“Lama-kelamaan, hal itu bisa menjadi kebiasaan yang tidak disadari. (Ini) menjadi norma di sekolah,” katanya.
Perubahan kebiasaan tersebut juga tidak hanya bergantung pada edukasi. Lingkungan tempat anak belajar dan makan ikut menentukan pilihan yang tersedia bagi mereka.
Hal ini sejalan dengan pedoman WHO yang diterbitkan pada 2026. WHO menempatkan sekolah sebagai salah satu lingkungan penting untuk membentuk kebiasaan makan sehat pada anak, tidak hanya melalui edukasi, tetapi juga dengan menciptakan lingkungan yang mendukung pilihan makanan sehat.
Di Lampung Selatan, proses itu terlihat dalam kegiatan sehari-hari.
Tamara dan Debora rutin berkeliling ke 15 sekolah untuk me-monitor konsumsi telur, berkoordinasi dengan guru, serta memantau pelaksanaan Hari Sehat JAPFA.
Tamara bercerita, upaya sederhana program tersebut terlihat dari interaksi antarsiswa. Di sejumlah sekolah, anak-anak penerima manfaat makan bersama.
Saat kegiatan berlangsung, mereka tidak hanya mendapat pengingat dari guru untuk menghabiskan makanan. Teman sebaya pun ikut saling mengingatkan.
“Nasinya dimakan, telurnya dihabisin,” ujar Tamara menirukan percakapan anak-anak ketika mereka saling mengingatkan.
Baca juga: Jejak 18 Tahun, Ketika Kebiasaan Sehat Menjadi Warisan bagi Generasi Indonesia
Ia juga menemukan seorang anak yang sebelumnya dikenal sulit makan. Orangtua anak tersebut bahkan pernah menyampaikan bahwa anaknya memang sulit makan di rumah.
Namun, ketika makan bersama teman-temannya di sekolah, anak itu justru menghabiskan nasi, sayur, lauk, dan buah.
Pengalaman itu belum bisa disebut sebagai hasil akhir program. Namun, bagi Tamara, momen tersebut menunjukkan bahwa lingkungan dan cara pendampingan dapat memengaruhi perilaku anak.
Sementara bagi Debora, perubahan juga mulai terlihat dari bekal.
Pada awal pendampingan, ia masih menemukan anak yang membawa nasi dengan mi dan terkadang ditambah minuman manis. Ada pula siswa yang hanya sedikit mengonsumsi makanan utama dan memilih lebih banyak jajan.
Kini, menurut pengamatan Debora, semakin banyak anak yang mulai membawa bekal berupa nasi dengan sumber protein, seperti telur. Tantangan berikutnya adalah sayuran karena sebagian anak masih sulit mengonsumsinya.
Namun, beberapa anak mulai mencoba.
“Kalau anaknya cuma suka sayur jagung, enggak apa-apa. Yang penting hal-hal kecil itu sudah ada perubahannya,” kata Debora.
Perubahan di sekolah tidak akan banyak berarti jika berhenti ketika anak pulang. Debora menilai, orangtua tetap menjadi pihak penting karena waktu anak di sekolah terbatas. Oleh karena itu, pesan mengenai kebiasaan sehat perlu dibuat sederhana agar mudah dibawa ke rumah.
Baca juga: Dosen Gizi Bagikan Tips Jaga Pola Makan Seimbang Saat Lebaran, Isi Piringku
Edukasi cuci tangan, misalnya, dilakukan melalui gerakan dan nyanyian. Dengan cara tersebut, anak diharapkan dapat mengingat kembali pesan yang diterima ketika berada di rumah.
Tamara dan Debora mengaku, komunikasi dengan orangtua juga menjadi bagian dari pekerjaan fasilitator.
Orangtua juga dilibatkan dalam pemantauan ketika anak mengonsumsi telur di rumah. Jika makanan yang dikonsumsi belum beragam, fasilitator dapat memberikan edukasi mengenai komposisi makanan variatif dengan gizi yang tetap seimbang.
Menurut Ria, konsistensi antara rumah dan sekolah menjadi kunci.
“Sekolah dapat mengingatkan dan menyediakan sarana, sedangkan orangtua memastikan kebiasaan tersebut diterapkan di rumah. Sekolah, misalnya, perlu menyediakan air mengalir, sabun, serta toilet yang bersih. Nah, kebiasaan ini (yang perlu) terus dipupuk di rumah,” jelas Ria.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya