Penulis
KOMPAS.com - Implementasi program inovasi di tingkat perdesaan sering kali dibayangkan sebagai ajang pembuktian teori dan eksekusi gagasan yang sempurna di atas kertas.
Padahal, ketika Gen Z terjun langsung ke lapangan, realitas menyuguhkan dinamika yang tak terduga mulai dari kegagalan teknis, hambatan komunikasi, hingga perlunya adaptasi anggaran akibat tingginya dinamika kebutuhan warga lokal.
Tanpa kelenturan mental, kemauan mendengarkan, serta keberanian berimprovisasi, ide-ide segar khas Gen Z berisiko menjadi proyek sepihak yang tak mengakar.
Desa pada akhirnya bukan sekadar ruang eksekusi program, melainkan laboratorium sosial tempat Gen Z menguji daya tahan, empati, dan kepemimpinan mereka secara nyata.
Pelajaran berharga mengenai bagaimana Gen Z merespons tantangan dan beradaptasi dengan kearifan lokal ini tecermin dari dinamika lapangan yang dihadapi empat tim finalis Genera-Z Berbakti 2026 saat membawa aksi nyatanya di desa-desa wisata binaan Bakti BCA.
Tuntutan bekerja sebagai tim di tengah perbedaan karakter antarindividu, mencari tahu lewat pengalaman baru, kemauan mendengarkan warga, serta berimprovisasi ketika terjadi hal-hal di luar dugaan adalah bagian dari tantangan di lapangan yang menjadi proses pendewasaan bagi Gen Z.
Pengalaman tersebut dirasakan oleh keempat tim;
Keempatnya datang membawa ide dan gagasan ke desa masing-masing dengan kisah dan tantangannya tersendiri.
Tim Pelita datang ke Desa Wisata Situs Gunung Padang dengan membawa program budidaya maggot untuk mengolah sampah organik menjadi pakan ternak bernutrisi, sekaligus menghasilkan pupuk organik.
Program ini dirancang untuk memperkenalkan penerapan ekonomi sirkular kepada masyarakat melalui pengelolaan sampah yang dapat berjalan mandiri.
Namun, niat mulia mereka mendapatkan ujian di lapangan. Sebagian besar dari lima kilogram maggot yang telah dipesan tidak bertahan hidup selama perjalanan menuju Desa Wisata Situs Gunung Padang.
Di atas kertas, kondisi tersebut bisa berarti kegagalan. Namun, di lapangan, tim harus segera mencari jalan keluar. “Setelah tahu kalau ada penjual maggot di sekitar sini, kami segera mengunjungi penjualnya dan mengganti maggot di saung dengan yang baru,” ujar Dika, penanggung jawab program rumah maggot Tim Pelita.
Bagi para mahasiswa, persoalan itu menjadi pengingat bahwa keberhasilan sebuah program tidak selalu ditentukan oleh seberapa sempurna perencanaan awalnya. Ada kalanya kemampuan membaca situasi dan mengambil keputusan dengan cepat justru menjadi bagian penting dari proses tersebut.
Cerita serupa datang dari Tim KATALIS di Desa Wisata Kakaskasen Dua. Tantangan mereka tidak semata-mata berkaitan dengan program yang dibawa, tetapi juga dari dalam tim sendiri.
Kebersamaan selama satu bulan membuat perbedaan karakter dan cara berkomunikasi menjadi semakin terasa. Tidak jarang, anggota tim mempertanyakan keputusan-keputusan yang dibuat untuk menegakkan peraturan.
Di sisi lain, proses adaptasi tersebut kemudian menjadi salah satu kunci ketika Tim KATALIS mulai menjalankan program pembelajaran bahasa Inggris. Program yang menyasar anak-anak dan pemandu wisata setempat itu mendapat sambutan positif.
“Saya cukup kaget karena warga antusias mengikuti dengan baik pelatihan yang kita bawa. Ini artinya mereka punya keinginan besar dan siap untuk mengikuti kegiatan kita,” kata Sarah.
Di titik itu, program tidak lagi sekadar tentang materi yang hendak diberikan mahasiswa kepada warga. Ada proses dua arah: mahasiswa belajar memahami kebutuhan masyarakat, sementara masyarakat menunjukkan kesiapan untuk berkembang melalui program yang dianggap relevan.
Di Desa Wisata Patakbanteng, Tim Amerta Pertiwi menghadapi situasi berbeda. Rencana awal mereka adalah melakukan revitalisasi rumah bibit. Namun, setelah berkoordinasi dengan warga dan komunitas setempat, gagasan tersebut berkembang menjadi sesuatu yang lebih besar: rekonstruksi total.
Tim Amerta Pertiwi harus memutar otak, sebab, sebelum mendengarkan perspektif warga mereka sudah melakukan perhitungan anggaran yang detail.
“Sempat ada negosiasi agar kami bisa tetap menghemat anggaran, tetapi warga sangat mendukung kami dan kehadiran Komunitas Pencinta Lingkungan Hidup yang membantu,” ujar Adib, mahasiswa Kedokteran Hewan sekaligus anggota Tim Amerta Pertiwi.
Bagi Amerta Pertiwi, pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa masyarakat bukan sekadar penerima program. Mereka juga memiliki pengetahuan, kebutuhan, dan pertimbangan yang perlu diperhatikan dalam proses pengambilan keputusan.
Tim Laskar Selasik ingin menuangkan kebudayaan dari Desa Terong ke dalam katalog budaya sebagai bagian dari program Terong Xplore. Riset dan mempelajari langsung keunggulan desa menjadi cara mereka menggali pemahaman.
Uniknya, salah satu riset yang dilakukan tim ini di Desa Terong adalah dengan mengunjungi laut pada pukul 02.00 dini hari. Waktu di mana umumnya orang-orang tengah tertidur pulas.
Mereka riset dengan cara melakukan nyuluh, aktivitas mencari udang pada malam hari dengan bantuan lampu senter di sana. Bagi warga setempat, nyuluh merupakan bagian dari keseharian.
Namun, bagi para anggota tim Laskar Selasik, mereka menggali perspektif baru tentang potensi desa yang mungkin tidak akan mereka temukan hanya melalui data.
“Nyuluh adalah pengalaman pertama untuk saya. Setelah saya terjun langsung bersama warga, rasanya berbeda sekali. Warga Desa Terong bisa langsung mendapatkan udang dengan mudah, sementara saya butuh waktu satu jam sendiri,” kata Faruq, salah satu personel Tim Laskar Selasik.
Pengalaman sederhana itu menjadi lebih dari sekadar kegiatan riset. Ada proses melihat desa melalui pengalaman orang-orang yang hidup di dalamnya. Mulai dari memahami kebiasaan, potensi, sekaligus cara masyarakat memanfaatkan lingkungan di sekitar mereka.
Pada akhirnya, desa menjadi ruang belajar mahasiswa untuk menguji kembali gagasan mereka.
Baca juga: Ribuan Pemuda dan Mahasiswa Ajak Anak Muda Jadi Pelopor Perdamaian
EVP Corporate Communications & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengatakan, pengalaman para pemenang Genera-Z Berbakti 2026 di lapangan menunjukkan semangat generasi muda menghadapi tantangan dan mencari solusi bersama masyarakat.
“Kami bangga melihat semangat dan dedikasi keempat tim finalis Genera-Z Berbakti dalam menghadapi berbagai tantangan di lapangan. Pengalaman ini menunjukkan kepedulian dan kreativitas generasi muda untuk terus mencari solusi dan berkontribusi nyata bagi masyarakat,” tutup Hera.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya