Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
Yang semakin jelas adalah bahwa laut yang lebih hangat menyediakan lingkungan yang memungkinkan siklon tertentu membawa hujan lebih lebat dan mencapai intensitas lebih besar.
Kita bahkan baru saja mendapatkan contoh yang sangat dekat. WMO mencatat Siklon Senyar pada 2025 sebagai sistem pertama yang diketahui mencapai intensitas siklon tropis di Selat Malaka. Peristiwa tersebut berdampak terhadap lebih dari 10 juta orang di Indonesia dan Malaysia.
Jika di laut pemanasan muncul melalui panas laut dan energi bagi atmosfer, di pegunungan tinggi wajahnya berbeda.
Di Himalaya, yang berubah adalah dunia es. Gletser di kawasan pegunungan tinggi Asia terus mengalami penyusutan.
Suhu yang meningkat bukan hanya mempercepat pencairan es, tetapi juga dapat mengubah kestabilan lingkungan pegunungan.
Permafrost—tanah dan batuan yang membeku dalam waktu lama—dapat mencair. Es yang berada di antara retakan batuan pun berkurang. Lereng yang selama ini relatif stabil dapat berubah menjadi lebih rapuh.
Para ilmuwan yang menganalisis kejadian Nepal memperingatkan bahwa perubahan iklim menciptakan kondisi yang dapat membuat batuan dan es di pegunungan tinggi semakin tidak stabil.
Namun, mereka juga berhati-hati: belum cukup bukti untuk mengatakan bahwa pemanasan global secara langsung menyebabkan runtuhnya gletser Nepal pada 26 Agustus tersebut.
Kehati-hatian ini penting. Tidak setiap banjir, badai, longsor, kebakaran hutan, atau runtuhan gletser dapat begitu saja diberi label “disebabkan perubahan iklim”.
Setiap bencana memiliki mekanisme dan pemicunya sendiri. Namun, erubahan iklim sedang mengubah kondisi dasar tempat berbagai proses alam itu berlangsung.
Ibarat sebuah mesin besar, kita sedang menaikkan suhu operasinya. Setiap komponen kemudian memberikan respons yang berbeda.
Atmosfer yang lebih hangat dapat meningkatkan potensi gelombang panas dan hujan ekstrem. Laut yang lebih hangat menyimpan energi lebih besar dan mengalami gelombang panas laut.
Es daratan yang mencair ikut menaikkan muka laut. Gletser mundur. Permafrost mencair. Siklus air berubah.
Pada satu wilayah muncul hujan yang luar biasa, sementara wilayah lainnya menghadapi kekeringan berkepanjangan.
Itulah mengapa pemanasan global tidak mempunyai satu wajah. Kadang ia datang sebagai udara yang menyengat. Kadang sebagai laut yang luar biasa hangat.
Kadang sebagai hujan yang turun jauh lebih deras. Kadang sebagai badai yang memperoleh energi dari perairan hangat.
Dan di tempat setinggi Himalaya, perubahan itu dapat hadir dalam bentuk yang sebelumnya jarang kita bayangkan: es dan batu yang kehilangan kestabilannya.
Bencana Nepal akhirnya mengingatkan kita pada sesuatu yang mendasar. Ketika suhu rata-rata Bumi naik, yang berubah bukan sekadar angka pada termometer. Yang sedang berubah adalah cara sistem Bumi bekerja.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya