga memegang peran yang sangat besar.
Ekosistem pesisir seperti padang lamun, hutan mangrove, dan rawa asin dianggap sebagai penampung karbon alami yang sangat penting, yang sering disebut sebagai ekosistem "karbon biru". Ekosistem ini memegang peran kunci dalam menyerap karbon dioksida dari udara dan menyimpannya dalam jangka panjang.
Baca juga: Penyelamat Iklim yang Terlupakan, Ini Manfaat Padang Lamun untuk Indonesia
Para penulis studi menegaskan bahwa model prediksi iklim saat ini kemungkinan menganggap remeh dampak kenaikan suhu terhadap senyawa karbon terlarut. Akibatnya, kemampuan sebenarnya dari ekosistem pesisir dalam mengunci karbon di masa depan bisa jadi lebih rendah dari yang diperkirakan sebelumnya.
Di saat yang sama, para peneliti juga menjelaskan keterbatasan penelitian mereka. Eksperimen ini masih dilakukan di laboratorium dengan kondisi terkontrol, sehingga hanya memberikan gambaran sederhana dari wilayah pesisir yang asli.
Faktor alam seperti arus deras, badai, atau perubahan jenis tumbuhan dalam jangka panjang belum bisa dihitung secara penuh. Penelitian lapangan selanjutnya akan menguji apakah temuan ini juga berlaku sama di alam bebas.
"Kita sekarang membutuhkan pengamatan jangka panjang langsung di wilayah pesisir alami untuk menilai seberapa besar dampak pemanasan laut terhadap penyimpanan karbon yang sebenarnya," tambah Hauke Reuter dari Kelompok Riset ZMT
"Data tersebut sangat penting agar ekosistem pesisir dapat dimasukkan secara lebih akurat ke dalam strategi penanganan iklim di masa depan," pungkasnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya