Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

BEI Luncurkan Label Saham Hijau, Dorong Modal Masuk ke Perusahaan Rendah Karbon

Kompas.com, 31 Agustus 2026, 15:28 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com – Bursa Efek Indonesia (BEI) meluncurkan penetapan saham berbasis hijau atau IDX Green Equity Designation untuk memberikan identifikasi yang lebih jelas terhadap perusahaan tercatat yang berkontribusi pada dekarbonisasi dan pengembangan ekonomi hijau di Indonesia.

Peluncuran IDX Green Equity Designation dilakukan pada Jumat (28/8/2026). Inisiatif ini dirancang untuk menjembatani Taksonomi Keuangan Berkelanjutan Indonesia (TKBI) yang dikembangkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dengan akses perusahaan terhadap pendanaan di pasar modal.

Senior Manager of Indices and Environmental, Social, and Governance (ESG) Business Development BEI Rony Suniyanto Djojomartono mengatakan, penetapan label hijau dapat meningkatkan visibilitas emiten yang menjalankan aktivitas operasional rendah karbon di mata investor domestik maupun global.

Baca juga: Investasi Hijau Tumbuh, EBUS Berkelanjutan Capai Rp 85,15 Triliun

"Bursa melihat tren global di mana Green Designation menjadi sarana untuk meningkatkan visibilitas emiten yang aktivitas usahanya mendukung aspek ekonomi hijau, baik melalui taksonomi yang dikembangkan OJK maupun dalam proses transisi dekarbonisasi ke depan," ujar Rony dalam Seremoni Pembukaan Perdagangan dalam rangka Peluncuran dan Sosialisasi Penetapan Saham Berbasis Hijau BEI, Jumat (28/8/2026).

Menurut Rony, kebutuhan terhadap instrumen semacam ini tidak terlepas dari besarnya kebutuhan modal untuk mencapai target net zero emission (NZE).

Karena itu, BEI berupaya memperkuat ekosistem keuangan berkelanjutan melalui berbagai instrumen yang telah tersedia, seperti *Green Bond*, *Social Bond*, serta indeks berbasis ESG, termasuk ESG Leaders dan SRI-KEHATI.

Indonesia negara kedua di Asia

Indonesia menjadi negara kelima di dunia dan kedua di Asia setelah Malaysia yang menerapkan sistem label hijau di bursa saham.

Dalam penerapannya, BEI membagi *Green Equity Designation* ke dalam dua kategori, yakni Green Designation dan Green Transition Designation.

Pembagian tersebut dimaksudkan untuk membedakan perusahaan yang kegiatan usahanya sudah memenuhi kriteria ekonomi hijau dengan perusahaan yang masih berada dalam proses transisi menuju kegiatan usaha rendah karbon.

Kategori pertama adalah Green Designation. Label ini diberikan kepada emiten yang memiliki pendapatan lebih dari 50 persen dari aktivitas yang dikategorikan sebagai aktivitas hijau berdasarkan TKBI.

Rony menjelaskan, BEI menggunakan pendapatan sebagai salah satu indikator utama untuk melihat eksposur perusahaan terhadap aktivitas ekonomi yang dikategorikan hijau dalam taksonomi.

"Jadi, di taksonomi kan dia akan ada jenis aktivitas apa saja gitu ya, yang ada aktivitas hijau, ada aktivitas yang masuk ke kategori transisi nantinya. Nah, nanti bursa akan melihat visibilitasnya menggunakan pendapatan atau eksposur. Nanti bursa akan menggunakan pendapatan sebagai fokus utamanya," tutur Rony.

Selain komposisi pendapatan, emiten juga harus memenuhi prinsip Do No Significant Harm (DNSH).

Baca juga: IWGFF: Bank Tak Ikut Tren Investasi Hijau, Risiko Reputasi akan Tinggi

Prinsip tersebut memastikan aktivitas yang dikategorikan hijau tidak menimbulkan dampak signifikan terhadap aspek lingkungan lainnya, termasuk keanekaragaman hayati.

Kategori kedua adalah Green Transition Designation. Kategori ini ditujukan bagi perusahaan di sektor-sektor yang memiliki intensitas karbon tinggi, seperti energi, konstruksi, transportasi, dan manufaktur, tetapi sedang melakukan transformasi untuk mengurangi emisi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi 'Open Dumping' Belum Efektif
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi "Open Dumping" Belum Efektif
LSM/Figur
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
LSM/Figur
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
LSM/Figur
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
Pemerintah
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Swasta
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
LSM/Figur
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
Pemerintah
Thailand Kucurkan Investasi Rp 26,66 Triliun untuk Panel Surya Atap
Thailand Kucurkan Investasi Rp 26,66 Triliun untuk Panel Surya Atap
Pemerintah
Penegasan Batas Desa, Jadi Fondasi Cegah Perambahan Hutan dan Perlindungan Hak Masyarakat Adat
Penegasan Batas Desa, Jadi Fondasi Cegah Perambahan Hutan dan Perlindungan Hak Masyarakat Adat
Pemerintah
PBB Peringatkan El Nino Sangat Kuat, Diprediksi Bertahan hingga Februari 2027
PBB Peringatkan El Nino Sangat Kuat, Diprediksi Bertahan hingga Februari 2027
Pemerintah
OJK Siapkan Aturan Wajibkan TKBI, Aspek HAM Masuk Penilaian Keuangan Berkelanjutan
OJK Siapkan Aturan Wajibkan TKBI, Aspek HAM Masuk Penilaian Keuangan Berkelanjutan
Pemerintah
Emisi Kebakaran Indonesia Tertinggi di Dunia, 19,7 Juta Ton Sepekan
Emisi Kebakaran Indonesia Tertinggi di Dunia, 19,7 Juta Ton Sepekan
Pemerintah
Saat Ketan Hitam Sigi Disulap Jadi Skincare Tradisional...
Saat Ketan Hitam Sigi Disulap Jadi Skincare Tradisional...
LSM/Figur
258 Juta Anak di 87 Negara Terdampak Krisis Pendidikan, 74 Juta Tak Sekolah
258 Juta Anak di 87 Negara Terdampak Krisis Pendidikan, 74 Juta Tak Sekolah
Pemerintah
Bappenas Finalisasi Rencana Aksi Food Loss and Waste, Berharap Sistem Pangan Berdampak ke Krisis Iklim
Bappenas Finalisasi Rencana Aksi Food Loss and Waste, Berharap Sistem Pangan Berdampak ke Krisis Iklim
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau