KOMPAS.com - Para ilmuwan memperingatkan bahwa terumbu karang Great Barrier Reef berada dalam risiko yang sangat tinggi mengalami pemutihan karang (coral bleaching) secara parah dan meluas.
Kondisi ini bahkan bisa menyebabkan keruntuhan ekosistem di beberapa bagian, seiring menguatnya fenomena cuaca El Niño.
Melansir Independent, Senin (23/7/2026) dalam Simposium Terumbu Karang Internasional di Auckland, peneliti mengungkapkan bahwa bencana tersebut dapat mematikan karang di area terumbu yang sangat luas dan memusnahkan spesies tertentu di lokasi-lokasi spesifik.
Terumbu karang Great Barrier Reef sendiri membentang sepanjang 2.300 kilometer di lepas pantai Queensland, Australia timur laut. Great Barrier Reef merupakan struktur makhluk hidup terbesar di bumi sekaligus salah satu daya tarik wisata terbesar di negara tersebut.
Baca juga: Sering Tak Disadari Penyelam, Kebiasaan Ini Bisa Rusak Terumbu Karang
Pemutihan karang terjadi ketika suhu air laut bertahan sangat panas selama berminggu-minggu. Panas tersebut memaksa karang mengusir ganggang yang hidup di dalam jaringan tubuh mereka.
Padahal, ganggang inilah yang menyuplai sebagian besar makanan sekaligus memberi warna indah pada karang. Tanpa ganggang tersebut, karang berubah menjadi putih dan kelaparan. Karang memang bisa pulih jika air laut mendadak dingin kembali, tetapi pemanasan yang terjadi berulang kali akan membunuh mereka.
Morgan Pratchett, ahli ekologi konservasi laut di James Cook University, Queensland, menyampaikan bahwa kekuatan fenomena El Niño tahun ini sangat mengkhawatirkan.
"Sangat besar kemungkinannya kita akan menyaksikan pemutihan karang secara massal dan parah di Great Barrier Reef. Sangat mungkin bencana besar berikutnya ini juga akan memicu kepunahan spesies tertentu di area lokal dan menyebabkan kehancuran ekosistem secara meluas," ungkapnya.
El Niño adalah siklus alam yang membuat suhu permukaan air di Samudera Pasifik bagian tengah dan timur menjadi lebih panas dari biasanya. Hal ini mengubah pola angin, tekanan udara, dan curah hujan di seluruh dunia.
Fenomena El Niño tahun ini diperkirakan akan memecahkan rekor kekuatan, dan laut yang makin hangat di sekitar Australia meningkatkan risiko panas berkepanjangan yang memicu pemutihan karang.
Kondisi terumbu karang saat ini memang sudah melemah. Tutupan karang keras menurun drastis di seluruh kawasan terumbu pada tahun 2024 dan 2025 akibat suhu air di atas rata-rata yang memicu pemutihan massal keenam sejak 2016. Selain itu, pengasaman samudera yang terjadi karena air laut menyerap gas karbon dioksida dari udara juga makin menyulitkan karang baru untuk tumbuh.
Baca juga: Ini Penyebab Terumbu Karang Sulit Pulih Setelah Rusak
PBB telah menyatakan kekhawatiran yang sangat mendalam terkait pemutihan masal dan dampak perubahan iklim yang terjadi Great Barrier Reef.
UNESCO telah memantau lokasi ini setiap tahun sejak 2021, yaitu ketika mereka pertama kali memberi peringatan bahwa status kawasan terancam bahaya mungkin saja diberikan.
Pemutihan karang bukanlah satu-satunya ancaman. Cuaca ekstrem, limbah dari lahan pertanian di sepanjang pantai Queensland, pembangunan di area pesisir, serta serangan bintang laut berduri pemakan karang semuanya turut merusak terumbu karang dalam beberapa tahun terakhir.
Ove Hoegh-Guldberg, profesor studi kelautan di University of Queensland menambahkan minimnya tindakan nyata dari pemerintah telah mengancam masa depan terumbu karang di seluruh dunia. Menurutnya, kerusakan ini harus dibaca sebagai peringatan bahaya atas apa yang bisa terjadi pada bumi di masa depan.
"Ini bisa menjadi tanda awal menuju kepunahan manusia," ungkapnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya