KOMPAS.com - Suhu ekstrem di kawasan gurun yang dalam satu dekade terakhir dapat mencapai 50-55 derajat Celsius mulai mengancam kemampuan unta untuk bertahan hidup.
Hewan yang dikenal memiliki kemampuan adaptasi tinggi terhadap panas dan kekeringan tersebut dilaporkan mengalami dehidrasi, luka lepuh, gangguan ginjal, hingga kematian.
Kondisi tersebut dinilai menjadi salah satu tanda semakin beratnya tekanan perubahan iklim terhadap ekosistem gurun.
Pakar genetika ekologi IPB University, Ronny Rachman Noor mengatakan, peningkatan kematian unta menunjukkan bahwa perubahan iklim mulai melampaui kemampuan adaptasi alami hewan terhadap lingkungannya.
Baca juga: Studi Sebut Kekeringan Mengubah Pola Penyebaran Penyakit Menular
"Fenomena suhu ekstrem yang meningkat di gurun pasir, sampai-sampai bahkan unta pun tidak mampu bertahan, benar-benar menunjukkan adanya krisis iklim yang sangat serius," ujar Ronny, dilansir dari laman IPB University, Senin (24/8/2026).
Sejumlah laporan menunjukkan tingginya kematian unta di beberapa wilayah. Di Sool, Somalia, misalnya, sekitar 73 persen unta dilaporkan mati.
Sementara di Kenya, kematian unta akibat hipertermia meningkat 15 persen dalam dua tahun terakhir.
Menurut Ronny, unta sebenarnya memiliki mekanisme fisiologis khusus untuk menghadapi kondisi panas dan kekurangan air. Suhu tubuhnya dapat berubah dari sekitar 34 derajat Celsius pada malam hari menjadi sekitar 41 derajat Celsius pada siang hari tanpa harus banyak berkeringat.
Mekanisme tersebut memungkinkan unta menghemat cairan tubuh ketika berada di lingkungan yang panas dan kering.
Namun, kemampuan adaptasi tersebut memiliki batas. Ketika suhu lingkungan melewati 45 derajat Celsius, mekanisme pengaturan suhu tubuh unta mulai bekerja kurang efektif. Unta kemudian lebih banyak berkeringat dan kehilangan cairan sehingga mengalami tekanan panas.
Pada suhu di atas 50 derajat Celsius, unta yang sehat dapat mengalami hipertermia serius dalam beberapa jam apabila tidak memiliki akses terhadap air atau tempat berlindung. Kondisi tersebut dapat memicu kerusakan ginjal, gangguan metabolisme, hingga kegagalan organ.
Baca juga: Studi Sebut Kekeringan Mengubah Pola Penyebaran Penyakit Menular
"Karena itu, kita perlu peduli serta mencari solusi untuk melindungi hewan-hewan berharga ini," tutur Ronny.
Tekanan terhadap unta tidak hanya berasal dari peningkatan suhu. Kekeringan yang menyertai perubahan iklim turut memperparah kondisi karena mengurangi ketersediaan air dan vegetasi yang menjadi sumber makanan.
Kondisi tersebut membuat unta semakin sulit memperoleh air dan pakan. Pada saat yang sama, masyarakat yang menggantungkan kehidupan pada ternak tersebut ikut terdampak karena kehilangan sumber susu, daging, maupun sarana transportasi.
"Sayangnya, eksploitasi lahan dan desertifikasi semakin memperburuk kondisi ini, sehingga semuanya menjadi semakin sulit," kata Ronny.
Di Ethiopia, misalnya, peternak di wilayah Afar melaporkan kehilangan delapan anak unta dalam waktu satu bulan akibat suhu ekstrem.
Menurut Ronny, kondisi tersebut menunjukkan bahwa krisis iklim tidak hanya mengubah kondisi ekologis gurun, tetapi juga mulai mengancam kehidupan masyarakat yang bergantung pada ekosistem tersebut.
Unta selama ini memiliki posisi penting dalam kehidupan masyarakat gurun. Selain menjadi sumber pangan dan penghasilan, hewan tersebut juga digunakan sebagai alat transportasi dan menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat.
"Jika unta, simbol kekuatan gurun, tidak lagi mampu bertahan, masyarakat gurun seperti suku Badui di Sahara dan komunitas Bedouin di Timur Tengah tentunya akan menghadapi tantangan besar dalam menjaga keberlangsungan hidup mereka," ujar Ronny.
Perubahan kondisi lingkungan pada akhirnya memaksa masyarakat di kawasan gurun melakukan berbagai bentuk adaptasi, mulai dari pengelolaan sumber daya air, penggunaan tanaman yang lebih tahan terhadap panas, hingga berpindah ke wilayah dengan kondisi lingkungan yang lebih mendukung.
Baca juga: Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Di sisi lain, masyarakat juga menghadapi tantangan untuk mempertahankan tradisi dan identitas budaya yang selama ini berkembang bersama ekosistem gurun.
Ronny menilai, meningkatnya kematian unta menjadi pengingat bahwa krisis iklim tidak semata-mata persoalan kenaikan suhu global. Persoalan yang lebih besar adalah semakin terbatasnya kemampuan makhluk hidup dan masyarakat untuk beradaptasi terhadap perubahan lingkungan.
Ketika hewan yang selama ini dikenal sangat tahan terhadap panas dan kekeringan mulai kesulitan bertahan di habitatnya sendiri, tekanan terhadap ekosistem gurun dan masyarakat yang menggantungkan kehidupannya pada ekosistem tersebut berpotensi semakin besar.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya