KOMPAS.com - Berdasarkan temuan terbaru London Stock Exchange Group (LSEG), nilai pasar ekonomi hijau telah menembus 10 triliun dolar AS (sekitar Rp176,92 kuadriliun). Lonjakan ini didorong oleh meningkatnya minat terhadap elektrifikasi dan ketahanan energi.
Melansir Eco Business, Kamis (18/6/2026) dalam laporan Investing in the Green Economy 2026: Resilience and Reacceleration edisi ketujuh, LSEG mengungkapkan bahwa pendapatan dari sektor hijau tahun lalu tumbuh paling cepat sejak 2022, yaitu naik 5,3 persen menjadi 5,5 triliun dolar AS (sekitar Rp 97,31 kuadriliun). Angka ini mencakup omzet dari lebih dari 21.000 perusahaan serta 133 jenis produk dan layanan ramah lingkungan.
Artinya, jika dianggap sebagai sektor berdiri sendiri, ekonomi hijau kini menjadi sektor terbesar ketiga di dunia hanya kalah dari sektor teknologi dan industri, serta berhasil melampaui sektor kesehatan.
Penerbitan obligasi hijau (green bond) global juga mencetak rekor tertinggi pada tahun 2025, tumbuh 5,7 persen dibanding tahun sebelumnya menjadi 605 miliar dolar AS (sekitar Rp 10,7 kuadriliun).
Sama seperti tahun sebelumnya, lonjakan ini sebagian besar didorong oleh perusahaan swasta yang menyumbang 68 persen dari total penerbitan obligasi hijau.
Baca juga: Ekonomi Biru Asia Tenggara Terancam Kerusakan Lingkungan dan Minim Dana
Ekspansi ekonomi hijau yang terus berlanjut ini terjadi di tengah memanasnya tensi geopolitik dan tingginya gejolak harga energi. Di saat banyak negara dan perusahaan berupaya melindungi diri dari lonjakan harga bahan bakar fosil, kian banyak modal yang dialirkan untuk langkah efisiensi dan sumber energi terbarukan alternatif.
Pada tahun 2030, ekonomi hijau diperkirakan bakal menghasilkan lebih dari 7 triliun dolar AS (sekitar Rp123,84 kuadriliun) setiap tahunnya, menurut studi terpisah dari World Economic Forum (WEF) dan Boston Consulting Group.
Berdasarkan laporan LSEG, perusahaan-perusahaan dalam FTSE EOAS Index atau yang perusahaan dengan pendapatan hijau di atas 20 persen, mencatat kinerja 1,4 persen lebih tinggi dibandingkan pasar secara umum selama 12 bulan hingga April 2026.
Perusahaan yang lebih dari 50 persen pendapatannya berasal dari sektor hijau bahkan mencatat kinerja yang jauh melampaui pasar. Margin keuntungan bersih sebelum pajak dan penyusutan (EBITDA) mereka 2 hingga 4 persen lebih tinggi dibandingkan perusahaan non-hijau di indeks FTSE All-World.
Meski begitu, laporan tersebut juga memuat bahwa perusahaan yang pendapatan hijaunya masih di bawah 50 persen justru sering kali mencatat kinerja di bawah perusahaan non-hijau.
Laporan ini menekankan bahwa pertumbuhan sektor hijau bukanlah lonjakan sesaat. Sejak tahun 2008, ekonomi hijau global telah mengungguli saham-saham dunia hingga lebih dari 130 persen, dengan nilai pertumbuhan yang lebih cepat dari pasar umum atau tumbuh rata-rata 18 persen per tahun dibanding 12 persen.
"Yang kita lihat saat ini adalah lahirnya ekonomi hijau sebagai penggerak utama pertumbuhan global, yang didukung oleh perluasan pendapatan di berbagai sektor, kinerja jangka panjang yang kuat, serta pasar modal yang kian dalam," ujar Jaakko Kooroshy, kepala riset investasi berkelanjutan global di LSEG.
Meskipun President Donald Trump terus memangkas kebijakan iklim, Amerika Serikat tetap menjadi negara dengan ekonomi hijau terbesar berdasarkan nilai pasar. Dengan nilai 6 triliun dolar AS (sekitar Rp106,15 kuadriliun), AS menyumbang 57 persen dari total ekonomi hijau global.
Lebih dari seperempat total pendapatan hijau dunia berasal dari AS, di mana 75 persen pendapatan hijau tersebut dihasilkan oleh perusahaan komputasi awan.
Sektor kunci lainnya mencakup pengolahan sampah, energi nuklir, dan sistem irigasi modern.
AS juga menjadi investor energi bersih terbesar kedua di dunia, yang mengalokasikan sekitar 400 miliar dolar AS (sekitar Rp7.076,80 triliun) setiap tahunnya.
Sementara China menjadi investor energi bersih nomor satu di dunia dengan investasi sebesar 625 miliar dolar AS (sekitar Rp11.057,50 triliun) di bidang energi terbarukan, penyimpanan energi, nuklir, dan efisiensi energi (30 persen dari total dunia) pada tahun 2025.
Baca juga: Ekonomi Hijau Tumbuh, Uni Eropa Catat Lonjakan Signifikan Green Jobs
Asia juga terus memimpin dalam hal pendapatan hijau, dengan menyumbang hampir separuh dari total ekonomi hijau global tahun lalu. Capaian ini didorong oleh aktivitas bisnis di China, Jepang, Hong Kong, dan Korea Selatan.
Meski begitu, laporan tersebut mencatat bahwa Asia masih menjadi pendorong terbesar dalam investasi dan permintaan batu bara, di mana China mengonsumsi 58 persen dari total batu bara dunia.
Dari sisi produk, kendaraan listrik (EV) menjadi pendorong utama, dengan peningkatan pendapatan mencapai 62 miliar dolar AS (sekitar Rp1.096,90 triliun) pada tahun 2025. Sekitar satu dari setiap empat mobil yang terjual tahun lalu adalah mobil listrik.
"Transisi hijau kini memasuki babak baru yang tidak hanya ditentukan oleh pengurangan emisi karbon, tetapi juga oleh ketahanan energi dan daya saing ekonomi," ungkap Kooroshy.
"Bagi para investor, pertanyaannya bukan lagi apakah ekonomi hijau itu penting atau tidak melainkan bagaimana cara menjalankannya. Memahami dinamika ini mulai dari perbedaan tiap wilayah, tingkat keuntungan sektor, hingga merger dan akuisisi (M&A) adalah kunci untuk menangkap peluang di fase berikutnya," tambahnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya