Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mengubah Kebiasaan Makan Anak, dari Bekal di Sekolah hingga Meja Makan di Rumah

Kompas.com, 31 Agustus 2026, 21:38 WIB
Aningtias Jatmika,
Sri Noviyanti

Tim Redaksi

“Lama-kelamaan, hal itu bisa menjadi kebiasaan yang tidak disadari. (Ini) menjadi norma di sekolah,” katanya.

Perubahan kebiasaan tersebut juga tidak hanya bergantung pada edukasi. Lingkungan tempat anak belajar dan makan ikut menentukan pilihan yang tersedia bagi mereka.

Hal ini sejalan dengan pedoman WHO yang diterbitkan pada 2026. WHO menempatkan sekolah sebagai salah satu lingkungan penting untuk membentuk kebiasaan makan sehat pada anak, tidak hanya melalui edukasi, tetapi juga dengan menciptakan lingkungan yang mendukung pilihan makanan sehat.

Di Lampung Selatan, proses itu terlihat dalam kegiatan sehari-hari.

Tamara dan Debora rutin berkeliling ke 15 sekolah untuk me-monitor konsumsi telur, berkoordinasi dengan guru, serta memantau pelaksanaan Hari Sehat JAPFA.

Ketika anak mulai mengingatkan temannya

Tamara bercerita, upaya sederhana program tersebut terlihat dari interaksi antarsiswa. Di sejumlah sekolah, anak-anak penerima manfaat makan bersama.

Saat kegiatan berlangsung, mereka tidak hanya mendapat pengingat dari guru untuk menghabiskan makanan. Teman sebaya pun ikut saling mengingatkan.

“Nasinya dimakan, telurnya dihabisin,” ujar Tamara menirukan percakapan anak-anak ketika mereka saling mengingatkan.

Baca juga: Jejak 18 Tahun, Ketika Kebiasaan Sehat Menjadi Warisan bagi Generasi Indonesia

Ia juga menemukan seorang anak yang sebelumnya dikenal sulit makan. Orangtua anak tersebut bahkan pernah menyampaikan bahwa anaknya memang sulit makan di rumah.
Namun, ketika makan bersama teman-temannya di sekolah, anak itu justru menghabiskan nasi, sayur, lauk, dan buah.

Pengalaman itu belum bisa disebut sebagai hasil akhir program. Namun, bagi Tamara, momen tersebut menunjukkan bahwa lingkungan dan cara pendampingan dapat memengaruhi perilaku anak.

Sementara bagi Debora, perubahan juga mulai terlihat dari bekal.

Pada awal pendampingan, ia masih menemukan anak yang membawa nasi dengan mi dan terkadang ditambah minuman manis. Ada pula siswa yang hanya sedikit mengonsumsi makanan utama dan memilih lebih banyak jajan.

Kini, menurut pengamatan Debora, semakin banyak anak yang mulai membawa bekal berupa nasi dengan sumber protein, seperti telur. Tantangan berikutnya adalah sayuran karena sebagian anak masih sulit mengonsumsinya.

Namun, beberapa anak mulai mencoba.

“Kalau anaknya cuma suka sayur jagung, enggak apa-apa. Yang penting hal-hal kecil itu sudah ada perubahannya,” kata Debora.

Perlu dibawa pulang

Perubahan di sekolah tidak akan banyak berarti jika berhenti ketika anak pulang. Debora menilai, orangtua tetap menjadi pihak penting karena waktu anak di sekolah terbatas. Oleh karena itu, pesan mengenai kebiasaan sehat perlu dibuat sederhana agar mudah dibawa ke rumah.

Baca juga: Dosen Gizi Bagikan Tips Jaga Pola Makan Seimbang Saat Lebaran, Isi Piringku

Edukasi cuci tangan, misalnya, dilakukan melalui gerakan dan nyanyian. Dengan cara tersebut, anak diharapkan dapat mengingat kembali pesan yang diterima ketika berada di rumah.

Tamara dan Debora mengaku, komunikasi dengan orangtua juga menjadi bagian dari pekerjaan fasilitator.

Orangtua juga dilibatkan dalam pemantauan ketika anak mengonsumsi telur di rumah. Jika makanan yang dikonsumsi belum beragam, fasilitator dapat memberikan edukasi mengenai komposisi makanan variatif dengan gizi yang tetap seimbang.

Menurut Ria, konsistensi antara rumah dan sekolah menjadi kunci.

“Sekolah dapat mengingatkan dan menyediakan sarana, sedangkan orangtua memastikan kebiasaan tersebut diterapkan di rumah. Sekolah, misalnya, perlu menyediakan air mengalir, sabun, serta toilet yang bersih. Nah, kebiasaan ini (yang perlu) terus dipupuk di rumah,” jelas Ria.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
OJK : Infrastruktur Pasar Karbon RI Paling Kompleks di Dunia, 2026 - 2027 Jadi Fase Krusial
Pemerintah
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Kisah Suhendra, Bangkit dari Bangkrut Usai Jadi Rantai Pasok IWIP
Swasta
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Studi: Anak-Anak Masyarakat Adat Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim
Pemerintah
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
Blackout Iberia Jadi Pelajaran, Indonesia Perlu Perkuat Jaringan Listrik
LSM/Figur
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Raksasa Bisnis Dunia Desak Reformasi Keuangan Demi Hentikan Kerusakan Alam
Pemerintah
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
Momentum Kesepakatan BRICS bagi Ambisi 100 GW PLTS Indonesia
LSM/Figur
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Dari Perca Tenun NTT Jadi Produk Bernilai Tinggi lewat Teknik Sashiko Jepang
Pemerintah
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Badan Baru: Di Mana Ruang Kelola Masyarakat Gambut?
Pemerintah
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
Dari Biopori hingga Maggot, Warga Surabaya Bangun Ekosistem Kampung Ramah Lingkungan
LSM/Figur
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
LSM/Figur
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
LSM/Figur
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
LSM/Figur
Agrinas Palma-IPB University Kembangkan Bioetanol Singkong, Sorgum, dan Jagung Dukung E20
Agrinas Palma-IPB University Kembangkan Bioetanol Singkong, Sorgum, dan Jagung Dukung E20
BUMN
Rasa Makanan Tentukan Keberhasilan Program Makanan Sekolah Ramah Lingkungan
Rasa Makanan Tentukan Keberhasilan Program Makanan Sekolah Ramah Lingkungan
Pemerintah
Dari Bambu hingga PLTMH, Peserta Perkemahan Pramuka Santri Nusantara VI Belajar Jaga Lingkungan di Kawasan Ekowisata Boon Pring
Dari Bambu hingga PLTMH, Peserta Perkemahan Pramuka Santri Nusantara VI Belajar Jaga Lingkungan di Kawasan Ekowisata Boon Pring
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau