Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total "Great Barrier Reef" Akibat El Nino

Kompas.com, 10 Agustus 2026, 08:06 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Para ilmuwan memperingatkan bahwa terumbu karang Great Barrier Reef berada dalam risiko yang sangat tinggi mengalami pemutihan karang (coral bleaching) secara parah dan meluas.

Kondisi ini bahkan bisa menyebabkan keruntuhan ekosistem di beberapa bagian, seiring menguatnya fenomena cuaca El Niño.

Melansir Independent, Senin (23/7/2026) dalam Simposium Terumbu Karang Internasional di Auckland, peneliti mengungkapkan bahwa bencana tersebut dapat mematikan karang di area terumbu yang sangat luas dan memusnahkan spesies tertentu di lokasi-lokasi spesifik.

Terumbu karang Great Barrier Reef sendiri membentang sepanjang 2.300 kilometer di lepas pantai Queensland, Australia timur laut. Great Barrier Reef merupakan struktur makhluk hidup terbesar di bumi sekaligus salah satu daya tarik wisata terbesar di negara tersebut.

Baca juga: Sering Tak Disadari Penyelam, Kebiasaan Ini Bisa Rusak Terumbu Karang

Pemutihan karang terjadi ketika suhu air laut bertahan sangat panas selama berminggu-minggu. Panas tersebut memaksa karang mengusir ganggang yang hidup di dalam jaringan tubuh mereka.

Padahal, ganggang inilah yang menyuplai sebagian besar makanan sekaligus memberi warna indah pada karang. Tanpa ganggang tersebut, karang berubah menjadi putih dan kelaparan. Karang memang bisa pulih jika air laut mendadak dingin kembali, tetapi pemanasan yang terjadi berulang kali akan membunuh mereka.

Level Mengkhawatirkan 

Morgan Pratchett, ahli ekologi konservasi laut di James Cook University, Queensland, menyampaikan bahwa kekuatan fenomena El Niño tahun ini sangat mengkhawatirkan.

"Sangat besar kemungkinannya kita akan menyaksikan pemutihan karang secara massal dan parah di Great Barrier Reef. Sangat mungkin bencana besar berikutnya ini juga akan memicu kepunahan spesies tertentu di area lokal dan menyebabkan kehancuran ekosistem secara meluas," ungkapnya.

El Niño adalah siklus alam yang membuat suhu permukaan air di Samudera Pasifik bagian tengah dan timur menjadi lebih panas dari biasanya. Hal ini mengubah pola angin, tekanan udara, dan curah hujan di seluruh dunia.

Fenomena El Niño tahun ini diperkirakan akan memecahkan rekor kekuatan, dan laut yang makin hangat di sekitar Australia meningkatkan risiko panas berkepanjangan yang memicu pemutihan karang.

Kondisi terumbu karang saat ini memang sudah melemah. Tutupan karang keras menurun drastis di seluruh kawasan terumbu pada tahun 2024 dan 2025 akibat suhu air di atas rata-rata yang memicu pemutihan massal keenam sejak 2016. Selain itu, pengasaman samudera yang terjadi karena air laut menyerap gas karbon dioksida dari udara juga makin menyulitkan karang baru untuk tumbuh.

Baca juga: Ini Penyebab Terumbu Karang Sulit Pulih Setelah Rusak

PBB telah menyatakan kekhawatiran yang sangat mendalam terkait pemutihan masal dan dampak perubahan iklim yang terjadi Great Barrier Reef.

UNESCO telah memantau lokasi ini setiap tahun sejak 2021, yaitu ketika mereka pertama kali memberi peringatan bahwa status kawasan terancam bahaya mungkin saja diberikan.

Pemutihan karang bukanlah satu-satunya ancaman. Cuaca ekstrem, limbah dari lahan pertanian di sepanjang pantai Queensland, pembangunan di area pesisir, serta serangan bintang laut berduri pemakan karang semuanya turut merusak terumbu karang dalam beberapa tahun terakhir.

Ove Hoegh-Guldberg, profesor studi kelautan di University of Queensland menambahkan minimnya tindakan nyata dari pemerintah telah mengancam masa depan terumbu karang di seluruh dunia. Menurutnya, kerusakan ini harus dibaca sebagai peringatan bahaya atas apa yang bisa terjadi pada bumi di masa depan.

"Ini bisa menjadi tanda awal menuju kepunahan manusia," ungkapnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Harga Gandum Terancam Naik 3 Kali Lipat Akibat Perubahan Iklim
Harga Gandum Terancam Naik 3 Kali Lipat Akibat Perubahan Iklim
Pemerintah
Perempuan Timur Indonesia dalam Transisi Energi
Perempuan Timur Indonesia dalam Transisi Energi
Pemerintah
Pertemanan Perempuan di Kantor Berkontribusi pada Stabilitas Perusahaan
Pertemanan Perempuan di Kantor Berkontribusi pada Stabilitas Perusahaan
Pemerintah
Minyak Sawit dari Lahan Bekas Karhutla 2026 Berisiko Tak Bisa Masuk Pasar Eropa
Minyak Sawit dari Lahan Bekas Karhutla 2026 Berisiko Tak Bisa Masuk Pasar Eropa
LSM/Figur
Super El Nino Berpotensi Ubah Pola Cuaca Ekstrem di 12 Kota Besar Asia
Super El Nino Berpotensi Ubah Pola Cuaca Ekstrem di 12 Kota Besar Asia
Pemerintah
Sektor Agribisnis Terancam Rugi Rp112,9 Triliun Akibat Biaya Air Tersembunyi
Sektor Agribisnis Terancam Rugi Rp112,9 Triliun Akibat Biaya Air Tersembunyi
Pemerintah
Cetak Rekor, El Niño Saat Ini Resmi Jadi Yang Terkuat dalam Sejarah
Cetak Rekor, El Niño Saat Ini Resmi Jadi Yang Terkuat dalam Sejarah
Pemerintah
Tekan Risiko Kebakaran Gambut, Sinergi Lintas Sektor di Cengal Diperkuat
Tekan Risiko Kebakaran Gambut, Sinergi Lintas Sektor di Cengal Diperkuat
Pemerintah
Pulihkan Pelayanan Pascabencana Sumatera, Kemendagri Konsolidasi Satu Data Desa
Pulihkan Pelayanan Pascabencana Sumatera, Kemendagri Konsolidasi Satu Data Desa
Pemerintah
APBN Harus Punya Alokasi Khusus Pemulihan dan Penanggulangan Bencana Iklim
APBN Harus Punya Alokasi Khusus Pemulihan dan Penanggulangan Bencana Iklim
LSM/Figur
Pemerintah Bersama Mercy Corps dan DBS Foundation Perkuat Literasi Finansial bagi Perempuan Pemilik UMKM
Pemerintah Bersama Mercy Corps dan DBS Foundation Perkuat Literasi Finansial bagi Perempuan Pemilik UMKM
Pemerintah
Dampak Ekspansi Panel Surya China, Keanekaragaman Burung Turun
Dampak Ekspansi Panel Surya China, Keanekaragaman Burung Turun
Pemerintah
Dari Limbah Jadi Material Masa Depan, MYCL dan Parongpong Bangun Ekonomi Sirkular
Dari Limbah Jadi Material Masa Depan, MYCL dan Parongpong Bangun Ekonomi Sirkular
Swasta
Biaya Transportasi dan Masalah Ekonomi Hambat Distribusi Pangan Dunia
Biaya Transportasi dan Masalah Ekonomi Hambat Distribusi Pangan Dunia
Pemerintah
Startup MYCL Ubah Limbah Pertanian Jadi Biomaterial Pengganti Plastik
Startup MYCL Ubah Limbah Pertanian Jadi Biomaterial Pengganti Plastik
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau