Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Efek Domino El Niño Ancam Kelangsungan Ekosistem Laut Pasifik

Kompas.com, 29 Agustus 2026, 18:47 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Saat fenomena El Niño 2026 menguat di wilayah Pasifik khatulistiwa, satelit mulai menangkap tanda-tanda awal gangguan besar pada rantai makanan laut di wilayah tersebut.

Berdasarkan pengamatan Earth Observatory milik NASA, pengukuran satelit menunjukkan penurunan drastis pada kadar klorofil di permukaan Samudra Pasifik Tengah jika dibandingkan dengan kondisi normal pada Juni 2025.

Klorofil adalah zat hijau daun yang membantu menyerap sinar matahari untuk menghasilkan energi. Penurunannya menandakan berkurangnya fitoplankton, yang merupakan fondasi utama dari seluruh rantai makanan di lautan.

Baca juga: Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total Great Barrier Reef Akibat El Nino

Hyung-Gyu Lim, seorang profesor oseanografi dari Chonnam National University di Korea Selatan, menjelaskan bahwa El Niño yang sedang berkembang dapat memperlambat proses upwelling. Itu merupakan pengangkatan air dingin yang kaya nutrisi dari dasar laut ke permukaan.

"Hal ini menyebabkan berkurangnya pasokan nutrisi di permukaan. Bagi saya, ini bukanlah hal yang mengejutkan," ujar Lim.

Matthew Kehrli dan Graham Trolley, pakar oseanografi di Goddard Space Flight Center milik NASA, menjelaskan bahwa El Niño dapat menghambat naiknya nutrisi laut karena angin pasat khatulistiwa yang melemah. Hal ini menyebabkan lapisan air laut yang hangat terdorong semakin dalam ke dasar lautan.

Mereka menambahkan bahwa seiring berjalannya El Niño, jumlah klorofil diperkirakan akan terus menurun di wilayah yang semakin luas.

Dampak buruknya, berkurangnya nutrisi ini membuat pasokan makanan bagi zooplankton, ikan, burung laut, hingga mamalia laut semakin sedikit. Sektor perikanan pun ikut terpukul.

Sebagai contoh, industri perikanan ikan teri di Peru mengalami penurunan hasil tangkapan yang drastis pada peristiwa El Niño sebelumnya akibat suhu air yang lebih hangat dan berkurangnya fitoplankton.

Tahun ini, Peru berulang kali menghentikan penangkapan ikan teri demi melindungi populasi ikan yang terancam, sementara burung pelikan yang kelaparan mulai menyerbu pelabuhan kota untuk mencari makan.

Pusat Prediksi Iklim NOAA memperkirakan ada peluang lebih dari 90 persen bahwa fenomena El Niño saat ini akan bertahan hingga awal tahun 2027.

Meskipun memicu gangguan besar di awal, NASA Earth Observatory menyebutkan bahwa lautan biasanya akan mengalami pemulihan kembali jumlah klorofil atau chlorophyll rebound setelah fenomena El Niño mereda.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa tingginya kadar zat besi yang dibawa oleh arus laut serta debu zat besi yang tertiup dari daratan kering di beberapa wilayah Amerika Tengah dan Selatan membantu memicu tumbuhnya kembali klorofil setelah El Niño. Zat besi merupakan nutrisi penting yang merangsang pertumbuhan fitoplankton.

Baca juga: Super El Nino Berpotensi Ubah Pola Cuaca Ekstrem di 12 Kota Besar Asia

Lim menjelaskan bahwa studi model sistem bumi terbaru menunjukkan bahwa faktor dalam laut membantu terjadinya lonjakan klorofil pasca-El Niño berkat pasokan zat besi dari bawah permukaan laut.

Selain itu, faktor atmosfer seperti penumpukan debu berzat besi juga dapat meningkatkan produktivitas kehidupan laut secara signifikan.

Lim menambahkan bahwa peta satelit permukaan laut hanya memperlihatkan sebagian dari gambaran ekosistem yang sebenarnya.

Untuk memahami dinamika ini secara utuh, sistem pengamatan yang canggih harus menggabungkan pemantauan di permukaan sekaligus di bawah permukaan laut.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kebakaran Hutan Dorong Populasi Gajah Sumatra ke Ambang Kepunahan
Kebakaran Hutan Dorong Populasi Gajah Sumatra ke Ambang Kepunahan
Pemerintah
Petani Hortikultura Skala Kecil Perlu Konsolidasi untuk Perkuat Daya Saing
Petani Hortikultura Skala Kecil Perlu Konsolidasi untuk Perkuat Daya Saing
Pemerintah
PBB: Perang Besar Jadi Ancaman Global Paling Ditakuti Masyarakat Dunia
PBB: Perang Besar Jadi Ancaman Global Paling Ditakuti Masyarakat Dunia
Pemerintah
Laporan Sumber Daya Air Global: Benua di Seluruh Dunia Makin Mengering
Laporan Sumber Daya Air Global: Benua di Seluruh Dunia Makin Mengering
Pemerintah
BRIN Dorong Varietas Tanaman Tahan Banjir, Kekeringan hingga Salinitas
BRIN Dorong Varietas Tanaman Tahan Banjir, Kekeringan hingga Salinitas
LSM/Figur
Perkuat Bisnis, Perusahaan Genjot Pengeluaran untuk Adaptasi Iklim
Perkuat Bisnis, Perusahaan Genjot Pengeluaran untuk Adaptasi Iklim
Pemerintah
Kisah Warga Setu Olah Sampah Organik untuk 'Urban Farming' Tanaman Anggur
Kisah Warga Setu Olah Sampah Organik untuk "Urban Farming" Tanaman Anggur
LSM/Figur
Menjadi Ruang Tumbuh Anak Pekerja, Begini Peran SD YPTSS di Solok Selatan
Menjadi Ruang Tumbuh Anak Pekerja, Begini Peran SD YPTSS di Solok Selatan
Swasta
UNTR Menjaga Asa Anak-anak Pedalaman Kalimantan melalui Pendidikan dan Pemberdayaan
UNTR Menjaga Asa Anak-anak Pedalaman Kalimantan melalui Pendidikan dan Pemberdayaan
Swasta
PT Vale Perkuat Hilirisasi Nikel Sekaligus Dekarbonisasi dengan Energi Bersih
PT Vale Perkuat Hilirisasi Nikel Sekaligus Dekarbonisasi dengan Energi Bersih
BUMN
PLTS Bukan Satu-satunya, UNTR Jawab Tantangan ESG dengan Diversifikasi Bisnis
PLTS Bukan Satu-satunya, UNTR Jawab Tantangan ESG dengan Diversifikasi Bisnis
Swasta
Tantangan Data Cuaca, Negara Miskin Hadapi Akurasi Prediksi yang Rendah
Tantangan Data Cuaca, Negara Miskin Hadapi Akurasi Prediksi yang Rendah
Pemerintah
Studi: Rating ESG Tak Gambarkan Deforestasi Akibat Ulah Perusahaan
Studi: Rating ESG Tak Gambarkan Deforestasi Akibat Ulah Perusahaan
Pemerintah
Jejak Karier Wahidah di Balik Kendali Ekskavator Perkebunan Solok Selatan
Jejak Karier Wahidah di Balik Kendali Ekskavator Perkebunan Solok Selatan
Swasta
Perempuan di Balik Aktivitas Lapangan Perkebunan Sawit Solok Selatan
Perempuan di Balik Aktivitas Lapangan Perkebunan Sawit Solok Selatan
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau